Home Pendidikan PP Tunas dan Pesan Menag: Jangan Lihat Iblisnya, Cari Malaikatnya

PP Tunas dan Pesan Menag: Jangan Lihat Iblisnya, Cari Malaikatnya

0
Kolaburasi enam menteri cetuskan kesepahaman tentang perlindungan anak di era digital melalui PP Tunas di di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Kamis (31/7/2025) - foto doc: istimewa

Jakarta-(satujurnal.com)
Enam menteri menandatangani nota kesepahaman Rencana Aksi Implementasi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak, yang dikenal dengan nama PP Tunas. Penandatanganan dilakukan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Kamis (31/7/2025).

Dilansir dari laman resmi Kemenag RI, keenam menteri
yang terlibat adalah Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji, serta Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi.

Kesepakatan ini menjadi simbol kolaborasi lintas kementerian untuk menghadapi tantangan besar dalam perlindungan anak-anak di dunia digital yang semakin kompleks.

“Handphone ini bisa ada iblisnya, bisa ada malaikatnya. Gunakan untuk kebaikan, belajar, dan cari ilmu. Jangan menengok iblisnya ya, lihat malaikatnya,” pesan Menag Nasaruddin kepada ratusan pelajar madrasah dan sekolah umum yang hadir.

PP Tunas hadir sebagai respons atas beragam risiko yang mengintai anak-anak saat berselancar di dunia digital, mulai dari konten yang tidak sesuai usia, adiksi digital, eksploitasi data pribadi, hingga dampak psikologis. Dalam pidatonya, Menag menekankan pentingnya nilai-nilai agama untuk membimbing anak-anak menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.

Ia juga memberikan kiat sederhana agar anak-anak terbiasa memfilter konten secara sadar. “Baca Bismillah dulu sebelum buka handphone. Kalau yang muncul sisi iblisnya, cepat pindah ke malaikatnya,” ujarnya, disambut senyum para siswa.

Menurutnya, teknologi bukanlah musuh, melainkan alat. Baik buruknya tergantung siapa yang menggunakannya. “Di handphone itu ada ngaji, azan, belajar. Itu bagian dari malaikatnya,” tambahnya.

Menag Nasaruddin juga menekankan pentingnya kolaborasi lebih luas, tidak hanya antar kementerian, tapi juga dengan lembaga pendidikan, tokoh agama, dan keluarga. Semua pihak punya peran dalam membimbing anak menghadapi dunia digital dengan selamat.

“Semoga langkah ini membawa berkah. Ini bukan hanya soal regulasi, tapi juga bimbingan hati dan akhlak,” pungkasnya.(one/kmg)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version