
Surabaya-(satujurnal.com)
Memberi nasihat kepada anak saat emosi sedang memuncak justru bisa berakhir sia-sia. Anak tidak menyerap pesan, bahkan berpotensi melawan, menghindar, atau diam membeku. Peringatan ini disampaikan dokter dan pakar neurosains dr. Aisah Dahlan CM.NLP., CCHt., CI. dalam acara Family Role in Modern Parenting, From Home to a Brighter Future di SMP-SMA SAIM Surabaya East 2, Jalan Keputih Tegal, Surabaya, diikuti ratusan wali murid, guru, dan undangan, Minggu (25/1/2026).
Acara parenting tersebut juga dihadiri Wakil Wali Kota Surabaya Ir. H. Armuji, M.H.
Sesi ini menyoroti pentingnya kondisi emosional anak dalam proses belajar dan pembentukan karakter di tengah pola asuh modern yang serba cepat dan penuh tekanan.
Dalam pemaparannya, Aisah Dahlan menjelaskan bahwa waktu penyampaian nasihat sangat menentukan efektivitasnya. Menurutnya, orang tua sebaiknya menunggu hingga kondisi “otak belakang” anak atau reptile brain berada dalam keadaan rileks.
“Kalau otak belakang sedang tegang, anak akan merespons dengan tiga cara yang sama-sama tidak menguntungkan: melawan atau ngeyel, lari atau mengabaikan, atau diam membatu, freeze,” ujarnya.
Pada kondisi tersebut, lanjut Aisah, nasihat tidak akan sampai ke otak depan (prefrontal cortex), yaitu bagian otak yang berfungsi untuk pengambilan keputusan, pengendalian diri, dan penyimpanan nilai.
“Kalaupun anak menuruti, itu biasanya terpaksa dan hanya bertahan sekitar 24 jam. Besoknya lupa lagi,” katanya.
Ia menegaskan, ilmu dan nasihat baru dapat tersimpan dengan baik ketika anak berada dalam keadaan tenang dan merasa aman.
“Otak depan, atau dalam istilah agama disebut akal, berperan penting dalam berpikir, memahami nilai, dan membentuk karakter anak,” jelasnya.
Selain soal cara menasihati, Aisah juga menyinggung pekerjaan rumah (PR) sebagai salah satu sumber stres terbesar bagi anak dan orang tua. Tekanan saat mengerjakan PR, menurutnya, membuat proses belajar menjadi tidak optimal karena informasi sulit tersimpan di otak depan.
Dalam konteks itu, ia mengapresiasi kebijakan sekolah SAIM yang menerapkan pembelajaran tanpa PR. Lingkungan belajar yang minim tekanan dinilai lebih kondusif bagi perkembangan emosi dan kesiapan anak menerima pelajaran.
“Kalau anak merasa aman dan tenang, proses belajarnya jauh lebih efektif dan berkelanjutan,” tegasnya.
Aisah yang juga dikenal sebagai konsultan penanggulangan penyalahgunaan narkoba menambahkan bahwa sistem pendidikan ideal seharusnya sejalan dengan cara kerja otak manusia sebagai ciptaan Tuhan, bukan justru menambah beban psikologis anak.
Sementara itu, Direktur SAIM Aziz Badiansyah, M.MPd., mengatakan kegiatan parenting ini merupakan bagian dari komitmen sekolah dalam membangun ekosistem pendidikan yang lebih manusiawi.
“Kami tidak hanya mengejar akademik, tetapi juga kesehatan emosional dan psikologis anak. Itu fondasi penting untuk masa depan mereka,” ujarnya seusai acara.(one/sst)