
Jombang-(satujurnal.com)
Asap putih mengepul dari wajan raksasa di Dusun Bapang, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, menandai dimulainya aktivitas harian para perajin tahu goreng. Namun, di balik kesibukan itu, wajah-wajah pengusaha kecil mulai tampak murung. Lonjakan harga minyak goreng yang tak kunjung mereda sejak jelang Idul Fitri memukul telak industri rumahan ini. Nuryatin, salah satu pemilik rumah produksi, terpaksa menaikkan harga jual produknya setelah biaya produksi membengkak signifikan, sebuah langkah berat demi menghindari kebangkrutan di tengah lesunya daya beli masyarakat.
Setiap hari, dapur produksi Nuryatin menyuplai ribuan potong tahu goreng ke berbagai pasar di Jawa Timur, mulai dari Surabaya hingga Gresik. Aktivitas ini melibatkan puluhan kali proses penggorengan dengan konsumsi minyak yang masif. “Untuk setiap satu kali proses masak, kami membutuhkan sedikitnya tujuh kilogram minyak goreng. Dalam sehari, rumah produksi ini bisa melakukan hingga enam puluh kali proses penggorengan,” ungkapnya menggambarkan skala operasional yang kini terbebani oleh fluktuasi harga komoditas pokok tersebut.
Dampak kenaikan harga terasa langsung pada neraca keuangan usaha. Sebelumnya, modal untuk satu kali proses masak hanya berkisar Rp160.000. Kini, angka tersebut melambung menjadi Rp185.000. Kenaikan Rp25.000 per siklus ini, jika diakumulasikan dengan 60 kali penggorengan harian, menciptakan defisit anggaran yang menggerus margin keuntungan tipis para pengrajin. Khawatir kehilangan kepercayaan pelanggan jika mengurangi ukuran atau kualitas tahu, Nuryatin akhirnya memutuskan untuk meneruskan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen.
“Otomatis berpengaruh karena bahan utamanya menggoreng pakai minyak. Kami tidak mengurangi ukuran, tapi terpaksa menaikkan harga. Sebelumnya per masak itu 160 ribu, kini jadi 185 ribu. Ini sejak menjelang hari raya sampai sekarang harga minyak naik terus,” tutur Nuryatin dengan nada prihatin sambil mengemas tahu goreng yang baru saja matang. Keputusan ini diambil sebagai jalan terakhir agar roda usaha tetap berputar dan para pekerja di sentra industri tersebut tidak kehilangan sumber pendapatan.
Kini, harapan terbesar para pelaku UMKM pangan lokal di Desa Sumbermulyo tertuju pada intervensi pemerintah. Mereka mendesak adanya stabilisasi harga minyak goreng di pasaran secepatnya. Tanpa kepastian tersebut, ancaman gulung tikar bukan lagi sekadar isu, melainkan realitas yang menghantui setiap dapur produksi. Bagi Nuryatin dan rekan-rekannya, kelangsungan usaha ini bukan hanya soal profit, melainkan soal menjaga hajat hidup orang banyak yang bergantung pada ekosistem industri tahu di wilayah Jombang ini.(safrial)