Home Regional Kabupaten Jombang Musim Haji Dongkrak Permintaan Tasbih Gudo hingga 80 Persen

Musim Haji Dongkrak Permintaan Tasbih Gudo hingga 80 Persen

0
Seorang pengunjung memilih berbagai warna tasbih buatan tangan di toko souvenir Desa Plumbon Gambang, Kecamatan Gudo, Jombang, di tengah lonjakan permintaan jelang musim pemberangkatan jamaah haji tahun ini..dok:SJ/Safrial

Jombang-(satujurnal.com)
Lonjakan permintaan tasbih menjelang musim keberangkatan jamaah haji membuat perajin manik-manik di Desa Plumbon Gambang, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, kewalahan. Pesanan meningkat hingga 80 persen dibanding hari biasa, dipicu tingginya minat calon jamaah yang menjadikan tasbih sebagai oleh-oleh.

Permintaan datang dari berbagai daerah, dengan rata-rata satu jamaah memesan puluhan hingga ratusan tasbih. Kondisi ini mendorong perajin meningkatkan kapasitas produksi secara signifikan, dari ratusan menjadi ribuan tasbih setiap hari.

Di bengkel kerja milik Nur Wakkid, suasana produksi tampak jauh lebih sibuk. Para pekerja terlihat terus merangkai manik-manik tanpa jeda panjang demi mengejar target pesanan yang terus bertambah.

“Kalau musim haji selalu ada peningkatan, paling tidak 70 sampai 80 persen. Satu orang jamaah minimal bisa memesan 50 hingga 100 buah untuk oleh-oleh. Keunikan kita ada pada proses hand-made dan bahan limbah kaca,” ujar Nur Wakkid.

Keunggulan tasbih produksi Gudo terletak pada bahan baku limbah kaca yang diolah kembali menjadi manik-manik berwarna. Seluruh proses dilakukan secara manual, mulai dari peleburan hingga perangkaiannya, sehingga menghasilkan produk dengan karakter unik di setiap butirnya.

Selain faktor keunikan, harga yang terjangkau turut menarik minat pembeli. Tasbih dijual mulai Rp7.000 per buah hingga ratusan ribu rupiah untuk desain premium dengan tingkat kerumitan tinggi.

Salah satu pembeli, Tantri Darmawati, mengaku sengaja datang langsung ke lokasi untuk mendapatkan tasbih khas tersebut. “Saya cari aksesori untuk oleh-oleh keluarga karena bentuknya unik dan beda dari yang lain,” ungkapnya saat memilih warna-warna tasbih yang tergantung rapi di etalase toko.

,

Tak hanya memenuhi pasar domestik, kerajinan manik-manik dari Desa Plumbon Gambang juga telah menembus pasar internasional seperti Malaysia dan Singapuramembuktikan bahwa produk berbasis pemanfaatan limbah mampu bersaing di pasar global.

Selain tasbih, para perajin di desa ini juga memproduksi aneka souvenir lain seperti gelang dan kalung dengan teknik yang sama.

Keberhasilan menembus pasar ekspor menjadi bukti nyata bahwa inovasi lokal memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut.

Bagi warga Desa Plumbon Gambang, musim haji bukan semata momen spiritual bagi umat Islam, melainkan juga momentum ekonomi yang membawa berkah melimpah bagi keberlangsungan usaha kecil menengah di wilayah mereka. (rial)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version