
Jombang-(satujurnal.com)
Di jantung Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Ndalem Kasepuhan KH Wahab Chasbullah menyimpan suasana yang berbeda. Rumah tua ini tampak teduh, dengan deretan kursi berukir memenuhi ruang tamu dan foto-foto lama menghiasi dindingnya.
Di ruangan itu, jejak masa lalu seolah masih terpelihara. Foto KH Wahab Chasbullah yang terpajang di dinding menjadi pengingat tentang sosok ulama yang pernah mengabdikan hidupnya untuk agama, pesantren, Nahdlatul Ulama (NU), dan bangsa.
Kini, rumah tersebut bersiap menjadi bagian penting dari sejarah baru NU. Ndhalem Kasepuhan akan menjadi lokasi sidang Ahlul Halli Wal Aqli (Ahwa) Muktamar ke-35 NU, tempat sembilan kiai sepuh bermusyawarah menentukan arah kepemimpinan jam’iyah.
Lokasinya berada di pusat kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, berdampingan dengan Masjid Jami’ Bahrul Ulum. Letak tersebut membuat rumah bersejarah ini berada di tengah denyut kehidupan pesantren yang selama puluhan tahun menjadi salah satu pusat pendidikan Islam dan perjuangan NU.
Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas sekaligus Ketua Panitia Lokal Muktamar ke-35 NU, KH Abdurrozaq atau Gus Rozaq, mengatakan pemilihan Ndhalem Kasepuhan sebagai lokasi sidang Ahwa memiliki pertimbangan historis dan spiritual.
“Kami ingin memunculkan kembali semangat dan keteladanan Mbah Wahab,” tutur Gus Rozaq, sapaan akrab Pengasuh Ribath Al Muhajirin 1 Bahrul Ulum, Minggu (23/8/2026).
Menurutnya, sosok KH Wahab Chasbullah memiliki keteladanan yang penting untuk dihadirkan kembali di tengah momentum Muktamar ke-35 NU. Perjuangannya yang panjang diharapkan menjadi energi moral bagi para kiai yang akan bermusyawarah.
“Beliau adalah sosok pahlawan nasional dan penggerak utama NU yang dikenal pantang menyerah, tiada kata uzur untuk berjuang membela agama dan bangsa,” ujarnya.
Karena itu, ketika sembilan kiai sepuh nantinya duduk dalam satu ruangan untuk bermusyawarah, mereka akan berada di tempat yang memiliki hubungan langsung dengan sejarah perjuangan salah satu tokoh penting NU.
“Kami harapkan dengan ditempatkannya Ahwa di Ndhalem Mbah Wahab, spirit keteladanan perjuangan beliau betul-betul meresap,” kata Gus Rozaq.
Suasana ruangan yang terlihat dalam foto-foto lama di dinding, lemari kayu yang menyimpan sejumlah benda kenangan, hingga kursi-kursi berukir yang tertata rapi menghadirkan atmosfer rumah keluarga yang tetap hidup.
Kesederhanaan ruang tersebut berpadu dengan nilai sejarah yang kuat. Di sinilah panitia ingin menciptakan suasana musyawarah yang teduh, jauh dari hiruk-pikuk arena muktamar yang dipenuhi aktivitas ribuan peserta.
“Nilai kesakralannya jauh lebih terasa, membawa aura keteladanan dari sang pahlawan penggerak NU,” tambah Gus Rozaq.
Meski membawa nilai historis yang kuat, aspek kenyamanan para kiai sepuh tetap menjadi perhatian panitia lokal. Ruangan telah ditata dan dilengkapi fasilitas pendukung agar proses musyawarah berlangsung dengan tenang.
“Faktor kenyamanan menjadi prioritas kami. Tempatnya sangat steril dan berada tepat di tengah-tengah, di jantung Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas,” jelasnya.
Pendingin udara serta fasilitas pendukung lainnya telah disiapkan untuk sembilan kiai khos anggota Ahwa. Penataan ruangan juga dilakukan agar para kiai dapat bermusyawarah dalam suasana yang sejuk dan khidmat.
Di luar rumah, persiapan Muktamar ke-35 NU terus bergerak. Panitia pusat dan lokal menyelesaikan berbagai kebutuhan teknis menjelang perhelatan akbar yang akan mempertemukan para ulama dan utusan NU dari berbagai daerah.
Sementara di dalam Ndhalem Kasepuhan, suasananya jauh lebih hening.
Kursi-kursi telah tertata. Foto-foto lama tetap menggantung di dinding. Jejak Mbah Wahab masih terasa dalam setiap sudut rumah.
Sebentar lagi, ruang keluarga yang menyimpan kisah masa lalu itu akan menjadi saksi sebuah keputusan penting bagi masa depan NU.
Sejarah dan masa depan pun dipertemukan di satu ruangan: di rumah Mbah Wahab, tempat sembilan kiai sepuh akan duduk bersama, bermusyawarah, dan menitipkan arah perjalanan Nahdlatul Ulama.(rial)