Home Serba-serbi Pompa Irigasi Kementan Beroperasi, Puluhan Sumur Warga di Jombang Mendadak Kering

Pompa Irigasi Kementan Beroperasi, Puluhan Sumur Warga di Jombang Mendadak Kering

0
Seorang warga Dusun Guwo, Desa Latsari, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, berusaha mengeruk lumpur dan memperdalam sumur yang mendadak kering serta menyusut pasca pengoperasian sumur pompa irigasi. dok: SJ/Safrial

Jombang-(satujurnal.com)
Puluhan sumur milik warga Dusun Guwo, Desa Latsari, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang mendadak kering dan tak lagi mengeluarkan air bersih sejak sumur pompa irigasi bantuan Kementerian Pertanian (Kementan) mulai diaktifkan sekitar dua pekan terakhir.

Dampak penyedotan air oleh proyek irigasi tersebut memicu krisis air bersih bagi sekitar 20 hingga 30 kepala keluarga di kawasan permukiman tersebut.

Kondisi ini mulai dirasakan warga tak lama setelah proyek konstruksi irigasi perpompaan senilai Rp153 juta dari APBN 2025 itu beroperasi resmi. Debit air sumur yang telah dimanfaatkan warga selama puluhan tahun menyusut seketika setiap kali mesin diesel penyedot irigasi dihidupkan.

Persoalan ini bermula saat proyek sumur pompa dangkal berkedalaman di bawah 100 meter yang dibangun sejak 2025 mulai dinyalakan sekitar pertengahan September 2026.

Sejak saat itu, warga melihat pola penyusutan air yang sangat ekstrem pada sumur-sumur permukiman. Saat mesin pompa irigasi beroperasi menyedot air untuk lahan pertanian, sumur warga langsung mengering atau hanya menyisakan lumpur. Begitu mesin dihentikan, air sumur warga baru terisi kembali secara perlahan setelah menunggu berjam-jam hingga dini hari.

Dampak sosial dari peristiwa ini kian memberatkan warga. Untuk memenuhi kebutuhan harian, beberapa warga yang memiliki tabungan terpaksa merogoh kocek pribadi hingga Rp 3 juta per titik demi memperdalam sumur.

Warga sempat melakukan mediasi di tingkat desa dengan kesepakatan pembatasan jam operasional pompa dari pagi hingga siang hari. Namun, langkah tersebut dinilai belum menjadi solusi konkret karena warga tetap kesulitan mengakses air bersih pada siang hingga malam hari.

Kasus ini pun telah dilaporkan warga ke Pemerintah Kabupaten Jombang, Inspektorat, hingga Dinas Lingkungan Hidup.

Salah seorang warga Dusun Guwo, Dayu (28), menuturkan dampak langsung yang dirasakan masyarakat di lingkungannya sejak proyek mulai dinyalakan.

’’Dan semenjak diaktifkan itu langsung dampaknya kami rasakan, sumur-sumur kami di permukiman jadi kering,’’ terangnya, Selasa (6/10/2026).

Dayu menambahkan, kondisi penyusutan air di beberapa RT terjadi bervariasi namun sama-sama menyulitkan.

’’Ada yang muncul air tapi sangat sedikit, ada yang menyisakan lumpur saja, ada yang tidak nyumber lagi,’’ ungkapnya.

Ia juga membeberkan besarnya beban biaya yang harus ditanggung sebagian warga untuk mengatasi krisis air tersebut.

’’Banyak yang terdampak, puluhan sumur. Buat yang punya uang akhirnya harus mendalamkan sumur dengan biaya sendiri yang bisa sampai Rp 3 juta satu titik,’’ terangnya.

Keluhan senada disampaikan Sekar, warga RT 7 RW 2 Dusun Guwo, yang menilai hasil mediasi tingkat desa belum efektif menyelesaikannya.

”Sudah sempat juga mengeluhkan ke desa, dan sudah dimediation, tapi hasilnya tidak maksimal,’’ tandasnya.

Sekar menceritakan pola pengeringan sumur yang terjadi seiring jadwal operasional mesin penyedot.

’’Jadi ada jam pagi sampai siang, nanti setelah itu berhenti, nah itu justru memperlihatkan dampak aslinya,’’ beber ia.

Menurut Sekar, jeda waktu pengisian ulang sumur warga memakan waktu yang sangat lama.

’’Itupun harus menunggu berjam-jam dulu, jadi kebutuhan air bersih kami juga tetap sulit,’’ imbuhnya.

Sementara itu, Unjung, warga RT 6 RW 2, menyoroti jam operasional yang mengganggu waktu istirahat warga.

’’Kadang-kadang jam 02.00–03.00 itu baru penuh sumurnya, bisa dipakai, ini kan mengganggu sekali,’’ lontarnya.

Warga berharap aduan yang disampaikan ke instansi terkait segera membuahkan jalan keluar.

’’Terakhir sudah ke Inspektorat dan DLH juga, kami berharap ada solusi, bagaimana sumur warga tetap bisa ada airnya,’’ cetus Unjung.

Menanggapi gejolak warga tersebut, Kepala Dinas Pertanian Jombang Much Rony membenarkan adanya laporan dan keluhan dari lapangan.

’’Jadi kami sudah dengar keluhannya, teman-teman di lapangan juga sudah mengumpulkan data dan membuat laporan,’’ lontarnya.

Rony menegaskan bahwa proyek tersebut merupakan program bantuan pembuatan sumur dangkal.

’’Jadi proyek itu, memang pembuatan sumur dangkal ya, seperti sumur dangkal lainnya, kedalamannya ya di bawah 100 meter memang,’’ katanya.

Terkait dugaan dampak penyedotan pompa irigasi terhadap sumur warga, pihak dinas akan melakukan kajian dan siap mengambil langkah tegas.

’’Yang jelas dari semua proyek serupa, ini yang pertama kejadian begini. Kami akan cek dulu nanti sebelum melangkah. Kalau memang berakibat ke warga ya dihentikan saja pompanya,’’ pungkas Rony.(rial)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version