Home Regional Kabupaten Jombang Dari Petani Jadi Juragan Kerupuk Goreng Pasir, Faisol Kembangkan Usaha Bermodal Pinjaman...

Dari Petani Jadi Juragan Kerupuk Goreng Pasir, Faisol Kembangkan Usaha Bermodal Pinjaman BRI Rp 1 Juta

0
Mohammad Faisol (64), pengusaha kerupuk goreng pasir asal Desa Badang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, menunjukkan produk kerupuk hasil usahanya. Dukungan pembiayaan BRI menjadi salah satu faktor yang membantu pengembangan usahanya. dok: SJ/Safrial

Jombang-(satujurnal.com)
Bermodal pinjaman Rp1 juta pada 2005, Mohammad Faisol (64) perlahan mengubah jalan hidupnya. Petani asal Desa Badang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, itu kini mampu mengembangkan usaha kerupuk goreng pasir dengan kapasitas produksi mencapai 4 hingga 5 kuintal tepung tapioka per hari.

Perjalanan Faisol menjadi pengusaha tidak berlangsung instan. Ketidakpastian hasil panen selama bertahun-tahun membuatnya berpikir untuk mencari sumber penghasilan lain. Dari kegelisahan itulah, ia memberanikan diri merintis usaha kerupuk goreng pasir yang kini berkembang menjadi salah satu usaha produktif di desanya.

Pada 2005, Faisol mengajukan pinjaman modal Rp1 juta ke Bank Rakyat Indonesia (BRI). Dengan modal terbatas tersebut, ia mulai memproduksi kerupuk goreng pasir menggunakan sekitar 1 kuintal tepung tapioka per hari.

“Waktu itu, saya hanya punya tekad. Tidak tahu ke mana usaha ini akan membawa, tapi saya harus mencoba,” kenang Faisol.

Keputusan itu menjadi titik awal perubahan hidupnya. Usaha yang semula dijalankan dengan kapasitas terbatas perlahan berkembang seiring meningkatnya produksi dan jangkauan pemasaran.

Berawal dari 1 Kuintal, Kini Produksi 5 Kuintal Sehari

Lima tahun setelah memulai usaha, Faisol kembali mengajukan pinjaman untuk membeli mesin produksi. Langkah tersebut diambil agar proses pembuatan kerupuk lebih efisien sekaligus meningkatkan kapasitas produksi.

Upaya itu membuahkan hasil. Kini, Faisol mampu mengolah sekitar 4 hingga 5 kuintal tepung tapioka setiap hari untuk memenuhi permintaan pasar.

Kerupuk goreng pasir produksinya pun tak lagi hanya beredar di sekitar Kabupaten Jombang. Jangkauan pemasaran telah meluas ke berbagai daerah, mulai dari sejumlah wilayah di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jakarta, Bandung, hingga Sorong, Papua.

Perkembangan tersebut turut mengukuhkan posisi Desa Badang sebagai salah satu sentra kerupuk goreng pasir di Kabupaten Jombang. Tercatat, terdapat 17 pengusaha aktif yang menjalankan usaha sejenis dan menjadikan industri rumahan ini sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat setempat.

Di tengah persaingan usaha, perjalanan Faisol memperlihatkan bagaimana keberanian mengambil peluang, disertai ketekunan mengembangkan produksi, dapat membuka jalan menuju pertumbuhan usaha yang lebih besar.

Setia Menjadi Nasabah BRI, Limit Pinjaman Tembus Rp 470 Juta

Di balik perkembangan usahanya, Faisol menyebut dukungan perbankan menjadi salah satu faktor penting dalam perjalanan bisnisnya. Sejak pertama kali meminjam modal pada 2005, ia terus menjalin hubungan sebagai nasabah BRI untuk mendukung kebutuhan pengembangan usaha.

Menurut Faisol, kemudahan proses pengajuan dan pelayanan yang diterimanya menjadi alasan untuk tetap menggunakan layanan perbankan tersebut.

“Saya senang menjadi nasabah BRI karena prosesnya mudah, pelayanannya sangat baik, dan mereka selalu mendukung pengembangan usaha saya,” ujarnya.

Dukungan itu berlanjut ketika kebutuhan modal usahanya semakin besar. Saat limit pinjamannya mencapai Rp 100 juta, Kepala Unit BRI Ngoro bahkan mendampinginya untuk mengajukan pembiayaan yang lebih besar melalui kantor cabang.

Kini, limit pinjaman Faisol telah mencapai Rp 470 juta, meningkat signifikan dibandingkan modal awal yang hanya Rp 1 juta.

Peningkatan tersebut menggambarkan besarnya kebutuhan pembiayaan seiring pertumbuhan skala produksi. Bagi pelaku UMKM seperti Faisol, akses permodalan menjadi salah satu instrumen untuk memperluas kapasitas usaha dan menjangkau pasar yang lebih luas.

Usaha Berkembang, Warga Desa Ikut Merasakan Dampaknya

Keberhasilan Faisol tidak hanya berdampak pada perjalanan ekonominya sendiri. Berkembangnya usaha kerupuk goreng pasir turut membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar.

Di Desa Badang, industri kerupuk menjadi bagian dari aktivitas ekonomi lokal yang melibatkan pelaku usaha dan tenaga kerja di lingkungan setempat. Keberadaan 17 pengusaha aktif juga memperlihatkan potensi industri rumahan dalam menggerakkan perekonomian desa.

Bagi Faisol, keberhasilan usaha tidak semata-mata diukur dari besarnya produksi atau nilai pembiayaan yang diperoleh. Ia juga ingin usahanya memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

“Bagi saya, ini bukan hanya soal keuntungan. Ini tentang memberikan kesempatan bagi warga sekitar, melestarikan produk lokal, dan membuktikan bahwa usaha keras bisa membuahkan hasil,” katanya.

Kerupuk goreng pasir yang diproduksi di Desa Badang kini menjangkau pasar lintas daerah. Produk yang berawal dari usaha rumahan itu menjadi bagian dari potensi ekonomi lokal yang memiliki peluang untuk terus berkembang.

Perjalanan Faisol juga menunjukkan pentingnya keberanian memulai, konsistensi menjaga usaha, serta kemampuan memanfaatkan peluang pembiayaan untuk meningkatkan skala produksi.

Dari seorang petani yang mencoba peruntungan dengan pinjaman Rp 1 juta, Faisol tumbuh menjadi pengusaha dengan kapasitas produksi mencapai 5 kuintal tepung per hari dan limit pinjaman Rp 470 juta.

Kisahnya menjadi gambaran bagaimana usaha kecil di tingkat desa dapat berkembang dan menciptakan manfaat ekonomi bagi lingkungan sekitarnya ketika didukung kerja keras, akses permodalan, dan peluang pasar yang terbuka.(rial)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version