
Surabaya-(satujurnal.com)
Pasuruan, Situbondo, dan Lamongan mungkin tidak masuk dalam daftar kota yang selama ini dikenal sebagai pusat seni rupa kontemporer Indonesia. Namun, dari tiga kota tersebut, Garis Edelweiss, Ufa Faizah, dan Dwi Januartanto membangun karier, memperluas jejaring, hingga membawa karya mereka menembus medan seni internasional.
Kisah ketiga seniman itu mengemuka dalam Wicara Seniman bertajuk Seniman, Kota, dan Medan Seni di Selasar Balai Budaya, Balai Pemuda, Surabaya, Sabtu (17/10/2026). Mereka tampil dalam rangkaian ARTSUBS 2026 untuk berbagi pengalaman tentang perjalanan berkesenian dan peluang menembus ekosistem seni yang lebih luas tanpa harus meninggalkan kota asal.
Diskusi yang dipandu kurator Nirwan Dewanto tersebut memperlihatkan perubahan peta seni rupa kontemporer. Karya, konsistensi, keberanian mencari peluang, dan kemampuan membangun jejaring kini membuka jalan bagi seniman dari luar kota-kota besar untuk mendapatkan pengakuan.
Nirwan mengakui Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta masih memiliki sejarah serta ekosistem seni yang kuat. Namun, perkembangan teknologi komunikasi, pameran, residensi, open call, dan hubungan antarseniman membuat batas geografis semakin cair.
“Pusat tidak selalu harus didatangi; pusat juga bisa menjadi jaringan yang menghubungkan,” kata Nirwan.
Dalam konteks tersebut, pameran berperan sebagai ruang pertemuan antara seniman, kurator, kolektor, institusi, dan jejaring baru. Sebuah perjumpaan dapat membuka kesempatan lain, menjadikan kota kecil sebagai titik berangkat menuju medan seni yang lebih luas.
Dwi Januartanto, Mengolah Pengalaman Agraria Menjadi Karya
Dwi Januartanto merupakan satu-satunya dari tiga seniman tersebut yang menempuh pendidikan formal seni rupa, yakni di Universitas Negeri Surabaya. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia kembali ke Lamongan dan sempat mencoba peruntungan sebagai petani melon dan brambang atau bawang merah.
Usaha tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Dwi merasa belum memiliki ketelatenan dan pengetahuan teknis yang memadai untuk mengelola pertanian. Pengalaman itu justru menjadi bagian penting dalam perjalanan artistiknya.
Latar belakang sebagai anak petani dan pengalamannya mengikuti residensi di sejumlah kawasan pesisir membentuk cara Dwi membaca kehidupan agraria. Terpal, karung goni, tali rafia, dan material lain yang lekat dengan keseharian petani kemudian masuk ke dalam praktik seninya.
Material tersebut berkembang menjadi medium untuk membicarakan ruang hidup, ekonomi, tekanan sosial, serta ingatan tentang tanah dan panen.
Perjalanan itu mengantarkannya meraih Gold Award UOB Painting of the Year Indonesia 2019 dan ColorPro Award 2022. Dwi juga menjadi finalis sejumlah kompetisi nasional dan internasional, termasuk Decolonial Memorial Design Competition di Berlin pada 2024.
Karyanya telah dipresentasikan di berbagai ruang seni, antara lain Galeri Nasional Indonesia, Museum Neukölln Berlin, Jakarta Biennale, Jogja Biennale, Jatim Biennale, Indonesia Bertutur, dan Lumbung Indonesia.
Ufa Faizah, Meninggalkan Dunia Hukum demi Seni Lukis
Berbeda dengan Dwi, perjalanan Ufa Faizah menuju dunia seni rupa bermula dari pendidikan hukum. Ia menempuh pendidikan sarjana di Universitas Brawijaya, melanjutkan studi magister di Universitas Airlangga, dan sempat berprofesi sebagai advokat.
Namun, kecintaan terhadap seni lukis yang tumbuh sejak SMP akhirnya membawanya meninggalkan dunia hukum. Ufa memilih tetap tinggal dan berkarya di Situbondo, meski kota tersebut berada di luar pusat-pusat seni rupa yang selama ini dominan.
Figur boneka menjadi salah satu ciri kuat dalam karya lukisannya. Objek yang identik dengan permainan anak-anak itu diolah menjadi metafora emosi, ingatan, ketakutan, krisis identitas, hingga transformasi diri.
Melalui pengaturan latar, properti, dan pencahayaan yang cermat, Ufa membangun ruang imajinatif yang mengaburkan batas antara kenyataan dan fantasi.
Jarak geografis tidak menghentikan perjalanan karyanya. Lukisan-lukisan Ufa kini dipasarkan dan direpresentasikan oleh sebuah galeri di Filipina. Pengalaman tersebut menunjukkan bagaimana karya seorang seniman yang menetap di kota kecil dapat menjangkau pasar lintas negara.
Garis Edelweiss, Memanfaatkan Dunia Digital
Sementara Dwi mengolah pengalaman agraria dan Ufa mengeksplorasi pengalaman personal melalui lukisan, Garis Edelweiss menemukan salah satu jalur pengembangan kariernya melalui dunia digital.
Lahir dengan nama Garis Kabe Muslim di Pasuruan, ia mewarisi minat seni dari ayahnya yang merupakan pelukis abstrak. Pada awalnya, Garis lebih banyak berkecimpung dalam desain dan ilustrasi secara otodidak.
Nama Edelweiss berasal dari studio desain kecil miliknya, Edelweiss Design. Sejak 2012, ia mulai lebih serius menekuni seni gambar dan mengembangkan praktik artistiknya.
Media sosial, terutama Instagram, kemudian menjadi etalase untuk memperkenalkan karya kepada khalayak yang lebih luas. Melalui platform tersebut, karyanya berpeluang ditemukan oleh pelaku seni di luar lingkaran lokal Pasuruan.
Salah satunya adalah Heri Pemad, direktur ArtJog, yang kemudian mengajaknya berpartisipasi dalam perhelatan seni tersebut.
Garis juga memanfaatkan teknologi non-fungible token (NFT) untuk memperluas pasar karya digitalnya. Perjalanan itu membuka peluang kolaborasi art print dengan band heavy metal Black Sabbath.
Pada 2023, ia meraih iCanvas Digital Art Award dalam Beautiful Bizarre Art Prize melalui karya berjudul The Healer.
Jejaring Mengubah Peta Seni
Perjalanan Garis Edelweiss, Ufa Faizah, dan Dwi Januartanto memperlihatkan beragam jalan yang dapat ditempuh seniman untuk memperluas jangkauan karya. Ketiganya berangkat dari latar belakang dan kota yang berbeda, tetapi sama-sama aktif mencari peluang di luar lingkungan terdekat.
Internet membantu memangkas jarak dan mempertemukan seniman dengan audiens baru. Namun, jejaring tetap tumbuh melalui perjumpaan langsung, pameran, residensi, kompetisi, serta keterlibatan dalam ekosistem seni.
Gagasan Nirwan Dewanto tentang pusat seni sebagai jaringan menemukan relevansinya melalui pengalaman ketiga perupa tersebut. Pengakuan tidak selalu menuntut seniman berpindah ke kota besar, selama mereka mampu mengembangkan karya dan membangun hubungan dengan medan seni yang lebih luas.
Dari Pasuruan, Situbondo, dan Lamongan, ketiganya menunjukkan bahwa kota asal tidak harus menjadi batas perjalanan artistik. Kota-kota itu justru dapat menjadi titik awal untuk memasuki panggung seni yang lebih luas, termasuk di tingkat internasional.(one/sst)