Mojokerto-(satujurnal.com)
Di balik geliat pembangunan Kota Mojokerto, ada pekerjaan senyap yang terus bergerak di bidang kesehatan. Salah satu tantangan besar yang dihadapi kota kecil ini adalah angka penderita hipertensi yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Hingga 2024, tercatat 13.020 warga mengidap tekanan darah tinggi—sekitar 9,1 persen dari total penduduk. Lebih dari sekadar angka, hipertensi menjadi ancaman senyap yang terus mengintai, karena kerap tak bergejala namun bisa berujung pada komplikasi serius seperti stroke, gagal ginjal, hingga kematian mendadak.
Melihat realitas tersebut, Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kota Mojokerto tidak tinggal diam. Di bawah kepemimpinan dr. Farida Mariana, M.Kes, lahirlah sebuah terobosan baru: Si-Terapi , akronim dari Sistem Informasi Terpadu Pantau Hipertensi.
Bukan sekadar aplikasi, Si-Terapi adalah sistem digital yang mengintegrasikan pencatatan, kontrol tekanan darah, kunjungan rumah, hingga edukasi gaya hidup sehat, dalam satu kerangka layanan yang menyatu antara fasyankes, kader kesehatan, dan masyarakat.
“Si-Terapi ini bukan hanya soal teknologi. Ini adalah alat untuk mengubah cara kita memperhatikan warga penderita hipertensi, lebih cepat, lebih presisi, dan lebih manusiawi,” ujar dr. Farida saat ditemui di sela evaluasi Proyek Perubahan (Proper) di kantor Dinkes PPKB Kota Mojokerto, Kamis (3/7/2025).
Ia mengungkap, bahwa sistem ini lahir dari kegelisahan atas masih rendahnya cakupan penanganan yang benar-benar tuntas, meski capaian kontrol hipertensi di Kota Mojokerto meningkat dari 14 persen di tahun 2023 menjadi 52 persen di tahun 2024.
Si-Terapi dikembangkan dalam kerangka Inovasi Penyelenggaraan Administrasi Negara (INAGARA). Inovasi ini mencakup inovasi proses melalui integrasi layanan dan alur penanganan hipertensi; inovasi produk, berupa sistem informasi dan standar prosedur baru; serta inovasi teknologi yang memungkinkan warga terkoneksi dengan layanan kesehatan dari rumah mereka.
Sejak awal, proyek ini didesain melalui pendekatan strategis berbasis analisis SWOT. Dari kekuatan internal seperti kesiapan SDM, dukungan regulasi, hingga sistem informasi Gayatri yang telah dimiliki Kota Mojokerto, disusunlah strategi untuk mengoptimalkan peluang digitalisasi layanan kesehatan yang menjadi arus utama nasional.
Dalam waktu bersamaan, tantangan seperti rendahnya literasi digital masyarakat dan kebiasaan mengutamakan pengobatan kuratif diatasi dengan pendekatan edukatif dan partisipatif.
Maka tak heran bila proyek ini mengandalkan kolaborasi erat dengan banyak pemangku kepentingan, mulai dari Puskesmas, RSUD, Dinas Kominfo, Bappeda, hingga kader Posyandu dan tokoh masyarakat.
Tujuan besar dari Si-Terapi dibagi dalam beberapa rentang waktu.
Dalam jangka pendek, sistem ini ditargetkan menjadi solusi digital yang sah dan terukur untuk penguatan layanan hipertensi di Kota Mojokerto, sekaligus menjadi dasar terbitnya kebijakan kepala daerah.
Dalam jangka menengah, Si-Terapi akan terkoneksi dengan layanan telemedicine serta menjadi alat edukasi pasien tentang gaya hidup sehat dan manajemen stres.
Dan dalam visi jangka panjangnya, dr. Farida menyebut Kota Mojokerto mampu membangun sistem big data analisis hipertensi yang memungkinkan kebijakan kesehatan disusun berdasarkan data riil dan dinamis.
Manfaat dari proyek ini pun terasa nyata di lapangan. Bagi internal Dinas Kesehatan, Si-Terapi menjadi alat untuk meningkatkan efektivitas layanan, memperkuat sinergi antarbidang, dan memudahkan tindak lanjut pasien.
Bagi masyarakat, sistem ini menghadirkan kemudahan dalam akses layanan cek tekanan darah rutin, konsultasi, dan pengambilan obat yang lebih terarah. Tak hanya itu, warga juga mulai didorong untuk menjadi subjek aktif dalam pengelolaan kesehatannya.
Dulu, sebelum hadirnya Si-Terapi, data pasien hipertensi di Kota Mojokerto tersebar dan kurang terkelola. Tidak ada standar prosedur baku, dan belum tersedia kebijakan operasional yang mengikat. Pelayanan masih bergantung pada kehadiran pasien ke fasilitas kesehatan, yang tidak semua bisa rutin hadir.
Kini, kondisi itu berubah signifikan. Dengan Si-Terapi, setiap pasien terdata dan dikontrol secara periodik, kunjungan rumah oleh petugas Prameswari menjadi bagian dari sistem, SOP telah disusun dan mulai dijalankan, serta keputusan kepala daerah tengah disiapkan sebagai payung hukum.
“Sekarang kami bisa memantau siapa yang kontrol, siapa yang tidak. Siapa yang harus dikunjungi. Semua datanya nyata dan bisa dilihat setiap saat. Kami tak lagi bekerja dengan asumsi,” jelas dr. Farida dengan semangat.
Output proyek ini telah mulai terlihat. Sistem aplikasi telah dikembangkan, pelatihan bagi tenaga kesehatan telah dilakukan, dan penerapan uji coba di sejumlah Puskesmas telah berjalan.
Dalam waktu dekat, kebijakan dalam bentuk keputusan Wali Kota akan disahkan untuk memperkuat legitimasi dan keberlanjutan program.
Harapan besarnya adalah terwujudnya outcome jangka panjang berupa layanan hipertensi yang efektif, tanggap, dan berkelanjutan di Kota Mojokerto.
Si-Terapi, pada akhirnya, bukan hanya proyek perubahan. Ia adalah simbol pergeseran paradigma dalam layanan kesehatan masyarakat. Dari pendekatan pasif menuju proaktif, dari pencatatan manual menuju sistem digital berbasis data, dan dari intervensi jangka pendek menuju tata kelola kesehatan yang berkelanjutan.
Dan dari Kota Mojokerto , kota yang kecil namun penuh inisiatif, lahir sebuah pembaruan yang bisa jadi inspirasi bagi banyak daerah lain di Indonesia. (ank)
