Home Pendidikan Dua SDN di Jombang ini Sepi Peminat, Tahun Ajaran Baru Tanpa Riuh...

Dua SDN di Jombang ini Sepi Peminat, Tahun Ajaran Baru Tanpa Riuh Murid Baru

0
Puji Utami kepala sekolah SDN Jabon 2 Jombang di salah satu ruang belajar. (wie/SJ)

Jombang-(satujurnal.com)
Tahun ajaran baru lazimnya menjadi momen riuh bagi sekolah-sekolah. Tapi tidak begitu kondisinya di SDN Jombatan 06 dan SDN Jabon 02, dua sekolah dasar negeri yang berada di pusat Kota Jombang. Alih-alih dipenuhi antusiasme orang tua dan calon siswa baru, kedua sekolah ini justru menghadapi kenyataan sunyi: kekurangan murid.

Ironi menyelimuti dua sekolah ini. Di tengah wacana pemerataan pendidikan, sekolah negeri yang sepenuhnya gratis justru tidak lagi menjadi pilihan utama. Bantuan seragam dan alat tulis pun gagal menjadi stimulus.

Di SDN Jombatan 06, tahun ini, hanya menerima enam murid baru dari total pagu 28 siswa.

“Hari pertama sekolah tinggal sebelas hari lagi, tapi yang mendaftar baru enam orang,” ujar Nur Salim, kepala sekolah SDN Jombatan 06, Kamis (3/7/2025).

“Kami punya enam rombongan belajar di sini. Lokasinya strategis, tapi ya itu… banyak wali murid lebih memilih sekolah swasta yang dianggap lebih unggul,” ujarnya.

Menurutnya, ada dua penyebab utama, yakni jumlah lulusan TK yang menurun dan menjamurnya sekolah swasta unggulan yang menjadi pilihan utama orang tua. Padahal, sebagai sekolah negeri, semua biaya pendidikan ditanggung pemerintah. Bahkan sudah ada bantuan seragam dan alat tulis bagi siswa baru. Namun itu belum cukup untuk menarik minat.

“Bantuan tetap kami informasikan ke warga, tapi mereka seperti tidak peduli. Mereka lebih tertarik pada branding ‘unggulan’,” katanya, sembari menunjukkan ruang kelas yang masih kosong.

Nur Salim menyadari bahwa saat ini orang tua sangat selektif dalam memilih sekolah. Mereka bertanya apakah sekolah memiliki AC, sistem pembelajaran digital, ekstrakurikuler unggulan, hingga intensitas tugas sekolah.

“Kalau dibandingkan sekolah swasta yang sudah berlabel ‘terpadu’, kami jelas kalah fasilitas,” ujarnya jujur.

“Gratis saja tidak cukup jika persepsi orang tua sudah condong ke sekolah yang lebih meyakinkan secara tampilan,” kata Nur Salim.

Sekolah-sekolah swasta kini tampil lebih percaya diri. Banyak yang menawarkan program full-day school, kelas bilingual, tahfiz Quran, bahkan aplikasi pemantauan nilai siswa secara daring.

“Mereka pintar membangun citra. Kami di sekolah negeri sering dianggap tertinggal,” keluhnya.

Di akhir penuturan, Nur Salim mengajak satujurnal.com melihat ruang kelas yang kosong. Di pojok ruangan, ada sebuah kursi kecil yang dibiarkan berdiri sendiri.

“Ini kursi buat anak yang belum datang,” ujarnya, setengah bercanda, setengah berharap.

Ia tahu, sekolahnya tidak sempurna. Tapi ia yakin bahwa pendidikan tak selamanya ditentukan oleh mewahnya gedung atau canggihnya fasilitas.

“Kami punya niat baik, guru-guru yang mau mengajar sepenuh hati. Tapi kadang itu saja tidak cukup di zaman sekarang,” tukasnya.

Nasib yang lebih pilu dialami SDN Jabon 02. Dari empat calon siswa yang sempat mendaftar, hanya dua anak yang akhirnya mendaftar ulang dan akan masuk pada 14 Juli mendatang.

Puji Utami, kepala sekolah SDN Jabon 02, menceritakan bahwa pihak sekolah telah berupaya keras untuk menjaring murid.

“Kami sampai door to door, mendatangi rumah orang tua calon siswa. Tapi ya, kondisi bangunan sekolah jadi pertimbangan utama,” ujarnya.

Sekolah ini memang sudah tua. Beberapa ruang kelasnya mulai lapuk, dinding lembab, dan atap bocor di musim hujan. Toilet terbatas, dan tidak ada fasilitas bermain. “Orang tua khawatir anaknya sekolah di gedung yang tidak layak,” lanjut Puji.

“Kalau hanya dua murid, siapa yang akan mengajar? Formasi guru juga disesuaikan dengan jumlah siswa. Jika terus begini, sekolah bisa tidak layak beroperasi,” kata Puji Utami dengan nada prihatin.

Namun bagi masyarakat sekitar, sekolah bukan sekadar tempat belajar. Ia adalah bagian dari memori kolektif dan identitas lokal.

“Anak saya, cucu saya, sekolah di sini. Tapi sekarang sekolah ini kayak mau ‘mati pelan-pelan’,” ungkap Bu Lastri, warga Jabon yang meskipun merasa memiliki sekolah itu, tetap memilih sekolah swasta untuk cucunya.

Meski kondisi tidak ideal, kedua kepala sekolah tetap berupaya membalikkan keadaan. Di SDN Jombatan 06, guru-guru kini aktif mempromosikan sekolah lewat media sosial dan grup WhatsApp warga.

“Kami buat video kegiatan siswa, unggah ke medsos, semoga bisa mengubah pandangan warga,” kata Nur Salim.

Sementara SDN Jabon 02 menggandeng warga untuk kerja bakti. Taman sekolah diperbaiki, pagar dicat ulang.

“Kecil-kecilan, tapi ini bentuk cinta kami pada sekolah ini. Kami tidak bisa tinggal diam,” ujar Puji.(wie)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version