
Surabaya-(satujurnal.com)
Di sebuah kampus di Taiwan, tiga mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) berdiri mengenakan toga dan selempang wisuda. Muchsin Maulana, Birrul Walidain Al Musthofa, dan Muhammad Halili berhasil meraih gelar ganda (double degree) melalui Program International Industrial Talents Education Special Program (INTENSE), hasil kerja sama Unusa dan St. John’s University Taiwan. Mereka diwisuda di St. John’s University pada rangkaian wisuda yang berlangsung pada 6 dan 12 Juni lalu.
Peristiwa itu menjadi penanda perjalanan panjang yang dimulai dari ruang-ruang kuliah di Indonesia hingga lingkungan akademik internasional di Taiwan. Ketiganya merupakan bagian dari tujuh mahasiswa Program Studi Sistem Informasi Unusa yang menyelesaikan pendidikan internasional melalui program yang didukung Kementerian Pendidikan Taiwan. Program tersebut memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar dalam lingkungan global sekaligus memperoleh pengalaman industri.
Ada jarak yang tidak bisa ditempuh dengan pesawat pada hari wisuda. Bagi Muhammad Halili, salah satu momen yang paling terasa justru saat keluarga tidak dapat hadir secara langsung.
“Senang kita akhirnya wisuda, tapi juga terasa aneh. Biasanya momen besar seperti wisuda dihadiri orang tua. Karena keluarga tidak bisa hadir langsung, tapi mereka masih bisa lihat dari live streaming,” ujarnya.
Di balik foto wisuda yang tampak rapi dan penuh senyum, terdapat proses adaptasi yang tidak sederhana. Taiwan menghadirkan pengalaman baru yang sebelumnya belum pernah mereka alami. Bahasa, budaya, sistem pendidikan, hingga cuaca empat musim menjadi bagian dari keseharian yang harus dipelajari.
Halili mengaku tantangan terbesarnya adalah bahasa Mandarin. Pada saat yang sama, ia harus menyesuaikan diri dengan sistem perkuliahan internasional dan kondisi cuaca yang sangat berbeda dengan Indonesia.
Pengalaman itu juga dirasakan Birrul Walidain Al Musthofa. Baginya, kesempatan belajar sekaligus bekerja di perusahaan Taiwan menghadirkan pengalaman yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan.
“Kami hanya kuliah, tetapi juga mendapatkan pengalaman kerja langsung di industri. Ini membuka wawasan sekaligus meningkatkan kepercayaan diri untuk bersaing secara global,” katanya.
Perjalanan mereka memperlihatkan bagaimana ruang belajar dapat meluas hingga ke dunia kerja.
Program INTENSE memang dirancang untuk mempertemukan pendidikan tinggi dengan kebutuhan industri, sehingga mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman akademik, tetapi juga mengenal dinamika profesional di lingkungan internasional.
Muchsin Maulana merasakan perubahan itu secara langsung. Sebagai penerima KIP-K, ia memperoleh kesempatan mengikuti pendidikan internasional melalui program yang didukung pemerintah Taiwan dan Unusa.
“Senang bisa sampai di titik ini karena nggak nyangka bisa mendapat kesempatan seperti ini. Kami belajar di lingkungan internasional, berinteraksi dengan berbagai budaya, sekaligus memperoleh peluang karier yang lebih luas,” ujarnya.
Kehidupan sehari-hari di Taiwan juga menghadirkan tantangan lain. Ketiganya harus menyesuaikan diri dengan biaya hidup, makanan, serta kehidupan sebagai minoritas Muslim. Pengalaman tersebut perlahan membentuk kemampuan beradaptasi, kemandirian, dan daya juang yang lebih kuat.
Kini, setelah menyelesaikan pendidikan, mereka berencana melanjutkan karier profesional di Taiwan. Pengalaman belajar dan bekerja selama mengikuti program internasional tersebut memberi mereka pandangan baru mengenai dunia kerja global dan perkembangan teknologi yang terus bergerak cepat.
Rektor Unusa, Prof. Dr. Ir. Tri Yogi Yuwono, DEA., IPU., ASEAN.Eng., menilai keberhasilan itu menunjukkan mahasiswa Indonesia, termasuk penerima KIP-K, mampu berprestasi di tingkat global ketika memperoleh kesempatan dan dukungan yang tepat.
Dari ruang kuliah hingga panggung wisuda di Taiwan, perjalanan tiga mahasiswa ini memperlihatkan satu kenyataan yang sederhana. Kesempatan pendidikan dapat membawa seseorang melampaui batas yang sebelumnya hanya terlihat sebagai kemungkinan yang jauh. (one/unusa)