
Catatan dari Tepi
DI SEBUAH AULA TERBUKA di kompleks Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, akhir pekan lalu, orang-orang berkumpul untuk membicarakan teater. Ada pelajar, mahasiswa, guru seni, pegiat budaya, hingga para penjaga tradisi yang selama ini bekerja dalam senyap. Mereka datang mengikuti Workshop Teater Jombangan 2026.
Dalam workshop, nama-nama hadir dengan perannya masing-masing. Vera Fenniwaty Wailanduw berbicara tentang pentingnya negara memberi ruang bagi kebudayaan untuk tumbuh. Nasrul Ilah, pegiat teater yang akrab disapa Cak Nas. Catur Budi Setyo membawa pengalaman panjangnya dari Teater Suket Indonesia. Cucuk Espe datang dengan perspektif Teater Kopi Hitam yang akrab dengan proses kreatif dan pencarian bentuk-bentuk ekspresi baru.
Namun setelah semua materi selesai disampaikan, yang tersisa dalam ingatan justru sebuah pertanyaan lama: bagaimana sebuah kesenian bisa bertahan begitu lama tanpa bergantung pada naskah?
“Teater Jombangan itu tidak kenal naskah.”
Kalimat tersebut disampaikan oleh Cak Nas. Barangkali bagi mereka yang tumbuh dalam tradisi teater modern, pernyataan itu terdengar aneh. Bagaimana mungkin sebuah pertunjukan berlangsung tanpa naskah?
Tetapi justru di situlah letak keistimewaannya.
Kita hidup pada zaman yang sangat bergantung pada dokumen. Segala sesuatu harus ditulis, direkam, diarsipkan, lalu disimpan dalam folder-folder digital. Pengetahuan dianggap sah ketika tercatat. Ingatan dianggap lemah ketika tidak memiliki dokumen pendukung.
Namun banyak kesenian rakyat lahir dan bertahan dengan cara yang berbeda.
Wayang Topeng Jatiduwur, Sandur Manduro, seni Besut, Lerok, hingga Ludruk tumbuh bukan dari tumpukan naskah. Mereka hidup melalui ingatan. Lakon diwariskan dari mulut ke mulut. Dialog berkembang melalui improvisasi. Adegan disusun melalui kesepakatan bersama. Para pemain tidak membaca teks panjang, melainkan menghidupkan cerita yang sudah mereka kenal sejak lama.
Yang diwariskan bukan semata cerita.
Yang diwariskan adalah rasa.
Mungkin itulah sebabnya teater rakyat sering terasa lebih dekat dengan penontonnya. Ia tidak berdiri sebagai karya yang selesai ditulis lalu dipentaskan. Ia lahir kembali setiap kali dimainkan. Setiap pementasan selalu membuka kemungkinan baru. Selalu ada ruang bagi spontanitas, kelakar, sindiran sosial, bahkan respons terhadap peristiwa yang sedang terjadi.
Di atas panggung, tradisi dan kehidupan sehari-hari bertemu tanpa jarak.
Ketika Cak Nas menceritakan perjalanan dari Lerok yang diciptakan Pak Santik, berkembang menjadi Besut, lalu melahirkan Ludruk yang lebih terbuka dan mampu menampung berbagai tema kehidupan, sesungguhnya ia sedang memperlihatkan bahwa kebudayaan tidak pernah diam.
Tradisi bukan benda mati yang disimpan dalam lemari kaca.
Tradisi adalah sesuatu yang terus bergerak.
Karena bergerak, ia berubah. Karena berubah, ia bertahan.
Workshop yang didukung Program Dana IndonesiaRaya dari Kementerian Kebudayaan itu pada akhirnya bukan hanya ruang belajar teknik teater. Ia juga menjadi ruang perjumpaan antargenerasi. Di sana hadir mereka yang baru mengenal panggung, sekaligus mereka yang telah puluhan tahun menjaga nyala kesenian tradisional.
Pertemuan semacam ini penting karena ancaman terbesar bagi kesenian rakyat bukanlah hilangnya panggung.
Melainkan putusnya pewarisan.
Sebuah kesenian masih bisa bertahan meski jarang dipentaskan. Tetapi ketika tidak ada lagi yang mau belajar, tidak ada lagi yang mau mendengar cerita para pelakunya, maka perlahan tradisi itu kehilangan rumahnya.
Jombang sesungguhnya memiliki jejak teater rakyat yang panjang. Dari lerok hingga ludruk, dari wayang topeng hingga sandur. Sebagian masih bertahan, sebagian lain mulai jarang terdengar. Namun semuanya menyimpan satu pelajaran yang sama: kebudayaan hidup karena ada manusia yang terus merawatnya.
Bukan karena gedungnya megah.
Bukan karena anggarannya besar.
Melainkan karena selalu ada orang yang bersedia menghafal satu cerita lagi, memainkan satu lakon lagi, dan mengajarkannya kepada generasi berikutnya.
Mungkin karena itulah kalimat tentang teater tanpa naskah terasa begitu menggetarkan.
Di tengah dunia yang semakin bergantung pada arsip dan layar, masih ada kesenian yang bertahan melalui ingatan manusia.
Dan selama ingatan itu masih diwariskan, teater Jombangan akan selalu menemukan panggungnya. (ridwan)