Catatan dari Tepi
KEHENINGAN selalu menyambut saya setiap kali melangkah ke studio pelukis, sanggar batik, bengkel ukir, atau ruang kerja para perajin kriya. Keheningan itu bukan pertanda sunyi, melainkan ruang tempat gagasan bertumbuh, ketekunan ditempa, dan kesabaran menjelma menjadi karya. Di ruang-ruang sederhana seperti itulah saya menyaksikan kebudayaan bekerja dalam wujudnya yang paling nyata.
Di tengah perjalanan itu, saya kembali membuka dua karya yang sejak lama menjadi rujukan penting dalam memahami kebudayaan Indonesia. Dalam Setangkai Bunga Sosiologi (1964), Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi mendefinisikan kebudayaan sebagai hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Sementara itu, melalui Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan (1974), Koentjaraningrat memandang kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia yang diwariskan melalui proses belajar. Keduanya lahir dari disiplin ilmu yang berbeda—sosiologi dan antropologi—namun bertemu pada keyakinan yang sama: kebudayaan hanya akan hidup jika terus dipelajari, dikerjakan, dan diwariskan.
Pemahaman itu menemukan bentuknya setiap kali saya berhadapan dengan para seniman. Di sana tumbuh gagasan yang dipelajari dari generasi sebelumnya, bersemayam rasa yang membentuk kepekaan estetik sekaligus menjaga kehalusan budi, serta lahir karya dari ketekunan tangan manusia. Saya semakin memahami bahwa kebudayaan tidak berhenti pada benda yang dihasilkan. Ia hidup dalam proses, bertumbuh melalui pembelajaran, lalu menemukan wujudnya dalam setiap karya.
Lantaran itu, setiap kali berjumpa dengan seniman, saya lebih banyak memilih mendengarkan daripada berbicara. Memahami mereka tidak dapat dilakukan dengan tergesa-gesa. Setiap percakapan bagi saya seperti mengamati seorang pemahat bekerja. Tidak ada bagian kayu yang dipaksa menjadi bentuk tertentu. Yang dilakukan hanyalah membaca arah seratnya, lalu mengikuti irama yang telah ada. Dari sanalah perlahan muncul bentuk yang selama ini tersembunyi.
Semakin sering saya menyusuri ruang-ruang kreatif itu, semakin saya memahami bahwa yang sesungguhnya dijaga para seniman bukan hanya karya, melainkan idealisme. Idealisme hadir dalam kesetiaan menjalani proses, keberanian mempertahankan karakter, dan kesabaran menolak jalan pintas yang dapat mengurangi makna sebuah penciptaan. Nilai itu jarang diucapkan, tetapi selalu tampak dalam cara mereka berkarya.
Saya mendengar kisah tentang lukisan yang dikerjakan berbulan-bulan hingga menemukan sapuan warna yang dianggap paling jujur. Saya mendengar cerita tentang canting yang diwariskan lintas generasi, tentang tanah liat yang berkali-kali gagal dibakar sebelum menjadi keramik yang utuh, juga tentang sepotong kayu yang baru dapat dipahat setelah sang perajin memahami arah seratnya. Dari kisah-kisah sederhana itulah saya belajar bahwa nilai sebuah karya tidak hanya terletak pada hasil akhirnya, melainkan pada kesetiaan merawat proses yang melahirkannya.
Barangkali itulah alasan saya tidak pernah memulai percakapan dari teknologi digital. Saya selalu memulainya dari manusia, dari karya, dan dari proses yang melahirkannya. Sebab, teknologi digital hanyalah jalan yang mempertemukan karya dengan ruang apresiasi yang lebih luas, sementara kebudayaan tetap bertumpu pada manusia yang merawat pengetahuan, keterampilan, dan idealismenya.
Setiap kali meninggalkan studio atau sanggar, saya merasa tidak sedang berpamitan. Saya hanya melanjutkan perjalanan sambil membawa keyakinan bahwa para seniman tidak pernah menolak cakrawala baru. Mereka hanya ingin memastikan satu hal: jangan biarkan keluasan cakrawala itu mengaburkan idealisme yang selama ini mereka rawat.
Sebab pada akhirnya, masa depan kebudayaan tidak ditentukan oleh seberapa cepat teknologi digital berkembang, melainkan oleh seberapa setia kita menghormati manusia, proses, dan idealisme yang melahirkan setiap karya. Ketika idealisme tetap memperoleh tempat yang terhormat, saya percaya setiap karya akan menemukan cakrawala barunya tanpa pernah kehilangan jati diri.
Dan ketika idealisme tetap memperoleh tempat yang terhormat, para seniman pun tidak lagi ragu untuk menyapa cakrawala baru. (ridwan)
Bacaan yang Menginspirasi
Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi. Setangkai Bunga Sosiologi. Jakarta: Yayasan Badan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1964
Koentjaraningrat. Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Jakarta: PT Gramedia, 1974.
Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta, 1979.
.
