
Mojokerto-(satujurnal.com)
Ancaman kebakaran menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Mojokerto setelah sedikitnya tujuh kejadian tercatat sepanjang enam bulan pertama 2026. Risiko bencana di kawasan perkotaan itu kini direspons dengan memperluas edukasi mitigasi hingga lingkungan pesantren.
Melalui Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A), Pemkot Mojokerto menggelar program Tagana Masuk Pesantren (TAMATREN) di Pondok Pesantren Al Amin Putri, Senin (20/7/2026). Para santri dibekali pengetahuan mitigasi, kesiapsiagaan, hingga cara menghadapi kondisi darurat.
Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari mengatakan, edukasi kebencanaan tetap menjadi tanggung jawab pemerintah daerah terhadap para santri yang tinggal dan menempuh pendidikan di pesantren wilayah Kota Mojokerto, termasuk mereka yang berasal dari luar daerah.
“Meskipun sebagian besar santri berasal dari luar Kota Mojokerto, selama berdomisili di pondok pesantren yang berada di wilayah Kota Mojokerto, maka menjadi tanggung jawab pemerintah kota untuk memberikan edukasi kebencanaan sesuai amanat regulasi,” kata Ning Ita, sapaan akrab Wali Kota Mojokerto.
Menurut Ning Ita, Kota Mojokerto memang tidak termasuk wilayah dengan potensi tinggi bencana hidrometeorologi. Namun, kesiapsiagaan masyarakat tetap harus diperkuat untuk menghadapi berbagai kondisi darurat.
Pemkot Mojokerto juga telah membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) pada 2025 untuk memperkuat koordinasi penanggulangan bencana. Upaya tersebut diperluas dengan pembentukan Kampung Tangguh Bencana di seluruh kelurahan.
“Seluruh kelurahan kini sedang dibentuk menjadi Kampung Tangguh Bencana. Salah satu prioritasnya adalah memberikan edukasi kepada masyarakat agar memahami mitigasi dan kesiapsiagaan bencana. Dalam hal ini BPBD bersinergi dengan Dinas Sosial melalui Taruna Siaga Bencana atau Tagana,” jelasnya.
Di tengah karakteristik Kota Mojokerto sebagai wilayah perkotaan, Ning Ita menyebut kebakaran sebagai salah satu ancaman yang paling perlu diwaspadai. Sedikitnya tujuh kejadian kebakaran terjadi selama enam bulan pertama 2026, dengan salah satu peristiwa menimbulkan kerugian hingga ratusan juta rupiah.
“Yang paling potensial di wilayah perkotaan adalah kebakaran. Karena itu santri harus memiliki pengetahuan bagaimana mencegah, menyelamatkan diri, dan tidak panik ketika terjadi keadaan darurat,” tegasnya.
Selain materi mitigasi dan kesiapsiagaan, para santri diperkenalkan dengan layanan darurat Call Center 112. Layanan tersebut dapat diakses masyarakat selama 24 jam tanpa biaya untuk melaporkan kebakaran maupun kondisi kegawatdaruratan lainnya.
Kepala Pondok Pesantren Al Amin Putri, Muhammad Ali Fahrudin, menyambut positif pelaksanaan TAMATREN. Menurutnya, santri perlu memiliki keterampilan praktis yang dapat diterapkan ketika kembali dan berperan di tengah masyarakat.
“Harapan kami santri putri tidak hanya tafaqquh fiddin, tidak hanya belajar agama saja, tetapi juga memiliki keterampilan yang bermanfaat di tengah masyarakat, salah satunya kemampuan dalam menghadapi dan menanggulangi bencana. Tentu kita juga berdoa semoga Kota Mojokerto selalu dijauhkan dari bencana,” ujarnya.
Dalam program TAMATREN, para santri mendapatkan materi mengenai peran pesantren dalam penanggulangan bencana, manajemen kebencanaan, kesiapsiagaan dan mitigasi di lingkungan pesantren, serta pengenalan Tagana dan tugasnya sebagai relawan sosial.
Program ini diharapkan melahirkan generasi muda, khususnya santri di Kota Mojokerto, yang memiliki kesadaran dan keterampilan menghadapi kondisi darurat. Bekal tersebut juga diharapkan membuat para santri mampu mengambil peran dalam membangun masyarakat yang lebih tangguh terhadap berbagai potensi bencana.(one/hms)