Home Esai Gemblak Terakhir dan Jejak Ingatan yang Tak Pernah Padam

Gemblak Terakhir dan Jejak Ingatan yang Tak Pernah Padam

0
Buku & Kedua Penulis . Gemblak Terakhir — novel duet Imung Mulyanto dan Sasetya Wilutama, yang menghidupkan kembali memori kolektif tentang warok, gemblak, budaya Jawa, serta pergulatan manusia di tengah cinta, kekuasaan, kemiskinan, dan pilihan hidup. Sebuah cerita lama yang menemukan napas baru melalui halaman-halaman novel. dok: ist.

Novel Duet Imung Mulyanto dan Sasetya Wilutama tentang Warok, Gemblak, dan Memori Kolektif Jawa

Ada cerita yang lahir dari imajinasi. Ada pula cerita yang tumbuh dari ingatan, dari sesuatu yang pernah hidup, pernah didengar, pernah menjadi bagian dari percakapan masyarakat, lalu perlahan mengendap di dasar waktu. Gemblak Terakhir, novel terbaru karya duet jurnalis senior Imung Mulyanto dan Sasetya Wilutama, mencoba membuka kembali ruang ingatan itu.

Rencananya, novel yang diterbitkan MejaTamu tersebut diluncurkan di Blitar, Jumat (21/8/2026). Tidak tebal-tebal amat, hanya xii+82 halaman dengan ukuran 14 x 20 sentimeter. Namun di balik halaman yang relatif ringkas itu, tersimpan cerita panjang tentang warok dan gemblak, cinta, kemiskinan, kekuasaan, persahabatan, kriminalitas, hingga pergulatan seorang anak muda yang ingin keluar dari nasib yang telah ditentukan untuknya.

Bagi Sasetya, Gemblak Terakhir menjadi jejak lain dalam perjalanan kepenulisannya. Sebelumnya, ia menulis Wong Katrok Merambah Media, buku yang merekam pengembaraannya melintasi dunia media—dari media cetak, televisi hingga digital. Kini ia kembali ke dunia cerita, tetapi dengan medan yang berbeda: budaya Jawa dan manusia-manusia yang hidup di dalam ingatan kolektif masyarakat.

Cerita Lama, Jalan yang Baru

Kisah Gemblak Terakhir berpusat pada seorang gemblak yang memiliki keinginan sederhana: menjadi guru. Tetapi jalan menuju cita-cita itu ternyata tidak pernah sederhana. Hambatan datang silih berganti, terutama ketika ia berhadapan dengan seorang oknum warok yang memiliki kuasa dan pengaruh.

Persoalan menjadi semakin rumit ketika istri sang warok justru jatuh cinta kepada gemblak tersebut. Dari titik itulah cerita bergerak, menyusuri persimpangan antara cinta, kekuasaan, kemiskinan, kesetiaan, dan pilihan hidup.

“Sebagai karya fiksi, kisah dalam novel ini murni hasil imajinasi. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan cerita, hal itu hanyalah kebetulan semata,” tutur Sasetya Wilutama, mantan redaktur majalah berbahasa Jawa Penyebar Semangat dan produser kreatif SCTV, Sabtu (15/8/2026).

Alurnya sengaja dibuat bergerak cepat. Tokoh-tokohnya hadir dengan karakter yang beragam, konflik disusun sambung-menyambung, lalu diberi bumbu percintaan dan kriminalitas. Ada pula adegan adu kesaktian antarsesama warok yang membuat cerita tidak berjalan dalam satu warna.

Namun di balik semua itu, ada satu persoalan yang terus berdenyut: bagaimana seseorang melepaskan diri dari keadaan yang sejak awal seolah telah menentukan hidupnya.

Dari Layar Televisi ke Halaman Novel

Menariknya, cerita ini bukan sepenuhnya baru bagi kedua penulis. Imung Mulyanto mengungkapkan, kisah tersebut pernah diangkat dalam format sinetron oleh TVRI Jawa Timur pada awal 1990-an dan disponsori Harian Sore Surabaya Post.

Cerita itu bahkan sempat masuk nominasi cerita terbaik dalam Festival Film Indonesia. Puluhan tahun kemudian, cerita tersebut kembali menemukan bentuknya melalui novel.

Bedanya, kali ini tidak ada batas durasi layar. Tidak ada tuntutan berapa menit sebuah adegan harus selesai atau kapan konflik harus mencapai puncak. Cerita dapat bergerak lebih bebas, lebih dalam, dan lebih panjang.

“Novel ini dipoles lebih bebas dan mendalam karena tidak terikat oleh durasi sebagaimana sebuah sinetron,” ujar Imung, mantan wartawan Surabaya Post dan mantan GM Arek TV.

Ada sesuatu yang menarik dalam perjalanan itu. Cerita yang dahulu hidup melalui gambar dan dialog di layar televisi, kini kembali dalam bentuk kata-kata. Seolah sebuah cerita lama pulang ke rumah asalnya: imajinasi pembaca.

Warok, Gemblak dan Ingatan yang Disimpan Masyarakat

Adriono, penyunting Gemblak Terakhir, melihat kekuatan novel ini justru pada keberaniannya memasuki wilayah memori kolektif masyarakat.

Baginya, budaya, kearifan lokal, legenda, dongeng, gugon tuhon, hingga mitos merupakan harta karun yang tidak pernah habis sebagai sumber inspirasi sastra. Semua itu dapat memberikan warna, falsafah, sekaligus membuat sebuah cerita terasa dekat dengan kehidupan pembacanya.

Karena itu, ketika warok dan gemblak ditempatkan sebagai bagian dari cerita, keduanya tidak menjadi ornamen belaka. Dunia budaya itu justru menjadi bagian dari napas cerita.

Warok dalam tradisi masyarakat Ponorogo dan sekitarnya dikenal sebagai sosok yang disegani, pemimpin lokal informal, pendekar, sekaligus figur yang berkaitan erat dengan dunia kesenian reog. Sementara gemblak merupakan anak laki-laki yang pada masa lalu dipelihara secara khusus oleh seorang warok, sebuah fenomena sosial yang memiliki lapisan makna budaya, seni, status, sekaligus persoalan sosial dan spiritual yang kompleks.

“Keberhasilan novel ini adalah kehadiran budaya warok maupun fenomena gemblak tidak sekadar tempelan semata, tetapi benar-benar menyatu dengan inti cerita,” kata Adriono.

Di situlah Gemblak Terakhir menemukan pijakannya. Cerita tidak hanya berbicara tentang seseorang, tetapi juga tentang sebuah lingkungan sosial yang pernah hidup dan meninggalkan jejak panjang dalam ingatan masyarakat.

Ketika Kekuasaan Bertemu Kemiskinan

Di balik kisah gemblak yang ingin menjadi guru, ada pula wajah lain yang lebih getir: relasi kuasa.

Seorang warok memiliki otoritas sekaligus sumber daya ekonomi. Di sisi lain, ada rakyat miskin yang hidup dalam himpitan kebutuhan. Dalam kondisi semacam itu, pilihan hidup kadang tidak benar-benar lahir dari kebebasan.

Seorang janda bahkan terpaksa melepas anak laki-lakinya yang masih belia ketika sang anak “dipinang” untuk menjadi gemblak seorang warok.

Dari sana, novel membawa pembaca pada persoalan yang lebih luas. Ada seorang wartawan yang berada dalam dilema ketika harus menyampaikan fakta kepada publik, tetapi di saat yang sama harus melindungi teman sekolahnya yang ternyata pernah menjadi gemblak.

Ada rahasia masa lalu. Ada persahabatan. Ada cinta. Ada kriminalitas. Ada pertarungan antarsesama warok. Dan tentu saja ada pertanyaan tentang bagaimana seseorang berdamai dengan masa lalu yang tidak pernah benar-benar selesai.

Tidak Mengadili Warok

Meski menghadirkan tokoh warok yang berperilaku buruk, Sasetya menegaskan novel ini tidak dimaksudkan untuk merendahkan martabat warok.

Menurutnya, warok sejatinya merupakan sosok ksatria dan tokoh panutan yang memiliki kedudukan terhormat dalam masyarakat.

“Kalau di dalam novel ini digambarkan ada oknum warok yang kurang baik, itu tidak dalam rangka mendegradasi derajat dan marwah warok,” ujarnya.

“Sebagaimana profesi lain, semisal guru, dokter, atau profesi lainnya, kadang ada oknum yang kurang baik. Jadi tidak boleh digebyah uyah.”

Kalimat itu penting. Sebab karya sastra yang mengambil budaya sebagai latar selalu berhadapan dengan satu risiko: ketika sebuah tokoh fiksi dibaca sebagai gambaran keseluruhan sebuah tradisi.

Gemblak Terakhir memilih jalan yang lebih hati-hati. Ia menghadirkan sisi gelap tanpa harus menghitamkan seluruh dunia yang menjadi latarnya.

Dua Jurnalis, Satu Cerita

Latar belakang kedua penulis ikut memberi warna pada novel ini. Imung dan Sasetya sama-sama ditempa dunia jurnalistik, baik media cetak maupun televisi. Karena itu, bahasa yang mereka gunakan cenderung sederhana, populer, dan mudah diikuti.

Mereka tidak berusaha membuat pembaca tersesat dalam kalimat-kalimat yang rumit. Cerita bergerak seperti kamera yang berpindah dari satu adegan ke adegan berikutnya.

Barangkali itu pula yang membuat novel ini terasa seperti sinetron yang berpindah medium. Bedanya, kali ini layar berada di kepala pembaca.

Adriono mengaku menikmati proses penyuntingan naskah tersebut. Menurutnya, alurnya berliku tetapi bergerak cepat, tidak berpanjang-panjang, sehingga ritmenya tetap terjaga.

“Gaya bahasanya yang populer dan ringan membuat buku ini enak dibaca. Nikmatnya serasa menyaksikan sinetron TV melalui kata-kata,” ujarnya.

Dan mungkin memang di situlah kekuatan dua jurnalis yang memilih menjadi novelis: mereka tahu bagaimana membuat pembaca ingin terus membuka halaman berikutnya.

Epilog: Cerita yang Menolak Mati

Pada akhirnya, Gemblak Terakhir bukan hanya cerita tentang warok dan gemblak. Ia adalah upaya mengajak ingatan berjalan kembali.

Sasetya yang sebelumnya menulis Wong Katrok Merambah Media, kini merambah dunia lain, dunia fiksi yang berakar pada kebudayaan. Imung, yang panjang hidupnya ditempa berita, televisi, dan skenario, kembali membuka cerita lama yang pernah hadir di layar kaca.

Sebuah cerita memang bisa berganti rupa. Dari sinetron menjadi novel. Dari layar menjadi halaman. Dari ingatan menjadi kata-kata.

Tetapi selama masih ada yang menuliskannya, cerita itu belum benar-benar selesai.

Dan mungkin, itulah makna paling dalam dari Gemblak Terakhir: bukan tentang siapa yang terakhir menjadi gemblak, melainkan tentang ingatan terakhir yang masih disimpan manusia sebelum semuanya perlahan hilang ditelan zaman. (Ridwan)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version