Home Regional Kota Surabaya KPIR Andalkan Gotong Royong, Buwuh Even Jadi Modal Gelar Meruwat Indonesia

KPIR Andalkan Gotong Royong, Buwuh Even Jadi Modal Gelar Meruwat Indonesia

0
Refleksi kebangsaan di pusara WR Soepratman, merawat semangat Indonesia melalui seni dan budaya.dok: ist.

Surabaya-(satujurnal.com)
Komunitas Kami Pecinta Indonesia Raya (KPIR) menawarkan cara berbeda dalam menggelar kegiatan seni dan kebudayaan. Melalui gerakan Buwuh Even, komunitas ini menghimpun donasi dari jaringan pertemanan untuk membiayai acara Meruwat Indonesia tanpa mengandalkan proposal bantuan kepada pemerintah maupun korporasi.

Donasi dibuka sebesar Rp100.000 melalui jaringan pertemanan di Facebook dan WhatsApp. Pola tersebut mengadopsi tradisi buwuh atau sumbangan dalam hajatan, kemudian dikembangkan menjadi dukungan gotong royong untuk penyelenggaraan kegiatan kebudayaan.

Meruwat Indonesia dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 28 Oktober 2026, pukul 16.30–21.00 WIB, di makam Pahlawan Nasional WR Soepratman, Jalan Kenjeran, Surabaya.

Kegiatan yang bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda itu digagas KPIR bersama Yayasan WR Soepratman dan Surabaya Digital City. Acara ini menjadi ruang refleksi kebangsaan di tengah berbagai persoalan, mulai dari korupsi, kerusakan sumber daya alam, kemiskinan, hingga tata kelola negara.

Ketua Pelaksana Meruwat Indonesia, Rokimdakas, mengatakan KPIR sengaja mengandalkan jejaring sosial untuk membangun dukungan masyarakat.

“Kami tidak menyebar proposal untuk meminta bantuan kepada instansi pemerintah. Nawaitu KPIR adalah membuat acara rakyat: dari rakyat, oleh rakyat, untuk Indonesia,” ujarnya.

Buwuh Even, Menghidupkan Gotong Royong dalam Kegiatan Kreatif

Dalam tradisi masyarakat Indonesia, buwuh identik dengan pemberian sumbangan kepada kerabat, tetangga, atau kenalan yang menggelar pernikahan dan hajatan lainnya.

KPIR mencoba memperluas praktik tersebut ke penyelenggaraan kegiatan seni dan kebudayaan. Melalui Buwuh Even, jaringan pertemanan tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga kekuatan kolektif untuk mendukung acara.

Menurut Rokimdakas, pendekatan ini bisa menjadi alternatif bagi komunitas kreatif yang menghadapi keterbatasan biaya produksi.

Selama ini, sebagian penyelenggara kegiatan mengandalkan proposal untuk memperoleh bantuan pemerintah maupun perusahaan. Padahal, proses mendapatkan dukungan tersebut tidak selalu mudah.

Buwuh Even menawarkan pendekatan berbeda. Dana dapat dihimpun dari banyak orang yang memiliki kepedulian terhadap kegiatan, sehingga penyelenggara tidak sepenuhnya bergantung pada satu sumber pendanaan.

Namun, keberhasilan pola ini membutuhkan pengelolaan yang transparan. Informasi mengenai kebutuhan anggaran, jumlah donasi yang diterima, serta penggunaannya penting disampaikan kepada para pendukung untuk menjaga kepercayaan bersama.

Kegiatan Seni Berpotensi Menggerakkan Ekonomi Rakyat

Bagi Rokimdakas, penyelenggaraan acara seni tidak semestinya hanya berorientasi pada pertunjukan. Kegiatan tersebut juga berpotensi membuka ruang ekonomi bagi berbagai kalangan.

Seniman, pekerja kreatif, pembuat konten, pelaku kuliner, penyedia transportasi, hingga usaha kecil di sekitar lokasi dapat memperoleh manfaat ketika kegiatan melibatkan banyak pihak.

“Jika buwuhan itu dikembangkan untuk even, maka akan banyak program masyarakat yang bisa digelar. Semakin banyak even, semakin banyak potensi dan aspek ekonomi yang tergerak,” tuturnya.

Gagasan tersebut menempatkan kegiatan kebudayaan sebagai ruang kolaborasi antara komunitas, pelaku seni, dan masyarakat. Dampak ekonominya akan semakin terasa apabila penyelenggara melibatkan pelaku usaha lokal dan membangun kerja sama yang berkelanjutan.

Meruwat Indonesia Hadirkan Seni Tradisi dan Pesan Kebangsaan

Selain menawarkan pola pendanaan berbasis gotong royong, Meruwat Indonesia menghadirkan beragam pertunjukan seni sebagai medium refleksi kebangsaan.

Salah satu sajian utama adalah Teater Mantra bertajuk Doa Tolak Balak, yang menghadirkan Nyai Ngatinah, 69 tahun, seorang empu seni tradisi. Heri Jolotundo bertugas sebagai ilustrator, sedangkan Rokimdakas menjadi sutradara.

Perguruan Seni Budaya Kampoeng Ilmu (PSBKI) akan menyuguhkan Tari Remo kolosal. Acara juga dimeriahkan musik oriental oleh W Sibling, paduan suara SMK Muhammadiyah, serta deklamasi oleh Denting Kemuning.

Meruwat Indonesia digelar pada 28 Oktober, bertepatan dengan peringatan 98 tahun lagu Indonesia Raya pertama kali diperdengarkan dalam Kongres Pemuda II pada 1928.

KPIR juga ingin memperluas pengenalan lagu Indonesia Raya tiga stanza kepada masyarakat. Menurut Rokimdakas, masyarakat lebih akrab dengan stanza pertama, sedangkan dua stanza berikutnya belum banyak dinyanyikan dalam kegiatan publik.

Pengenalan lagu kebangsaan secara utuh diharapkan dapat memperkuat pendidikan kebangsaan, terutama bagi generasi muda.

Sejumlah komunitas dan jejaring media turut dilibatkan, di antaranya Komunitas Surabaya Juang, Pecinta Alam dan Pendaki Gunung MGM, MASTRIP, serta Paguyuban Cak Ning.

Melalui Meruwat Indonesia, KPIR ingin memperlihatkan bahwa keterbatasan dana tidak harus menghentikan inisiatif kreatif masyarakat. Jaringan sosial, transparansi, dan semangat gotong royong dapat menjadi modal bersama untuk menghidupkan kegiatan kebudayaan sekaligus merawat kepedulian terhadap masa depan bangsa.(one/sst)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version