Home Esai Camping 1 Suro di Pantai Wedi Awu: Antara Ombak, Tenda, dan Tradisi

Camping 1 Suro di Pantai Wedi Awu: Antara Ombak, Tenda, dan Tradisi

0
Cengkrama: menikmati suasana malam di Pantai Wedi Ayu

Sepenggal Kisah

Di balik hiruk-pikuk tahun ajaran yang padat, jeda liburan menjadi ruang penting bagi para pendidik untuk menyegarkan pikiran dan memperkuat ikatan kebersamaan. Kali ini, redaksi satujurnal.com menghadirkan catatan ringan namun penuh makna dari salah seorang guru madrasah di Kota Mojokerto yang memilih merayakan awal tahun baru Islam, 1 Suro 1447 H, dengan cara yang tak biasa: berkemah di Pantai Wedi Awu, Malang Selatan.

Tak hanya menjadi momen penyegaran, perjalanan ini juga beririsan dengan kekayaan budaya lokal berupa ritual larung sesaji yang digelar masyarakat pesisir. Sebuah refleksi sederhana tentang relasi manusia dengan alam, tradisi, dan sesama.

———————

KAMI memulai perjalanan pada Jumat pagi, 27 Juni 2025, sekitar pukul 08.30 WIB dari halaman sekolah. Rombongan kami terdiri dari 22 orang: 5 guru laki-laki, 14 guru perempuan, dan 3 anak perempuan yang ikut serta karena orang tuanya juga guru.

Kami menggunakan satu unit Elf long dan satu mobil pribadi. Rutenya cukup nyaman: lewat Japanan, masuk Tol Malang, lalu turun di pintu tol menuju sebuah masjid untuk melaksanakan salat Jumat. Usai salat, kami menyantap bekal makan siang masing-masing di pelataran masjid. Suasananya hangat, seperti piknik kecil sebelum menantang perjalanan utama.

Jalan Berkelok, Pemandangan Meneduhkan

Perjalanan dari Malang menuju Pantai Wedi Awu tak semudah yang dibayangkan. Jalan yang kami lalui berkelok-kelok, menurun tajam, dan cukup sempit. Bagi yang baru pertama kali ke pantai ini, sensasi “terombang-ambing” di kendaraan menjadi pengalaman tersendiri. Namun semua rasa mual dan waswas terbayar lunas oleh pemandangan yang tersaji: hamparan kebun, perbukitan, dan sesekali langit biru menyembul dari sela-sela dedaunan.

Sekitar pukul 16.00 WIB, kami tiba di Pantai Wedi Awu. Tak jauh dari bibir pantai—sekitar 50 meter—kami langsung membuka tenda. Delapan tenda kami tata membentuk huruf U. Tata letak ini sengaja dipilih agar ruang tengah bisa dimanfaatkan untuk aktivitas bersama: masak, salat, dan bercengkerama.

Fasilitas cukup mendukung. Tersedia musholla, kamar mandi umum, kantin, bahkan jaringan Wi-Fi. Meskipun ada penginapan, kami tetap memilih tidur di tenda. Itulah inti dari camping ini.

Malam yang Terburu Hujan

Sore menjelang malam kami habiskan dengan santai. Sebagian memasak, sebagian duduk di atas tikar, berbincang dan tertawa. Tapi sekitar pukul 22.00 WIB, hujan deras turun tanpa aba-aba. Angin membawa rintik menjadi suara ritmis di atas kanopi tenda. Tanpa banyak kata, semua masuk ke dalam tenda masing-masing.

Tak ada api unggun. Tak ada permainan kelompok. Tapi hujan malam itu justru memberi kesan yang lain. Di dalam tenda, kami berbagi cerita sambil menyimak suara hujan dan debur ombak dari kejauhan.

Pagi yang Dingin, Ombak yang Menderu

Pagi harinya, suasana berubah cerah. Kami kembali menyalakan kompor, memasak, menyeduh kopi dan teh, serta menghangatkan sisa logistik. Anak-anak berlarian kecil, para guru perempuan menyapu area tenda, dan yang lain duduk memandang laut.

Pantai Wedi Awu menyuguhkan ombak besar yang menderu tanpa henti. Di dekat pantai, terdapat papan peringatan berukuran besar bertuliskan larangan mandi di laut. Ombaknya memang tinggi dan bergulung cepat, menjadi alasan mengapa pantai ini juga dikenal di kalangan peselancar.

Tak ada yang berenang. Tapi semua menikmati laut dengan cara masing-masing: duduk termenung, mengambil foto, atau berjalan menyusuri garis pantai yang masih alami. Angin pantai menyapu wajah kami, seolah membisikkan ucapan selamat tahun baru yang sangat personal.

Larung Sesaji: Menghormati Laut dan Leluhur

Sabtu, 28 Juni 2025, bertepatan dengan 1 Suro, masyarakat setempat menggelar ritual larung sesaji. Acara ini berlangsung khidmat. Warga membawa sesaji berupa bunga, makanan, dan perlengkapan adat, lalu menghanyutkannya ke laut sebagai bentuk penghormatan kepada penguasa laut dan memohon keselamatan di tahun yang baru.

Kami hanya menyaksikan dari kejauhan, tapi cukup untuk merasa terhubung. Tradisi ini mengingatkan kami bahwa pantai bukan sekadar objek wisata, tapi juga ruang spiritual dan budaya yang hidup. Larung sesaji bukan hanya simbol, tapi jembatan antara manusia, alam, dan leluhur.

Pulang dengan Semangat Baru

Menjelang pukul 11 siang, kami bersiap kembali ke Kota Mojokerto. Sampah kami kemas rapi, tenda dilipat, dan setiap orang membawa pulang sesuatu yang tak bisa dimasukkan dalam tas: kenangan, ketenangan, dan semangat baru untuk kembali mengajar.

Bagi kami, camping di Pantai Wedi Awu bukan sekadar liburan. Ia adalah momen untuk berkumpul tanpa tekanan, menyatu dengan alam, dan menyaksikan tradisi yang memberi kita pelajaran tentang rasa hormat dan keseimbangan.

Semoga tahun baru ini membawa kedamaian, seperti suara ombak yang kami dengar malam itu. (B.Ridwan)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version