
Buku Ke-9 Karya Djadi Galajapo
ADA orang yang menghabiskan hidupnya dengan membuat orang lain tertawa. Ada pula yang memilih menulis untuk mengajak orang lain merenung. M. Cheng Hoo Djadi Galajapo agaknya memilih keduanya, tertawa dan merenung, lalu mempertemukan keduanya dalam sebuah buku.
Senin, 10 Agustus 2026, di Family Mart Rungkut Madya Surabaya, komedian, pendakwah, sekaligus pegiat literasi itu meluncurkan buku kesembilannya, NGISLAM. Buku setebal 108 halaman tersebut seperti membuka pintu lain dari sosok Djadi yang selama ini dikenal di panggung lawak. Di balik kelucuan dan spontanitas seorang komedian, ternyata ada perjalanan panjang menuju pertanyaan yang lebih sunyi: bagaimana agama tidak hanya berhenti pada pengakuan, tetapi tumbuh menjadi laku hidup.
Lima Pilar yang Diwariskan Leluhur
Bagi Djadi, Ngislam adalah perjalanan ke kedalaman batin. Ia mencoba menyusun kembali warisan nilai yang telah lama hidup dalam tradisi para wali, empu, dan sesepuh Jawa: eling, sabar, loman atau dermawan, andhap asor atau sopan santun, serta manungaling kawula Gusti.
“Yang saya lakukan hanyalah menyusun ulang lima pilarnya ke dalam bahasa yang mudah dimengerti generasi masa kini,” ujarnya.
Di sana, kata Ngislam memperoleh makna yang lebih luas. Menjadi seorang yang Ngislam, menurut Djadi, adalah menghidupkan nilai-nilai Islam dalam keseharian. Bukan berhenti pada identitas, melainkan menghadirkannya dalam sikap, tutur kata, kesabaran, kemurahan hati, kerendahan hati, hingga hubungan manusia dengan Tuhan.
Ia membutuhkan waktu sekitar setahun untuk menyiapkan buku ini. Serat-serat klasik Jawa, kitab-kitab tasawuf, serta pengalaman pribadi menjadi bahan yang ia endapkan sebelum akhirnya dirangkai menjadi buku. Barangkali memang begitu cara seorang pengembara batin bekerja: membaca banyak hal, mengalami lebih banyak hal, lalu perlahan menemukan makna di antara keduanya.
Hadiah untuk Perempuan yang Menemaninya
Ada kisah personal yang membuat buku ini terasa semakin intim. NGISLAM dipersembahkan Djadi untuk istrinya, Meliana Prastia Ningsih, yang genap berusia 60 tahun pada 8 Agustus 2026. Dua hari setelah ulang tahun itu, buku pun diluncurkan.
Seolah sebuah hadiah tidak harus dibungkus kertas kado. Kadang ia berupa 108 halaman yang lahir dari permenungan selama setahun. Sebuah hadiah yang tidak hanya diberikan kepada seseorang yang dicintai, tetapi juga menjadi penanda perjalanan hidup bersama.
Djadi memang memiliki kebiasaan menandai momentum penting dalam hidupnya melalui karya dan tindakan. Pada 2025, ketika usia pernikahannya bersama Meliana mencapai 35 tahun, keduanya mendeklarasikan gerakan donor organ tubuh setelah meninggal dunia. Setahun sebelumnya, pada usia 59 tahun, Djadi menerbitkan buku ke-8 berupa antologi puisi.
Maka NGISLAM terasa seperti kelanjutan dari kebiasaan itu. Setiap usia, setiap peristiwa, seperti ingin ia beri tanda. Bukan dengan pesta yang cepat berlalu, melainkan dengan sesuatu yang dapat tinggal lebih lama: sebuah karya.
Dari Galajapo ke Jalan Dakwah
Nama Djadi sendiri memiliki perjalanan yang panjang. Lahir di Gresik pada 8 Maret 1965 dengan nama Darmadjadi, ia kemudian dikenal luas sebagai Galajapo. Nama itu berasal dari grup lawak yang didirikannya bersama Priyo Aljabar dan Lutfie, dua sahabat yang kini telah berpulang.
Galajapo merupakan akronim dari “gabungan lawak juara Jawa Pos”, nama yang lahir setelah ketiganya menjadi pemenang lomba lawak yang digelar harian pagi Jawa Pos pada 1992. Dari panggung itulah perjalanan komedinya berlanjut. Kini Djadi menjalani jalan yang lebih beragam sebagai komedian, MC, pendakwah, sekaligus penulis.
Mungkin ada benang merah yang diam-diam menyatukan semua peran itu. Lawak membuat orang tersenyum, dakwah mengajak orang merenung, sementara buku memberinya ruang untuk berbicara lebih pelan. Dan di usia 61 tahun, Djadi seperti sedang menyusun kembali serpihan perjalanan itu menjadi satu kalimat sederhana: hidup akhirnya bukan tentang berapa banyak orang mengenal kita, melainkan seberapa jauh nilai yang kita yakini menjelma dalam kehidupan.
Epilog: Pulang ke Dalam Diri
NGISLAM barangkali tidak lahir dari ruang yang sunyi. Ia lahir dari seorang komedian yang bertahun-tahun hidup di tengah riuh tepuk tangan, panggung, mikrofon, dan tawa. Tetapi justru dari riuh itulah seseorang kadang menemukan kebutuhan untuk menepi.
Djadi memilih menepi lewat buku. Membaca kembali warisan leluhur, menyelami tasawuf, mengingat pengalaman hidup, lalu menuliskannya dengan bahasa yang ingin ia dekatkan kepada generasi hari ini.
Pada akhirnya, Ngislam bukan hanya judul sebuah buku. Ia seperti ajakan untuk berhenti sejenak, menengok ke dalam diri, lalu bertanya dengan suara yang paling jujur: setelah sekian jauh berjalan, sudahkah agama benar-benar menjadi cara kita menjalani hidup?. (Ridwan/Sas)