
Sore, 23 Desember 2025, saya memindai katalog digital pameran tunggal Diak Eko di area pameran. Beberapa jam kemudian, ketika malam benar-benar jatuh, berkas PDF yang tersimpan di Google Drive itu saya buka kembali. Ada jarak waktu di antaranya, dan jarak itulah yang justru memberi makna. Seperti membuka pintu yang sama dari sisi yang berbeda.
Lembar pertama menyapa dengan tajuk yang tidak terdengar ingin mengesankan: Katalog Pameran Tunggal: Warna, Jiwa, dan Ruang Imajinasi. Karya sang jurnalis Diak Eko Purwoto. Di bawahnya, foto close-up memperlihatkan Diak Eko Purwoto tengah melukis. Tidak ada pose heroik, tidak ada dramatika. Hanya tangan, kanvas, dan wajah yang tenggelam dalam kerja. Ia tampak seperti seseorang yang sedang sendirian bersama pikirannya dan tidak keberatan dengan kesendirian itu.
Nama lain muncul dalam konteks yang berbeda. Lewat kolaborasi dengan Radar Mojokerto, pameran ini diperkenalkan sebagai Gen Art Festival 2025 – Pameran Tunggal Diak Eko. Satu pameran, dua penamaan. Yang satu bernada personal dan reflektif, yang lain komunikatif dan terbuka. Keduanya tidak saling meniadakan. Justru di sanalah pameran ini menemukan ritmenya: bergerak di antara ruang batin dan ruang publik.
Diak Eko menyebut karya-karyanya sebagai realisme. Namun sejak awal ia tidak menutup kemungkinan bagi imajinasi. Dalam narasi pembuka katalog, ia menuliskan bahwa pameran ini adalah ruang pertemuan dua sisi hidupnya, rasionalitas seorang jurnalis dan kepekaan emosional seorang perupa. Sebuah pengakuan yang terasa jujur, nyaris tanpa beban teori. Melalui lukisan-lukisan itu, pengunjung diajak membaca kehidupan bukan dari kesimpulan, melainkan dari warna, bentuk, dan intuisi.
Di dalam katalog, setiap lukisan diberi judul, ukuran, dan keterangan media. Namun di ruang pamer, kanvas-kanvas itu berdiri tanpa penjelasan apa pun. Tidak ada teks pengantar. Tidak ada narasi yang membatasi. Diak Eko beralasan, realisme yang ia kerjakan bisa dinikmati semua usia; karena itu, judul tidak ia anggap keharusan di setiap bingkai.
Nada ini tampak sederhana, tetapi menyimpan daya tarik tersendiri. Makna seolah ditunda. Tafsir tidak disodorkan. Ia menunggu. Dalam konteks inilah katalog digital menemukan fungsinya yang lain: bukan semata dokumentasi, melainkan ruang jeda, tempat seseorang bisa berhenti sejenak dari hiruk-pikuk, lalu membaca ulang apa yang baru saja ia lihat.
Tema pameran ini bergerak di wilayah yang akrab: kehidupan sehari-hari, tokoh-tokoh publik, alam, kesendirian, dan warisan budaya Jawa. Semua hadir dengan nada yang tertahan, nyaris datar. Seperti cara seorang wartawan berdiri agak jauh dari peristiwa : mengamati, mencatat, lalu memilih diam.
Di antara karya-karya itu, Kesendirian di Kesunyian Pantai muncul sebagai titik paling hening. Seorang nelayan berdiri sendirian di tepi air yang tenang, membelakangi penonton. Pohon kering, burung-burung yang terbang menjauh, dan palet warna yang ditahan membangun suasana sunyi yang akrab. Tidak ada dramatika. Tidak ada isyarat tragedi. Hanya satu tubuh kecil di hadapan bentangan alam yang luas. Sebuah keadaan, bukan peristiwa.
Nada yang berbeda hadir dalam Dalang Pewayangan. Warna-warna tegas menyala dari latar gelap, seolah cahaya cerita baru saja dinyalakan. Sang dalang duduk bersila, kedua tangan mengangkat gunungan. Dunia seperti ditahan sejenak sebelum kisah dimulai. Wayang di sini tidak hadir sebagai nostalgia, melainkan sebagai ingatan kolektif. Cara lama manusia memahami hidup melalui lakon.
Lalu ada Sabung Ayam. Keramaian desa, lingkaran para lelaki, tatapan yang menegang, dan dua ayam jago di tengah arena. Lukisan ini tidak mengajak penonton mengambil posisi moral. Ia hanya memperlihatkan: sebuah tradisi, sebuah peristiwa sosial, sebuah kebersamaan yang lahir dari ketegangan. Diak Eko tidak memihak. Ia hadir sebagai saksi, membiarkan jarak itu ditentukan oleh yang melihat.
Potret-potret tokoh publik mengisi bagian lain pameran. Wajah-wajah yang dikenali, pose yang familier, simbol-simbol yang digunakan secara hemat. Di antaranya, potret Ibrahim Traoré terasa paling politis, sekaligus paling manusiawi: seorang pemimpin dengan seorang anak di pangkuannya. Kekuasaan dan perlindungan, kekerasan sejarah dan harapan masa depan, bertemu dalam satu bingkai yang tenang, tanpa teriak, tanpa khotbah.
Secara keseluruhan, Gen Art terasa seperti catatan harian yang dibuka perlahan. Tidak semua halaman ingin dibaca keras-keras. Tidak semua gambar meminta tafsir panjang. Sebagai pelukis otodidak, Diak Eko tidak menutupi kepolosannya. Justru di sanalah kekuatannya, seperti berita yang jujur, yang tidak perlu menjelaskan segalanya agar bisa dipercaya.
Saya menutup katalog digital ketika mata mulai lelah. Layar ponsel kembali gelap, kamar kembali sunyi. Yang tersisa hanyalah satu kesan: di penghujung Desember, di sebuah mall di Kota Mojokerto yang sibuk oleh lampu, diskon, dan langkah orang-orang yang ingin segera sampai, katalog digital itu telah menjalankan perannya dengan sederhana, memberi ruang.
Ruang untuk menunda.
Ruang untuk diam.
Dan mungkin, di situlah seni menemukan tempatnya yang paling jujur: menunggu siapa pun yang bersedia berhenti sejenak, lalu kembali berjalan dengan mata yang sedikit lebih lapang.(ridwan)