Home Esai Sosok Widijawati Wilopo, Perempuan yang Menabur Kebaikan Lewat Sapuan Warna

Widijawati Wilopo, Perempuan yang Menabur Kebaikan Lewat Sapuan Warna

0
Widijawati Wilopo berpose di samping karyanya berjudul Panen dalam Pameran Lukisan Nasional yang dihelat Komunitas Pelukis Galery Celurit Emas di di Plasa Marina Surabaya, Sabtu (1/8/2026). Di sisi lain, tersimpan kenangan perjalanan bersama almarhum suami saat menyaksikan tradisi Hombo Batu di Nias pada 2017. Pengalaman itu kemudian menjelma menjadi sebuah lukisan yang merekam lompatan budaya, kenangan, dan jejak perjalanan hidupnya.foto dok: Widijawati Wilopo

DI SEBUAH KANVAS, sebatang pohon berdiri tanpa daun. Batangnya kokoh, ranting-rantingnya menjulur ke langit tanpa sehelai hijau yang meneduhkan. Seorang pengunjung pernah menyukai lukisan itu, bahkan berniat membelinya. Namun ada satu permintaan, pohon itu diminta diberi daun agar tampak lebih indah.

Widijawati Wilopo menolak.

Bagi pelukis asal Surabaya itu, pohon tersebut telah selesai bercerita. Mengubahnya berarti mengubah permenungan yang selama ini ia rawat.

“Di usia senja, terkadang perasaan terasa kering seperti batang pohon tanpa daun. Tetapi hati harus tetap semangat, tetap gembira, berbunga-bunga,” tuturnya.

Kalimat itu membuka jalan untuk memahami dunia Widijawati. Setiap lukisannya lahir dari perjalanan hidup, dari kenangan, dari kehilangan, dari rasa syukur, juga dari keyakinan sederhana, siapa pun yang menabur benih kebaikan akan menuai kebaikan.

Pertemuan kami berlangsung singkat saat pembukaan Pameran Lukisan Nasional
bertajuk “Warna dan Keberagaman Budaya Dalam Kanvas” yang dihelat Komunitas Pelukis Galery Celurit Emas di
di Plasa Marina Surabaya, Sabtu (1/8/2026).

Di tengah lalu lalang pengunjung, Widijawati, satu dari 120 pelukis yang menampilkan karyanya di pameran itu tampak lebih senang berbicara tentang proses dibanding membicarakan dirinya sendiri.

Ia menunjuk salah satu tekstur tebal pada kanvas.

“Itu saya buat pakai pisau palet, kadang juga jari tangan.”

Pilihan teknik itu lahir bukan karena ingin berbeda.

Melainkan karena di sanalah ia menemukan kebebasan.

“Dengan teknik palet dan juga jari tangan, saya lebih merasakan ada kebebasan.”

Jawaban itu baru benar-benar saya pahami setelah percakapan berlanjut esok harinya melalui WhatsApp hingga larut malam. Satu demi satu foto karya dikirimkan. Jumlahnya lebih dari dua puluh. Setiap foto disertai kisah yang melatarbelakanginya.

Menjelang pukul dua dini hari, sebuah pesan kembali masuk.

“Maaf tulisan saya nggak runut, dan dokumentasi saya juga semrawut. Saya harus terus belajar.”

Perkataan itu justru memperlihatkan kerendahan hati seorang seniman yang telah puluhan kali berpameran, tetapi masih merasa dirinya seorang pembelajar.

Widijawati mulai melukis pada 2007.

Ia belajar secara otodidak, lalu memperkaya pengetahuannya bersama teman-teman di Sanggar Aksera, Surabaya.

Perjalanan itu sempat berhenti ketika kesibukannya sebagai pengurus PKK Kota Surabaya di bidang lingkungan hidup dan pengelolaan sampah menyita hampir seluruh waktunya.

Setelah bergabung dengan Ikatan Wanita Pelukis Indonesia (IWPI) Jawa Timur, semangatnya tumbuh kembali. Kini ia dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Ketua IWPI Jawa Timur periode 2024–2027.

Meski aktif berpameran, Widijawati tidak pernah menganggap dirinya telah selesai belajar.

“Saya tidak punya latar belakang seni rupa. Sangat sulit kalau harus melukis realis. Saya merasa tertekan.”

Teman-teman di komunitas justru menjadi tempatnya ngangsu kawruh.

Mereka mengajarinya mengenal pisau palet, mengarahkan tanpa menggurui, mengkritik tanpa menjatuhkan.

“Dari belajar dengan teman-teman pelukis, akhirnya saya nyaman melukis menggunakan pisau palet. Rasanya lega, tanpa tekanan.”

Bagi Widijawati, melukis adalah ruang mengolah emosi.

“Saya bisa mengurek-urek cat di kanvas tanpa mengganggu lingkungan sekitar.”

Dalam perjalanan berkesenian, ada satu nama yang selalu ia kenang.

Almarhum suaminya.

“Beliau yang paling berpengaruh dalam perjalanan saya melukis. Kami sama-sama senang berteman dengan para seniman.”

Dulu, setiap karya yang selesai dibuat selalu mendapat kritik pertama dari sang suami.

Kini, setelah kepergiannya, Widijawati belajar membuka diri kepada kritik dari teman-teman komunitas.

“Dulu pengkritik saya suami. Setelah beliau meninggal, saya harus belajar menerima kritik dari teman.”

Barangkali di situlah makna komunitas bagi Widijawati.

Ia menemukan persahabatan, ruang belajar, dan semangat untuk terus bertumbuh.

Baginya, setiap pameran selalu menghadirkan pengalaman baru. Ia bertemu pelukis dengan karakter yang beragam, saling bertukar pandangan, saling menguatkan, sekaligus saling mengingatkan untuk tetap rendah hati.

Bunga menjadi tema yang paling sering hadir dalam karya-karyanya.

Pilihan itu tumbuh dari kegemarannya merawat tanaman. Ia pernah memimpin Perkumpulan Pecinta Tanaman, sehingga bunga lili, lotus di halaman rumah, bunga matahari, hingga aglaonema menjelma menjadi sumber inspirasi.

Satu demi satu karya kemudian menemukan pemiliknya.

Ada yang dibeli tamu Hotel Aston Gresik.

Ada yang dibawa pulang kolektor dari Australia.

Ada yang menjadi hadiah ulang tahun.

Ada pula yang dibeli sahabat sesama pecinta tanaman.

Namun, ada juga karya yang sengaja dibuat sebagai hadiah.

Salah satunya adalah lukisan Bunda Maria yang ia persembahkan untuk ulang tahun ibu besannya.

“Ibu besan saya seorang pendoa,” ujarnya.

Lukisan itu menjadi ungkapan kasih dan penghormatan kepada sosok yang tekun menjalani hidup dalam doa.

Di tangan Widijawati, kanvas sering kali menjadi bahasa yang lebih dalam daripada kata-kata.

Pada pameran kali ini, Widijawati menghadirkan lukisan bertema Panen.

Panen yang ia maksud bukan hasil bumi.

Panen yang tumbuh dari benih-benih kebaikan.

“Dengan menabur benih kebaikan, akan menuai kebaikan, bahkan kelimpahan yang bermanfaat buat sesama.”

Filosofi itu mengalir hampir di setiap karya yang ia ciptakan.

Ia percaya setiap lukisan membawa cerita, harapan, dan energi yang akan hidup bersama orang yang memilikinya.

“Kalau ada yang mengapresiasi karya saya, saya bahagia. Kalau ada yang membeli, itu rezeki dari Tuhan. Kalau ada yang suka tetapi tidak membeli, saya juga tidak keberatan menghadiahkannya. Apresiasi tidak harus selalu diwujudkan dengan materi.”

Percakapan kami sempat menyentuh dunia digital.

Marketplace seni, galeri digital, hingga sertifikat digital karya menjadi topik yang baru baginya.

Alih-alih ragu, ia justru ingin belajar.

“Kita harus bisa memanfaatkan kemajuan teknologi, tetapi tidak meninggalkan yang manual.”

Lalu ia tersenyum sambil membuat perumpamaan sederhana.

“Saya bisa menyetir mobil matic, tetapi lebih suka mobil manual. Dengan yang manual semua indra, rasa, dan emosi lebih terasah.”

Perumpamaan itu menggambarkan cara pandangnya terhadap perkembangan zaman.

Teknologi diterima sebagai peluang, sementara sentuhan manusia tetap menjadi ruh yang tidak tergantikan.

Ketika ditanya apa arti melukis baginya, Widijawati menjawab dengan kalimat yang ringkas.

“Melukis mengasah emosi, rasa, ketekunan, kesabaran, dan mengajarkan saya untuk tidak iri hati.”

Harapannya pun sederhana.

Ia ingin semakin banyak perempuan berani berkesenian, apa pun latar belakang pendidikannya.

“Teruslah berkesenian, tidak hanya melukis. Berkesenian akan mengolah rasa. Setiap orang sebaiknya memiliki hobi di luar profesinya.”

Di penghujung percakapan, saya kembali teringat pohon tanpa daun yang ia pertahankan.

Bagi sebagian orang, pohon itu mungkin tampak gersang.

Namun bagi Widijawati Wilopo, di sanalah harapan tumbuh.

Sebab ia percaya, hati yang tetap dipelihara dengan rasa syukur akan selalu menemukan musimnya sendiri untuk berbunga.

Dan selama tangan itu masih mampu menggenggam pisau palet atau menyentuhkan jari pada kanvas, ia akan terus menabur benih-benih kebaikan lewat sapuan warna.(Ridwan)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version