Jeriken dan Harapan: Asa Warga Kunjorowesi di Tengah Krisis Air

    0
    Seorang warga membawa jeriken berisi air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di Dusun Kandangan, Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. dok: ist.

    DI BAWAH TERIK MATAHARI, langkah warga Dusun Kandangan, Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, terus bergerak. Jeriken-jeriken kosong menjadi teman perjalanan. Bagi mereka, mendapatkan air bersih berarti harus mengarungi perjalanan panjang, menyusuri jalan hingga menyeberang ke kabupaten tetangga.

    Hampir empat bulan terakhir, air menjadi sesuatu yang begitu berharga. Kemarau berkepanjangan sejak akhir Maret 2026 membuat sumber air semakin sulit dijangkau. Sebanyak 1.499 kepala keluarga (KK) atau 3.053 jiwa di Desa Kunjorowesi kini terdampak krisis air bersih.

    Kondisi paling terasa di Dusun Kunjoro dan Dusun Kandangan. Di kawasan yang berada di lereng Gunung Penanggungan itu, warga bertahan di tengah gempuran kemarau dengan mengandalkan sisa air hujan yang mereka tampung di kolam maupun tandon di rumah masing-masing.

    Namun, persediaan itu semakin menipis.

    Mahfud (43), warga Dusun Kandangan, menjadi satu dari sekian banyak warga yang setiap hari harus menyusuri liku kehidupan di tengah keterbatasan air. Menurut dia, kekeringan telah berlangsung hampir empat bulan. Situasi serupa nyaris selalu berulang setiap musim kemarau datang.

    “Sudah hampir empat bulan sejak April. Lingkungan sini memang kalau masalah air bersih tiap tahun tidak ada. Di sini ada sekitar 85 kepala keluarga,” kata Mahfud, Sabtu (18/7/2026).

    Menunggu Giliran Air hingga 12 Hari

    Ketika hujan masih turun, warga berusaha menyimpan sebanyak mungkin air. Setiap tetes yang jatuh dari langit ditampung sebagai bekal menghadapi hari-hari kering. Namun, air hujan yang tersimpan itu hanya mampu menopang kebutuhan mereka dalam waktu terbatas.

    “Air yang ditampung itu hanya bisa digunakan satu bulan saja dan tidak mencukupi,” tutur Mahfud.

    Harapan lain datang dari jaringan pipa bantuan desa yang mengalirkan air dari kawasan Trawas. Namun, pasokan tersebut harus dibagi bergiliran kepada warga di 12 rukun tetangga (RT).

    Bagi warga yang tinggal di RT 12, penantian bisa berlangsung hingga 12 hari sebelum giliran air tiba.

    “Ada 12 RT, jadi dibagi tiap hari atau bergilir. Kebetulan sini RT 12, jadi menunggu 12 hari dan airnya hanya bisa dipakai dua hari atau paling lama satu minggu,” ungkapnya.

    Di antara jeda panjang menunggu giliran itulah warga berusaha tak kehilangan asa. Mereka harus menghitung penggunaan air dengan cermat. Air dibutuhkan untuk minum, memasak, mandi, mencuci hingga kebutuhan sanitasi sehari-hari.

    Ketika persediaan benar-benar tak mencukupi, tak ada banyak pilihan. Warga harus menjemput air dari tempat yang jauh.

    Tujuh Kilometer demi Membawa Pulang Air

    Perjalanan itu mengarah ke kawasan Sumber Tetek di Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Jaraknya sekitar tujuh kilometer dari permukiman warga Dusun Kandangan.

    Bagi mereka yang memiliki sepeda motor, jeriken-jeriken dibawa sendiri. Air yang berhasil didapat kemudian diangkut pulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

    Namun, tidak semua warga memiliki kendaraan.

    Mereka yang tak mempunyai sepeda motor harus mencari cara lain. Menyewa mobil pikap menjadi pilihan. Biayanya ditanggung bersama-sama agar beban terasa lebih ringan.

    “Kalau yang tidak punya sepeda, artinya sewa pikap. Nanti sekitar 10 orang, ongkosnya bagi-bagi,” ujar Mahfud.

    Begitulah warga menapaki jalan berkelok menghadapi kemarau. Mereka tak menyerah pada keadaan. Di tengah keterbatasan, kebersamaan menjadi cara untuk bertahan.

    Air yang bagi sebagian orang cukup didapat dengan membuka keran, bagi warga di lereng Gunung Penanggungan harus ditebus dengan perjalanan, tenaga, waktu, dan biaya.

    Dua Kali Mengebor, Dua Kali Pula Harapan Pupus

    Upaya mencari jalan keluar sebenarnya pernah dilakukan. Warga mencoba mengebor tanah demi menemukan sumber air yang dapat menjadi tumpuan kehidupan mereka.

    Dua kali pengeboran dilakukan. Bahkan tenaga ahli didatangkan untuk mencari sumber air di dalam tanah.

    Namun, dua kali pula usaha itu berakhir tanpa hasil.

    Kegagalan tersebut tak membuat warga berhenti mengukir makna di tengah keterbatasan. Mereka tetap bertahan, mengandalkan sisa air hujan, menunggu giliran aliran pipa, atau menempuh perjalanan ke daerah lain demi membawa pulang beberapa jeriken air.

    Kini, di tengah kemarau yang terus berjalan, Mahfud bersama warga lainnya menjemput harapan dari datangnya bantuan air bersih. Mereka berharap BPBD Kabupaten Mojokerto maupun instansi terkait segera mengirimkan pasokan ke permukiman terdampak.

    “Mengandalkan air hujan dan bantuan. Kalau kemarau hanya mengandalkan air hujan saja. Kami berharap kepada BPBD atau dinas-dinas terkait yang ingin membantu air bersih. Tahun ini sudah hampir empat bulan kekeringan di sini, tetapi belum dapat bantuan atau belum datang,” harap Mahfud.

    Ribuan Warga Terdampak Kekeringan

    Krisis air bersih di lereng Gunung Penanggungan tidak hanya dirasakan warga Desa Kunjorowesi.

    Berdasarkan data BPBD Kabupaten Mojokerto, sedikitnya tiga desa terdampak kekeringan. Desa Kunjorowesi menjadi wilayah dengan jumlah warga terdampak terbesar, mencapai 1.499 KK atau 3.053 jiwa.

    Di Kecamatan Ngoro, kekeringan juga melanda Desa Manduro Manggung Gajah dengan 774 KK atau 2.086 jiwa terdampak. Sementara di Kecamatan Trawas, krisis air bersih terjadi di Desa Duyung dan berdampak terhadap 503 KK atau 1.564 jiwa.

    Di balik angka-angka itu ada ribuan orang yang harus melangkah tegar menjalani hari. Ada keluarga yang menunggu giliran air, ada warga yang memacu sepeda motor membawa jeriken, dan ada pula yang patungan menyewa pikap untuk mencari sumber kehidupan ke daerah tetangga.

    Di Kunjorowesi, kemarau bukan lagi cerita tentang tanah yang mengering. Ia menjelma menjadi perjuangan sehari-hari untuk mendapatkan kebutuhan paling mendasar: air.

    Selama hujan belum turun dan bantuan belum datang, warga tetap berdiri tegak meski terguncang keadaan. Dari lereng Penanggungan, mereka terus mengarungi musim kering—membawa jeriken kosong, menjemput air dari kejauhan, sekaligus menjaga harapan agar tetap terisi.(ridwan)

    NO COMMENTS

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Exit mobile version