
Mojokerto-(satujurnal.com)
Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Kota Mojokerto memasuki babak baru setelah Agus Wahjudi Utomo ditetapkan sebagai Ketua DPD APPSI Kota Mojokerto periode 2026–2031. Agus menyerukan kerja tulus, sinergi lintas sektor, dan langkah nyata agar keberadaan organisasi benar-benar memberi dampak bagi pedagang dan ekonomi kerakyatan.
Agus resmi dilantik dalam rangkaian Musyawarah Daerah (Musda), pengukuhan dan pelantikan pengurus DPD APPSI Kota Mojokerto di Sentra IKM Batik Kota Mojokerto, Jalan Kedungsari, Rabu (19/8/2026).
Pelantikan dilakukan Wakil Ketua Bidang Organisasi, Kaderisasi dan Keanggotaan (OKK) DPW APPSI Jawa Timur, Kemas, yang mewakili Ketua DPW APPSI Jatim Achmad Zaini. Prosesi ditandai penyerahan bendera pataka APPSI kepada Agus sebagai simbol dimulainya kepemimpinan baru.
Agus didampingi Siswahyu Kurniawan sebagai Sekretaris DPD APPSI Kota Mojokerto. Kepengurusan baru juga diperkuat komisariat pasar yang diposisikan sebagai ujung tombak organisasi dalam menyerap langsung aspirasi, keluhan dan kebutuhan pedagang.
Dalam sambutannya, Agus menyinggung perjalanan APPSI di tingkat nasional dan keterkaitan organisasi tersebut dengan Presiden RI Prabowo Subianto. Menurutnya, Prabowo memiliki sejarah panjang di APPSI dan pernah dipercaya memimpin organisasi tersebut sebelum kemudian menjadi Ketua Dewan Pembina.
“APPSI memiliki sejarah panjang. Ada tokoh-tokoh nasional yang pernah berada di dalam organisasi ini. Artinya, organisasi ini memiliki posisi penting dalam memperjuangkan kepentingan pedagang pasar,” ujar Agus.
Saat ini, APPSI dipimpin Sudaryono sebagai Ketua Umum. Struktur resmi APPSI mencatat Sudaryono sebagai Ketua Umum periode 2024–2029.
Sudaryono juga kini dipercaya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional setelah sebelumnya menjabat Wakil Menteri Pertanian RI.
Bagi Agus, perjalanan tokoh-tokoh tersebut memperlihatkan bahwa APPSI merupakan organisasi yang memiliki peran strategis bagi pedagang pasar. Organisasi ini memiliki ruang penting untuk memperjuangkan ekonomi kerakyatan sekaligus menjadi mitra pemerintah dalam berbagai persoalan perdagangan dan pangan.
Kerja Tulus, Bukan Semata Struktur
Agus memilih Sentra IKM Batik Kota Mojokerto sebagai lokasi pelantikan karena melihat kawasan tersebut memiliki potensi ekonomi kerakyatan yang perlu terus dikembangkan.
Menurut anggota DPRD Kota Mojokerto asal Partai Golkar tersebut, semangat penguatan pedagang pasar harus berjalan beriringan dengan pengembangan pelaku usaha dan industri kecil di Kota Mojokerto.
“Tempat ini kami pilih karena potensinya perlu terus dikembangkan. Semangatnya sama, bagaimana ekonomi kerakyatan di Kota Mojokerto bisa tumbuh dan memberikan dampak yang baik bagi masyarakat,” katanya.
Ia kemudian mengajak jajaran APPSI bekerja dengan tulus dan ikhlas. Struktur organisasi yang baru terbentuk, menurutnya, harus segera diterjemahkan menjadi kerja yang dirasakan masyarakat.
“Kerja dengan tulus dan ikhlas. Mari jajaran APPSI bersama-sama bekerja agar kehidupan Kota Mojokerto lebih baik dan apa yang kita lakukan memberikan dampak yang baik,” tegas Agus.
Pesan tersebut menjadi fondasi awal kepengurusan APPSI Kota Mojokerto periode 2026–2031. Agus menempatkan sinergi sebagai kunci, baik dengan pemerintah daerah, DPRD maupun seluruh pemangku kepentingan yang berkaitan dengan kehidupan pasar rakyat.
Pasar Rakyat Menghadapi Gempuran Modern dan Digital
APPSI Kota Mojokerto membawa sejumlah agenda yang langsung menyentuh kehidupan pedagang. Di antaranya pembenahan tata kelola pasar, peningkatan daya saing, penguatan kompetensi pedagang dan adaptasi terhadap perubahan pola belanja masyarakat.
Pasar tradisional kini tidak hanya berhadapan dengan retail modern. Perubahan perilaku konsumen dan pertumbuhan perdagangan online ikut mengubah peta persaingan.
Karena itu, APPSI Kota Mojokerto mendorong kolaborasi dengan Pemerintah Kota Mojokerto, termasuk DiskopUKMPerindag, untuk membangun pasar rakyat yang lebih bersih, tertib, aman dan nyaman.
Komisariat pasar juga akan menjadi bagian penting dari struktur organisasi. Unit tersebut diharapkan menjadi mata dan telinga APPSI Kota Mojokerto dalam menangkap persoalan pedagang dari lapangan.
Aspirasi mengenai harga, fasilitas, kebersihan, keamanan, retribusi hingga regulasi perdagangan akan dihimpun melalui struktur tersebut untuk kemudian diperjuangkan melalui jalur organisasi.
DPRD Dorong APPSI Kota Mojokerto Kawal Revitalisasi Pasar
Ketua DPRD Kota Mojokerto Ery Purwanti yang ditetapkan sebagai Dewan Pertimbangan APPSI Kota Mojokerto berharap kepengurusan baru mampu memperkuat sinergi ekonomi kerakyatan.
Ery menilai APPSI Kota Mojokerto memiliki posisi penting untuk mendukung program pemerintah daerah, terutama revitalisasi pasar tradisional dan peningkatan kualitas sarana-prasarana pasar.
“Kalau pasar sudah bersih dan nyaman, tentu warga akan banyak datang ke pasar tradisional. Gempuran pasar modern dan belanja online saat ini juga sangat mengikis keberadaan pasar tradisional. Ini menjadi perhatian kita bersama,” ujar Ery.
Selain revitalisasi, Ery meminta APPSI Kota Mojokerto ikut menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok melalui sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan.
Menurutnya, persoalan harga bahan pokok merupakan isu yang langsung menyentuh masyarakat. Karena itu, pedagang dan organisasi yang menaunginya memiliki peran strategis dalam menjaga kelancaran distribusi pangan.
“Tugas APPSI Kota Mojokerto adalah ikut menjaga kestabilan persediaan bahan pokok agar tetap terjangkau masyarakat Kota Mojokerto, tentunya dengan membangun sinergi dengan seluruh pihak,” katanya.
Ery juga mendorong APPSI Kota Mojokerto memperkuat kompetensi pedagang agar mampu menghadapi persaingan dengan pasar modern dan perdagangan berbasis digital.
“Pedagang pasar harus dibekali kemampuan dan kompetensi agar tetap eksis dan bertahan di pasar tradisional,” ujarnya.
Membawa Suara Pedagang ke Meja Kebijakan
Dengan kepengurusan baru, APPSI Kota Mojokerto menghadapi pekerjaan yang lebih besar daripada sekadar konsolidasi organisasi. Tantangannya adalah memastikan suara pedagang dari lapak-lapak pasar dapat diterjemahkan menjadi agenda bersama dan masuk dalam ruang kebijakan.
Pasar rakyat bukan semata tempat transaksi. Di balik setiap lapak terdapat mata pencaharian, keluarga, kebutuhan pangan dan harapan ekonomi warga.
Karena itu, Agus ingin APPSI Kota Mojokerto hadir sebagai organisasi yang bekerja di tengah persoalan tersebut. Bukan hanya menjadi wadah berhimpun, tetapi juga menjadi jembatan antara pedagang, pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan.
“Kita harus bersinergi. Mari kita bekerja bersama agar APPSI Kota Mojokerto memberikan manfaat dan kehidupan masyarakat Kota Mojokerto menjadi lebih baik,” pungkasnya.(one)