Home Catatan dari Tepi Catatan dari Tepi: Reel DLH dan Kesederhanaan yang Menggerakkan

Catatan dari Tepi: Reel DLH dan Kesederhanaan yang Menggerakkan

0
Gambar ilustrasi. dok:SJ

SEBUAH REEL Instagram Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mojokerto, direkam dengan kamera ponsel seadanya, tiba-tiba menjadi jendela kecil menuju percakapan yang lebih luas dari yang tampak. Durasi yang singkat itu menyimpan gema, gema yang mengajak kita berhenti sejenak, menimbang ulang hal-hal yang kerap luput dalam riuh kehidupan digital.

Caption reel yang diunggah enam hari lalu itu berbunyi lirih namun nakal: “Misi mencari Anita kita undur, dahulukan misi kurangi sampah plastik dimulai dari DLH. Kantormu sudah apa belum??”
Gurauan itu seperti mengetuk pelan kesadaran kita. Di tengah gelombang drama nasional tentang tumbler hilang, DLH memilih diam di luar arus, lalu menunjukkan arah lain, arah yang lebih sunyi namun lebih penting: sampah plastik yang menyesakkan bumi.

Dan saya teringat betapa cepatnya kita terseret perdebatan remeh-temeh di dunia maya; betapa ringan kita menghakimi dari balik layar; betapa mudah sebuah benda kecil menjadi badai yang seharusnya tidak pernah tumbuh sebesar itu.

Video pun dimulai: Plt Kepala DLH duduk bersama seorang ASN. Suara pewawancara bertanya dari balik kamera, “Pak… Pak… Hari ini membawa tumbler apa?”
Keduanya mengangkat kendi tanah liat kecil, semacam teko merah bata, sederhana, seperti mengembuskan angin dari dapur-dapur tua di Trowulan. Sebuah benda yang mengandung masa lalu, tetapi tampak begitu wajar berada di tangan mereka hari itu.

Teks besar di layar menyelinap dengan percaya diri: “TUMBLR MOJOPAHIT”. Di bagian bawah, tulisan lain muncul seperti punchline yang lebih dalam dari yang terlihat: “Spirit of MAJAPAHIT mendarah daging.”

Kalimat itu seperti jembatan halus antara dua zaman: birokrasi modern yang serba terburu-buru, dan Majapahit yang diam dalam ingatan panjang tanah Jawa.

Reel ini menghadirkan sesuatu yang jarang muncul dari institusi pemerintah: ketangkasan membaca denyut nadi budaya populer. Mereka meminjam bahasa meme, memutarnya, lalu mengembalikannya sebagai pesan ramah lingkungan yang hangat tanpa nada menggurui, tanpa sengatan sinisme, seolah menyapa teman lama.

Saya tersenyum, bukan semata oleh kelucuannya, tetapi oleh kemungkinan yang ia buka: bahwa birokrasi pun bisa berbicara dengan kelembutan, dengan keakraban yang tidak dibuat-buat.

Kendi itu bukan properti. Ia adalah ingatan yang hidup. Dalam dunia Jawa kuno, kendi adalah penjaga air, penjaga keseimbangan. Ia memeluk isi tanpa merusaknya, merawat tanpa menuntut apa-apa. Dan yang lebih penting: tidak membuat pemiliknya ingin curhat di Threads jika hilang.

Kamera bergerak ke meja-meja kerja ASN. Satu per satu mereka mengangkat tumbler masing-masing, sambil menjawab ringan:
“Souvenir workshop.”
“Hadiah istri.”
“Dari acara kemarin.”
“Dari kondangan…”

Ada pula yang salah mengucap merek, dan justru membuat momennya makin jujur.

Tumbler-tumbler itu tidak modis. Tidak mahal. Tidak bersinar untuk dipamerkan. Mereka adalah benda-benda yang telah menemani waktu, dipakai berulang, setia tanpa perlu sorotan.

Dalam kesederhanaan itu, saya melihat sesuatu yang jauh lebih indah: filosofi lama sedang bernafas kembali.

Kendi memanggil masa lalu. Tumbler reuse menghidupi masa kini. Keduanya saling menyapa di kantor DLH, tempat di mana sampah datang setiap hari tanpa permisi.

Reel itu seakan membisikkan pesan yang lebih besar dari tubuhnya: ada hal yang lebih penting daripada drama tumbler, yakni bumi yang kian sesak oleh plastik yang kita abaikan.

Di titik ini, video kecil itu menjelma bak renungan. Dalam tradisi Jawa, sumuruping banyu menggambarkan sesuatu yang menyatu dengan air akan kembali menemukan asal dan keseimbangannya. Air adalah guru yang diam. Kendi di tangan Plt Kepala DLH menjadi penanda: keberlanjutan bukan wacana baru, melainkan pengetahuan lama yang perlahan kita tinggalkan.

Di akhir reel, Sekretaris DLH mengangkat tumblernya seraya berujar, “Mari kurangi sampah plastik, DLH mantap.” Jempolnya terangkat. Ringan, tulus, seperti daun yang jatuh tanpa suara namun membawa musim berpindah.

Dan sekali lagi ingatan saya mengembara pada Majapahit. Pada masyarakat yang menjaga air, menghormati tanah, dan tidak mengambil lebih dari yang mereka butuhkan. Dalam caranya yang sederhana, reel DLH menyentuh denyut yang sama dengan gerakan Zero Waste global. Organisasi seperti Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) dan Indonesia Diet Kantong Plastik (IDKP) dan banyak gerakan lain telah lama menyuarakan prinsip reduce–reuse–recycle, prinsip yang ternyata sudah ditanamkan leluhur dalam bentuk yang lebih puitis: gunakan secukupnya, pakai ulang, dan kembalikan tanpa beban.

Kendi Majapahit dan tumbler reuse para ASN DLH berdiri di garis yang sama: garis yang menautkan masa lalu dengan masa kini, garis yang mengingatkan kita bahwa keberlanjutan bukanlah temuan baru, tetapi warisan tua yang sedang menunggu untuk dihidupkan kembali.

Dari tepi peristiwa kecil ini, saya belajar: sejarah tidak hanya terlipat di museum, ia bergerak dalam hal-hal yang tampak sepele: kendi tanah liat yang diangkat dalam reel, tumbler yang dipakai bertahun-tahun, dan candaan di caption yang menyelipkan hikmah.

Majapahit mungkin telah hilang dari peta politik, tetapi tidak dari cara kita memandang dunia. Ia tetap hidup sebagai bisikan: hormati air, rawat tanah, dan ambillah secukupnya.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising, bumi hanya meminta satu hal yang sederhana: pakailah kembali apa yang sudah kita punya.(Ridwan)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version