Modal Nekat Jadi Runner Up, Delegasi Anggrek Indonesia Berjuang Tanpa Dukungan Negara

    0
    Rudy T. Mintarto berpose di depan karya display Indonesia bertema budaya Nusantara bersama istrinya, Ratna Wulan, di arena pameran anggrek internasional di Genting Highland, Malaysia. dok: ist.

    DELEGASI INDONESIA berhasil meraih posisi runner up dalam pameran anggrek internasional di Genting Highland, Malaysia. Di balik capaian tersebut, tersimpan kisah perjuangan tim yang harus tampil tanpa membawa koleksi anggrek dari Tanah Air akibat rumitnya regulasi perizinan dan kepabeanan, serta keterbatasan pendanaan yang ditanggung secara mandiri.

    Pameran internasional tersebut diikuti berbagai negara yang membawa koleksi anggrek masing-masing. Namun Indonesia terpaksa menggunakan material anggrek yang dipesan dari panitia setempat senilai sekitar 8.000 Ringgit Malaysia. Keputusan itu diambil karena proses pengiriman tanaman dari Indonesia dinilai terlalu panjang, mahal, dan melibatkan banyak instansi.

    Win Selamat Riyadi, landscaper sekaligus Wakil Ketua Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) Tanah Laut, menuturkan, untuk mengirim anggrek ke luar negeri, peserta harus memperoleh izin dari sejumlah lembaga, mulai Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertanian, Kementerian Lingkungan Hidup, BKSDA hingga Bea Cukai.

    Selain memerlukan proses administrasi yang panjang, biaya pengiriman dan pemulangan tanaman ke Indonesia juga sangat besar. Kondisi tersebut membuat delegasi Indonesia memilih menggunakan anggrek yang tersedia di Malaysia dengan nilai sekitar 8.000 Ringgit Malaysia.

    Sebab anggrek yang berkembang di Asia pada umumnya sama karena hasil budidaya kultur jaringan atau hibryda, bukan spesies alami.

    Rudy T. Mintarto menegaskan bahwa hambatan utama bukan hanya biaya, tetapi juga pemahaman regulasi di lapangan.

    “Kami tidak mungkin membawa anggrek sendiri. Aturannya rumit dan mahal. Sering kali petugas juga tidak memahami perbedaan antara anggrek hasil persilangan dengan anggrek alam,” ujarnya.

    Padahal Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan spesies anggrek terbesar di dunia. Di sisi lain, negara-negara peserta lain dapat dengan leluasa membawa hasil budidaya mereka ke arena pameran internasional sekaligus mempromosikan produk untuk pasar ekspor.

    Meski menghadapi berbagai keterbatasan, delegasi Indonesia tetap hadir dengan satu tujuan sederhana: memastikan Merah Putih tetap berkibar di panggung dunia.

    “Saya hanya ingin dua hal. Bendera Indonesia tetap hadir bersama negara-negara lain, dan dunia tetap ingat bahwa Indonesia memiliki anggrek yang luar biasa,” kata Rudy.

    Semangat serupa ditunjukkan Win Selamat Riyadi bersama putranya, TB Farhan Davin, penata taman asal Pelaihari, Tanah Laut, Kalimantan Selatan, yang ikut membantu pengerjaan display Indonesia selama pameran berlangsung.

    Ada sisi cerita lain yang agak naif. Kondisi finansial tim Indonesia bahkan jauh dari kecukupan karena dibiayai secara mandiri. Permohonan bantuan pada Wakil Gubernur Jawa Timur maupun Dana Indonesia Raya sebagai Duta Budaya hanya bertepuk sebelah tangan.

    Dalam perjalanan menuju Kuala Lumpur, Rudy bahkan sempat berkelakar bahwa mereka mungkin menjadi penumpang paling “bokek” di dalam pesawat.

    Ketika ditanya isi dompetnya, ia tertawa.

    “Hanya ada 120 Ringgit.”

    Sementara Rokimdakas, wartawan yang mengikuti perjalanan tersebut, hanya membawa Rp 400 ribu yang setelah ditukar bernilai sekitar 78 Ringgit Malaysia.

    “Ini benar-benar perjalanan bonek. Bondho nekat. Yang penting Indonesia hadir,” ujarnya.

    Kisah di Genting Highland tersebut sekaligus menyoroti tantangan yang masih dihadapi petani, breeder, dan pegiat anggrek Indonesia untuk tampil di panggung internasional. Saat

    Thailand telah berhasil membangun merek “Thai Orchid” yang dikenal dunia. Malaysia sedang membangun identitas sebagai produsen bunga. Sementara Indonesia yang memiliki ribuan spesies anggrek eksotis justru masih berkutat pada persoalan birokrasi dan biaya perizinan.

    Di Genting Highland, Indonesia memang hanya menjadi runner up. Namun di balik trofi juara kedua itu tersimpan cerita tentang diplomasi budaya yang dijalankan oleh warga biasa dengan semangat gotong royong dan keberanian yang nyaris tanpa dukungan negara.

    Kadangkala Merah Putih tetap berkibar bukan karena negara hadir, melainkan karena masih ada orang-orang yang memilih berangkat meski hanya bondho nekat. (Kim/one)

    NO COMMENTS

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Exit mobile version