Surabaya-(satujurnal.com)
Festival Ludruk Surabaya 2026 menjadi ruang bagi seniman tradisi untuk membuktikan kemampuan berinovasi tanpa kehilangan identitas budaya. Grup ludruk ditantang mengemas cerita kepahlawanan secara kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman.
Festival bertema “Semangat Kepahlawanan” tersebut dijadwalkan berlangsung pada 13–14 November 2026 di Gedung Balai Budaya Surabaya, Jalan Gubernur Suryo Nomor 15. Pendaftaran peserta dibuka pada 6–12 Oktober 2026, sedangkan pengumuman grup terpilih dijadwalkan pada 15 Oktober 2026.
Sosialisasi festival disampaikan Fidelia Septi Verlaidi, Subkoordinator Pengembangan Seni dan Budaya pada Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya. Kegiatan tersebut dihadiri 22 perwakilan grup ludruk di Surabaya.
Unsur Pertunjukan Lebih Fleksibel
Salah satu aspek yang menonjol dalam konsep festival tahun ini adalah keleluasaan peserta dalam meramu unsur pertunjukan. Tari remo, kidungan jula-juli, dagelan, dan cerita tidak harus disajikan secara konvensional atau mengikuti urutan baku.
Keempat unsur tersebut dapat dirangkai menjadi pertunjukan yang lebih dinamis sesuai kreativitas masing-masing grup, selama tetap mempertahankan karakter khas ludruk.
Meski membuka ruang pembaruan, panitia tetap menetapkan gamelan slendro sebagai musik dasar pertunjukan. Peserta diperbolehkan berkolaborasi dengan instrumen lain, tetapi gending jula-juli wajib dipertahankan.
Ketentuan tersebut memberikan ruang bagi seniman untuk mengeksplorasi bentuk pertunjukan baru tanpa meninggalkan elemen penting yang menjadi identitas ludruk.
Cerita Kepahlawanan Dibatasi 45 Menit
Tantangan lainnya terletak pada penggarapan naskah. Setiap grup dituntut menghadirkan cerita kepahlawanan yang aktual dan inovatif serta tetap sejalan dengan nilai-nilai Pancasila.
Durasi pertunjukan dibatasi maksimal 45 menit, termasuk waktu untuk bongkar-pasang properti. Dengan batasan tersebut, peserta perlu mengatur alur cerita, dialog, musik, dan komedi secara efektif agar pesan pertunjukan tersampaikan dengan baik.
Dari sisi jumlah personel, setiap grup diperbolehkan mengikutsertakan maksimal 25 orang. Peserta harus berasal dari kelompok ludruk yang terdaftar di Disbudporapar Kota Surabaya dan memiliki Kartu Tanda Daftar Kesenian.
Selain itu, sutradara, penulis naskah, penata musik, dan seluruh pemain diwajibkan memiliki KTP Surabaya.
Anggaran Produksi Rp10,29 Juta dan Penghargaan
Untuk mendukung proses kreatif, panitia menyediakan anggaran produksi kekaryaan sebesar Rp10.296.000 setelah pemotongan pajak. Fasilitas pendukung yang disiapkan meliputi panggung, tata suara, lampu panggung, dan gamelan slendro.
Dalam kompetisi ini, tiga penyaji terbaik akan memperoleh penghargaan masing-masing Rp5 juta tanpa pembagian peringkat juara. Skema tersebut memberikan apresiasi setara kepada tiga grup yang dinilai mampu menampilkan karya terbaik.
Penghargaan juga disediakan untuk kategori individu, yakni pengidung terbaik, pemain atau penata musik terbaik, penari remo terbaik, penulis naskah terbaik, dan sutradara terbaik. Masing-masing kategori memperoleh hadiah Rp1 juta.
Menjaga Ludruk Tetap Relevan
Festival Ludruk Surabaya 2026 membawa tantangan tersendiri bagi kelompok kesenian tradisional. Seniman perlu menemukan cara baru untuk menyampaikan cerita kepahlawanan sekaligus menjaga unsur musikal, komedi, dan karakter pertunjukan yang telah diwariskan lintas generasi.
Kreativitas menjadi kunci agar ludruk tetap menarik bagi penonton masa kini. Namun, pembaruan tersebut tetap perlu berpijak pada nilai budaya yang membentuk identitas kesenian khas Jawa Timur ini.
Melalui festival tersebut, grup ludruk Surabaya mendapat kesempatan untuk menunjukkan tradisi dapat terus berkembang mengikuti zaman, tanpa kehilangan akar sejarah dan budayanya.(one/sst)



