Jombang-(satujurnal.com)
Suasana penutupan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Senin (31/8/2026), mendadak lebih cair ketika Presiden Prabowo Subianto menyebut nama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dengan tambahan yang tak biasa: “Bahlil Ganteng.”
Momen itu terjadi saat Prabowo menyapa satu per satu tokoh yang hadir dalam acara tersebut. Setelah menyampaikan penghormatan kepada jajaran ulama NU, Rais Aam PBNU terpilih KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU terpilih KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, hingga Ketua Umum PBNU periode sebelumnya Yahya Cholil Staquf, Prabowo beralih menyapa jajaran Menteri Kabinet Merah Putih.
Begitu giliran Bahlil tiba, Prabowo menyebutnya lengkap dengan embel-embel yang belakangan akrab di telinga warganet.
“Bahlil Ganteng.”
Bahlil yang duduk di antara jajaran tamu undangan langsung beranjak dari kursinya. Ia berdiri dengan sikap hormat sambil melempar senyum malu-malu.
Reaksi spontan itu justru membuat suasana semakin ramai. Para hadirin yang menangkap momen tersebut langsung tertawa. Sebuah sapaan singkat berubah menjadi salah satu selingan paling menghibur dalam acara penutupan Muktamar.
Prabowo pun ikut menanggapi reaksi tersebut dengan seloroh pendek.
“Enak aja lo,” ujar Prabowo.
Tawa kembali pecah.
Rupanya, Prabowo bukan orang pertama yang membawa istilah “Bahlil Ganteng” ke panggung penutupan Muktamar NU.
Sebelumnya, Ketua Panitia Muktamar ke-35 NU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul juga menyapa jajaran menteri yang hadir. Saat menyebut Bahlil, Gus Ipul bahkan menggunakan versi yang lebih lengkap: MBG, alias “Mas Bahlil Ganteng.”
Candaan itu terasa semakin nyambung karena istilah “Mas Bahlil Ganteng” memang tengah dikenal luas sebagai plesetan dari singkatan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang beredar di media sosial.
Istilah tersebut kemudian berkembang menjadi fenomena humor digital. Lagu bertema “Mas Bahlil Ganteng” beredar di berbagai platform media sosial dengan lirik-lirik jenaka yang sengaja memainkan nama Bahlil.
Dunia maya pun seolah menemukan cara baru untuk mengomentari tokoh politik: bukan lewat baliho, pidato panjang, atau debat serius, melainkan lewat lagu yang bisa menempel di kepala sejak sekali dengar.
Fenomena “Mas Bahlil Ganteng” menarik karena batas antara humor media sosial dan panggung politik formal seolah menjadi semakin tipis.
Nama Bahlil yang biasanya muncul dalam pemberitaan seputar energi, pertambangan, investasi, atau politik, kali ini hadir dalam suasana yang jauh lebih santai.
Di Muktamar NU, istilah yang lahir dari kreativitas warganet itu bahkan terlontar langsung dari Presiden Prabowo.
Bahlil sendiri sebelumnya diketahui sempat menjadi sasaran gurauan terkait tren tersebut. Fenomena itu juga pernah membuat suasana sejumlah acara resmi menjadi lebih cair ketika lagu “Mas Bahlil Ganteng” diperdengarkan.
Di tengah padatnya agenda Muktamar ke-35 NU, momen Prabowo menyebut “Bahlil Ganteng” akhirnya menjadi jeda kecil yang mengundang tawa. Bahlil berdiri, tersenyum, sementara para hadirin menikmati candaan yang mungkin lebih akrab di lini masa ketimbang di podium kenegaraan.
Dan untuk sesaat, urusan Muktamar, sidang, serta dinamika organisasi boleh menepi.
Yang naik ke panggung adalah MBG: Mas Bahlil Ganteng. (rial)



