Wednesday, November 4, 2026
spot_img
HomeSosial BudayaDi Tengah Distraksi Digital, Anak Muda Pare Hidupkan Tradisi Membaca Lewat Bedah...

Di Tengah Distraksi Digital, Anak Muda Pare Hidupkan Tradisi Membaca Lewat Bedah Buku

Kediri-(satujurnal.com)
Di tengah derasnya arus informasi digital dan kebiasaan masyarakat menghabiskan waktu di depan layar gawai, sekelompok anak muda di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, justru memilih berkumpul untuk membaca dan mendiskusikan buku. Mereka tergabung dalam Komunitas Bedah Buku yang secara konsisten menghadirkan ruang pertemuan antara pembaca, penulis, dan beragam gagasan.

Kegiatan ini menjadi gambaran menarik tentang geliat literasi di daerah. Ketika budaya membaca kerap dianggap kalah bersaing dengan hiburan digital, komunitas tersebut memperlihatkan diskusi buku masih memiliki daya tarik, terutama bagi generasi muda.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Indeks Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) nasional mencapai 72,44. Angka tersebut menjadi capaian tertinggi dalam lima tahun terakhir. Generasi Z juga disebut sebagai salah satu kontributor penting dalam peningkatan kegemaran membaca masyarakat.

Semangat serupa terlihat dalam aktivitas Komunitas Bedah Buku di Pare. Berdiri sejak 2023, komunitas ini beranggotakan berbagai kalangan, mulai ibu rumah tangga, penggiat literasi, komunitas rumah kreatif, seniman, guru hingga mahasiswa. Sebagian besar berasal dari kawasan sekitar Kampung Inggris.

Kampung Inggris sendiri dikenal sebagai pusat pembelajaran bahasa Inggris dan bahasa asing yang berada di Desa Tulungrejo dan Desa Pelem, Kecamatan Pare. Tidak jauh dari kawasan tersebut, komunitas ini membangun ruang perjumpaan intelektual melalui kegiatan membaca dan diskusi rutin.

Setiap bulan, mereka menggelar bedah buku dengan beragam tema. Mulai sejarah, politik, hingga sastra. Informasi kegiatan dipublikasikan melalui akun Instagram @rasanrasanbuku, termasuk dokumentasi diskusi yang telah berlangsung.

Membawa Gagasan Besar ke Persoalan Lokal

Salah satu kegiatan terbaru berlangsung Jumat malam (30/10/2026) di Griya Padminingsih, Pare. Sekitar 40 peserta hadir untuk membedah buku Reset Indonesia: Gagasan Indonesia Baru.

Diskusi dipandu Ghulam Pambayung sebagai moderator, dengan Richard sebagai pengulas buku. Salah satu penulis buku tersebut, Yusuf Priambodo, turut hadir dan berbagi perspektif bersama peserta.

Buku setebal 448 halaman itu ditulis empat jurnalis dari generasi berbeda, yakni Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benaya Hanobu. Diterbitkan pada 2025, buku ini lahir dari perjalanan panjang dan ekspedisi jurnalistik yang membawa para penulis menjelajahi berbagai wilayah, mulai Pulau Weh hingga Gedung DPR dan Sekretariat Negara.

Menariknya, diskusi tidak berhenti pada pembahasan persoalan besar Indonesia. Para peserta mencoba menarik berbagai gagasan dalam buku tersebut ke dalam konteks kehidupan sehari-hari di Pare dan wilayah sekitarnya.

Suasana diskusi berlangsung hangat. Di teras Griya Padminingsih yang asri, peserta menyimak pemaparan narasumber, menyampaikan pandangan, serta bertukar pemikiran.

Sebulan sebelumnya, komunitas ini juga menggelar diskusi buku di lokasi yang sama. Kali itu, buku yang dibahas berjudul Pah Pinan: Jagat Raya Mollo dan Seisinya, terbitan Indonesia Tera.

Buku tersebut merupakan kumpulan esai personal yang ditulis orang-orang Mollo, Nusa Tenggara Timur. Dokumentasi kegiatan melalui akun Instagram komunitas memperlihatkan antusiasme pengunjung, terutama kalangan muda.

Buku Menjadi Pintu Pertemuan Gagasan

Gelar Prakosa, salah satu koordinator komunitas, menjelaskan buku yang dibahas dalam setiap pertemuan selalu berganti. Anggota memiliki kesempatan untuk berbagi isi buku yang telah dibaca sekaligus menyampaikan pandangan kepada peserta lainnya.

Komunitas juga membuka ruang bagi para penulis yang ingin memperkenalkan dan mendiskusikan karya mereka bersama pembaca.

“Kegiatan komunitas kami lebih bersifat sharing isi buku yang sudah dibaca anggota komunitas, kemudian didiskusikan bersama,” ujar Gelar.

Pola tersebut membuat kegiatan bedah buku terasa lebih terbuka. Tidak ada pembatasan pada satu genre atau kelompok pembaca tertentu. Setiap orang memiliki kesempatan untuk menyampaikan pemikiran dan memperkaya perspektif melalui diskusi.

Dari sebuah kota kecil di Kabupaten Kediri, Komunitas Bedah Buku di Pare memperlihatkan cara sederhana merawat tradisi intelektual. Buku menjadi pintu masuk untuk mengenal pemikiran baru, menguji gagasan, sekaligus memahami persoalan di sekitar.

Di tengah budaya serba cepat dan banjir informasi digital, ruang-ruang diskusi seperti ini menghadirkan alternatif aktivitas yang produktif bagi anak muda. Membaca tidak berhenti sebagai kegiatan individual, tetapi berkembang menjadi pengalaman bersama yang hidup, hangat, dan menyenangkan.(one/sst)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular