“Maaf, Aku Tak Sekuat Ibu”: Kisah Pilu Mahasiswi UNS di Ujung Jembatan Jurug

    0
    Jembatan Jurug Solo. foto.doc.istimewa

    Surakarta, 2 Juli 2025,. Langit Surakarta pagi ini mendung ketika tim Basarnas kembali menyusuri aliran Bengawan Solo. Dengan perahu karet dan alat deteksi bawah air, mereka menyisir sisi-sisi Jembatan Jurug, mencari seorang perempuan muda yang diduga melompat dua hari sebelumnya. Di atas jembatan, masih tampak garis polisi yang membatasi tempat ditemukannya sebuah sepeda motor, sebuah tas, dan selembar surat tulisan tangan yang getir sekaligus jujur.

    Surat itu ditandatangani oleh Devita Sari Anugraheni, mahasiswi semester akhir Program Studi D4 Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), Sekolah Vokasi, Universitas Sebelas Maret (UNS).

    “Aku pergi ya, jangan salahkan keluarga atau kampusku. Aku hanya bermasalah dengan diriku sendiri… Maaf untuk Bapak Dr. Sumardiyono… Aku capek, Bu. Maaf aku tak sekuat Ibu.”

    Kata-kata itu menjadi rekam jejak terakhir seorang mahasiswi yang diam-diam berjuang melawan badai dalam dirinya sendiri, bahkan ketika ia tampak nyaris sampai di garis akhir akademiknya.

    Langkah yang Terus Terjaga, Tapi Sunyi

    Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta secara resmi mengeluarkan keterangan pers – tentang Peristiwa Dugaan Bunuh Diri yang Dilakukan oleh Mahasiswa UNS – yang ditujukan kepada media cetak dan daring. Menyampaikan duka dan klarifikasi atas peristiwa yang menimpa salah satu mahasiswinya.

    Dalam pernyataan tertanggal 1 Juli 2025 itu, UNS menegaskan bahwa peristiwa ini tidak berkaitan dengan tekanan akademik. Semua proses belajar, termasuk skripsi dan revisi, telah diselesaikan Devita dengan baik.

    “Ini bukan soal beban skripsi. Ini tentang pergulatan pribadi seseorang dalam menghadapi penyakit mental yang nyata dan berat,” tegas Prof. Dr. Agus Riwanto, S.H., M.H., Sekretaris Universitas sekaligus Juru Bicara UNS.

    Kampus juga mengimbau masyarakat dan media untuk menghentikan spekulasi yang dapat melukai keluarga maupun nama baik almarhumah. “Yang lebih dibutuhkan saat ini adalah doa dan empati,” tambahnya.

    Dibantu, Tapi Tak Ingin Dikasi Kasihani

    Dalam rilisnya, tersirat bahwa Devita bukan mahasiswa biasa. Ia berhasil menyelesaikan skripsi dengan IPK 3,8 dan merupakan penerima beasiswa KIP Kuliah. Namun di balik prestasi akademik itu, ia menyimpan luka yang tak kasatmata. Sejak 2023, ia didiagnosis mengalami gangguan kejiwaan.

    Upaya bunuh diri pernah dilakukannya beberapa kali—overdosis obat, menyakiti diri, hingga sempat dirawat di rumah sakit jiwa.

    Pihak kampus tidak tinggal diam. Devita tercatat sebagai klien Layanan Konseling Mahasiswa UNS sejak Januari 2025. Subdirektorat Layanan Konseling bersama dosen pembimbing, termasuk Dr. Sumardiyono, S.K.M., M.Kes., aktif mendampingi dan memberi dukungan.

    “Dia pernah menyampaikan niat untuk mengakhiri hidup bahkan setelah sidang skripsi. Kami terus meyakinkan bahwa apa yang sudah ia capai adalah prestasi besar,” ujar Dr. Sumardiyono, yang juga menjabat Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Sekolah Vokasi.

    Dalam beberapa kesempatan, Devita pernah menolak usulan untuk dipertemukan kembali dengan keluarganya.

    “Ia takut dianggap lemah, tidak ingin dikasihani,” ujar sang dosen pembimbing.

    Dalam banyak percakapan, Devita tampak berada dalam tarik-ulur antara keinginan untuk bertahan dan dorongan untuk menyerah.

    Dosen dan tenaga pendamping telah merekomendasikan keringanan akademik, dan berbagai pendekatan dilakukan untuk menjaganya tetap terhubung—pada keluarga, kampus, dan hidup itu sendiri. Namun gangguan mental kerap berjalan di lorong sunyi yang tak terjangkau oleh nalar atau empati biasa.

    Pencarian, Doa, dan Diam yang Panjang

    Hingga hari ketiga pencarian, tubuh Devita belum ditemukan. Tim gabungan dari Basarnas, BPBD, dan para relawan menyisir sepanjang Bengawan Solo dengan peralatan lengkap. Namun arus sungai yang deras dan air keruh memperlambat segalanya.

    “Kondisi air sangat menyulitkan pencarian visual. Kami pakai alat bantu bawah air, tapi arus di bawah cukup berbahaya,” ujar Gohan Wijayana, Koordinator Basarnas Pos Surakarta.

    Motor Honda Beat milik Devita ditemukan terparkir rapi di sisi jembatan. Di dalam tasnya, ada ponsel, buku catatan, dan surat wasiat. Tidak ada drama. Tidak ada sorotan. Hanya sepi yang tersisa setelah langkah terakhir seorang anak muda yang letih mencari terang.

    Catatan Terakhir dari Seorang Pejuang Sunyi

    Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang dipikul Devita selama ini. Ia hampir lulus, tampak tangguh, mendapat pujian dan harapan dari orang-orang di sekitarnya. Namun kadang, bahkan pelukan hangat pun tak cukup untuk menenangkan badai di dalam kepala.

    Ia bukan angka statistik. Ia bukan sekadar nama dalam berita duka. Ia adalah anak muda yang pernah berjuang, pernah berharap, dan pernah mencoba bertahan. (Ridwan)

    Jika Anda atau orang terdekat Anda mengalami tekanan mental, jangan ragu untuk mencari bantuan. Layanan konseling di perguruan tinggi, tenaga medis profesional, dan saluran darurat kesehatan mental tersedia untuk menolong. Anda tidak sendiri.

    NO COMMENTS

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Exit mobile version