Thursday, November 5, 2026
spot_img
HomeRegionalKabupaten JombangPermodalan BRI Antar Samsul Arif dari Pedagang Kecil Menuju Pengusaha Sembako

Permodalan BRI Antar Samsul Arif dari Pedagang Kecil Menuju Pengusaha Sembako

Jombang-(satujurnal.com)
Mengayuh sepeda angin setiap hari menuju pasar, membawa harapan sederhana untuk menyambung hidup. Dua puluh lima tahun kemudian, perjalanan Samsul Arif (47), warga Kabupaten Jombang, telah membawanya menjadi pemilik toko sembako dengan usaha yang terus berkembang.

Kini, pria yang berjualan di Pasar Desa Bandung, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, itu telah memiliki toko sembako berukuran 6 x 2 meter. Bahkan, ia mulai menyiapkan usaha grosir dengan membangun gudang baru di area rumahnya.

Perjalanan tersebut tidak berlangsung instan. Ada proses panjang, ketekunan, keberanian mengambil peluang, serta keputusan mengembangkan usaha secara bertahap.

Arif mengawali perjalanan ekonominya pada 2001. Saat itu, ia bekerja sebagai penyedia jasa selep tepung di Pasar Bandung. Setiap hari, sepeda angin menjadi kendaraan andalannya untuk berangkat dari rumah menuju pasar.

Penghasilan dari pekerjaan tersebut dikumpulkan sedikit demi sedikit. Setelah menikah dan memiliki tabungan, muncul keinginan untuk membangun usaha sendiri.

Kesempatan itu datang pada 2007. Arif memberanikan diri membeli sebuah kios berukuran 2 x 3 meter di Pasar Bandung seharga Rp7,5 juta. Kios tersebut dibeli untuk mewujudkan keinginan sang istri berjualan.

Dengan modal awal Rp2 juta dari hasil menabung, ia mulai mengisi kios dengan berbagai kebutuhan pokok masyarakat.

Usaha kecil itu perlahan tumbuh. Arif mulai memahami kebutuhan pelanggan, mengatur persediaan barang, serta menyisihkan keuntungan untuk memperbesar skala perdagangan.

Modal BRI, Langkah Usaha Semakin Lebar

Perkembangan usaha membuat Arif membutuhkan tambahan modal. Pada 2017, ia mengajukan pinjaman pertamanya ke Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebesar Rp25 juta.

Dana tersebut digunakan untuk membeli satu kios tambahan. Area usahanya pun bertambah menjadi 6 x 2 meter, diikuti peningkatan variasi dan jumlah stok barang dagangan.

Memasuki 2020, Arif kembali memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI. Pembiayaan yang diperolehnya meningkat secara bertahap, mulai Rp50 juta, Rp50 juta, hingga pembiayaan terakhir sebesar Rp60 juta.

Tambahan modal tersebut dimanfaatkan untuk memperbesar kapasitas perdagangan sekaligus membeli mobil pickup.

Kendaraan itu menjadi kebutuhan penting seiring meningkatnya volume barang. Jika sebelumnya pengangkutan masih mengandalkan sepeda motor, kini mobil pickup memudahkan Arif membawa pasokan dalam jumlah lebih besar.

Pertumbuhan usaha turut membawa perubahan dalam kehidupan keluarganya. Dari keuntungan yang dikumpulkan selama bertahun-tahun, Arif mampu memiliki tanah dan rumah pribadi, kendaraan roda empat untuk keluarga, serta membiayai pendidikan kedua anaknya hingga perguruan tinggi.

Bahkan, ia bersama istri mulai mempersiapkan diri untuk menunaikan ibadah haji.

Menyiapkan Warisan Usaha untuk Anak

Bagi Arif, perkembangan usaha tidak berhenti pada pencapaian saat ini. Ia mulai memikirkan keberlanjutan bisnis yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Memanfaatkan pembiayaan terakhir dari BRI sebesar Rp60 juta, Arif membeli sebidang tanah dan membangun gudang baru di area rumahnya.

Gudang tersebut dipersiapkan untuk mengembangkan usaha grosir sembako. Rencananya, bisnis itu akan diteruskan oleh sang putra setelah menyelesaikan pendidikan kuliah pada 2027.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upayanya membangun kemandirian ekonomi keluarga sekaligus menyiapkan peluang usaha bagi generasi berikutnya.

Arif mengaku akses permodalan dari BRI turut membantu perjalanan bisnisnya. Ia menilai suku bunga yang kompetitif, proses pengajuan dan pencairan kredit, serta pelayanan petugas menjadi pertimbangan dalam memilih layanan perbankan tersebut.

Keramahan para mantri dan staf BRI juga membuatnya merasa nyaman selama mengakses fasilitas pembiayaan usaha.

Perjalanan Samsul Arif memperlihatkan bagaimana usaha yang dirintis dari pekerjaan sederhana dapat berkembang melalui ketekunan dan pengelolaan modal secara bertahap.

Dari seorang penyedia jasa selep tepung yang setiap hari mengayuh sepeda menuju pasar, kini ia telah membangun toko sembako dan mulai menyiapkan bisnis grosir untuk masa depan keluarganya.

Sebuah perjalanan panjang yang berawal dari kios kecil, tabungan Rp2 juta, dan keberanian untuk terus melangkah.(rial)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular