PARADE livery gerbong kereta api dari masa ke masa menjadi suguhan istimewa dalam perayaan 80 tahun Hari Kereta Api Indonesia.
Deru lokomotif tua yang melintas di Stasiun Mojokerto, Minggu (28/9/2025) pagi, seakan membawa penonton memasuki lorong waktu.
Ratusan warga tumpah ruah. Tak sedikit di antaranya datang dari luar kota hanya untuk menyaksikan momen bersejarah ini. Parade dimulai dari Stasiun Surabaya Gubeng, melewati Wonokromo, Sidoarjo, hingga Mojokerto, sebelum kembali lagi ke Surabaya. Sepanjang perjalanan, decak kagum pecah setiap kali gerbong dengan cat khas era tertentu melintas.
“Ini seperti mesin waktu. Saya langsung ingat masa kecil saat ikut orang tua mudik naik kereta warna oranye-biru,” ujar Erwan (30), railfans asal Malang yang sibuk membidikkan kamera mirrorless miliknya. Ia mengaku sudah menyiapkan diri jauh-jauh hari demi hadir. “Setahun sekali, sayang kalau dilewatkan. Rasanya nostalgia banget,” tambahnya.
Di sisi peron, Slamet Riyadi (56), railfans senior asal Surabaya, membawa album foto lawas. Ia menunjuk gambar kereta bisnis era 1980-an. “Dulu saya naik ini ke Yogyakarta kuliah. Bangkunya keras, kipas angin cuma muter pelan. Tapi rasanya bahagia sekali. Melihat livery ini lagi, rasanya seperti pulang,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Tak hanya penggemar kereta, keluarga muda pun ikut larut. Dewi (34), ibu rumah tangga asal Mojokerto, datang bersama suami dan putrinya yang masih duduk di bangku SD. “Anak saya baru pertama kali lihat kereta warna-warni begini. Dia sampai bilang, ‘Bu, ini kayak kereta di film kartun!’ Senang sekali bisa mengenalkan sejarah dengan cara yang menyenangkan,” katanya.
Parade kali ini menampilkan 11 livery kereta penumpang dari periode 1980 hingga 2008. Mulai dari gerbong eksekutif PJKA warna krem-hijau, kereta ekonomi oranye-hitam khas Perumka, hingga Argo Bromo Anggrek yang sempat jadi ikon kemewahan era 1990-an.
Menurut Luqman Arif, Manajer Humas KAI Daop 8 Surabaya, parade bukan sekadar ajang pamer cat. “Livery kereta api adalah simbol semangat zaman. Ia merekam sejarah perubahan sosial, gaya desain, dan cita rasa estetik transportasi publik. Karena itu, kami ingin menghadirkan kereta-kereta ikonik dari generasi ke generasi,” terangnya.
Selain parade, acara juga dimeriahkan dengan fashion show pakaian adat di atas kereta, pertama kalinya digelar di Indonesia dan berhasil meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Dua rekor sekaligus tercatat: parade kereta dengan livery terbanyak dari masa ke masa, serta fashion show adat pertama di dalam gerbong.
Bagi banyak penikmat kereta, pengalaman itu lebih dari sekadar hiburan. Ia membangkitkan ingatan akan perjalanan panjang perkeretaapian Indonesia, dari masa PJKA hingga PT KAI hari ini. “Bukan cuma tentang kereta, tapi tentang kenangan, tentang perjalanan, keluarga, dan cerita di balik setiap warna yang pernah melintas di rel,” tutur Slamet Riyadi lirih, sebelum kembali mengangkat kamera untuk memburu detik-detik lokomotif CC201 merah-biru masuk ke Stasiun Mojokerto. (ank)



