Wednesday, October 7, 2026
spot_img
HomeSosial BudayaTiga Stanza untuk Indonesia: Merayakan 97 Tahun Lagu Kebangsaan di Makam WR...

Tiga Stanza untuk Indonesia: Merayakan 97 Tahun Lagu Kebangsaan di Makam WR Soepratman

Surabaya-(satujurnal.com)
Lebih dari dua ratus orang memadati kompleks Makam Pahlawan Nasional W.R. Soepratman di Jalan Kenjeran, Surabaya, Selasa (28/10/2025) sore. Mereka datang membawa bunga, doa, dan semangat kebangsaan untuk memperingati 97 Tahun Lagu Indonesia Raya yang bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda.

Acara bertajuk “97 Tahun Indonesia Raya & Sumpah Pemuda” ini digagas oleh Forum Indonesia Raya 3 Stanza bersama Yayasan WR Soepratman. Suasananya berlangsung khidmat dan sarat makna, memadukan refleksi sejarah, seni, dan spiritualitas dalam satu napas kebangsaan.

Para peserta datang dari berbagai komunitas, mulai Jelajah Bumi Nusantara (JBN), GRIP, SMA Muhammadiyah Surabaya, Komunitas Tionghoa Surabaya, Paduan Suara MasTrip, hingga Jas Merah. Mereka hadir tanpa sekat, larut dalam lantunan Indonesia Raya versi lengkap — tiga stanza penuh.

“Banyak yang lupa bahwa Indonesia Raya sebenarnya punya tiga stanza,” ujar Rudy Tjahjo Mintarto, ketua panitia. “Kalau hanya dinyanyikan satu, artinya ada bagian doa bangsa yang hilang.”

Rudy menjelaskan, stanza pertama menggambarkan perjuangan, stanza kedua berisi cita-cita kemerdekaan, sedangkan stanza ketiga merupakan doa untuk kesejahteraan dan kebahagiaan bangsa.

Acara diawali doa lintas iman oleh perwakilan Katolik, Buddha, Islam, dan penghayat kepercayaan. Dilanjutkan penampilan teatrikal bertema “Arek-Arek Surabaya Menyambut Kongres Pemuda” oleh mahasiswa Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta. Adegan ditutup dengan pembacaan Sumpah Pemuda dan nyanyian Indonesia Raya tiga stanza, diiringi gesekan biola Arul Lamandanu.

“Baru kali ini saya mendengar versi lengkapnya,” ujar seorang pengunjung dengan mata berkaca-kaca.

Setelah prosesi, Dr. Airlangga Pribadi Kusman dari Universitas Airlangga menyampaikan refleksi kebangsaan. “Soepratman mengajarkan bahwa nasionalisme bukan doktrin kekuasaan, tapi kesadaran yang lahir dari kebudayaan,” katanya.

Peringatan ditutup dengan tabur bunga di pusara Soepratman — wartawan, komponis, sekaligus pemimpi besar yang wafat pada 17 Agustus 1938, tujuh tahun sebelum proklamasi.

Sementara itu, gema Indonesia Raya tiga stanza juga menggema dari berbagai daerah. Di Banjarmasin, lagu dinyanyikan oleh Organisasi Pemuda Kreator di atas Pinisi Pusaka Nusantara. Di Toraja Utara, TP PKK Kabupaten Toraja Utara turut melantunkan dengan penuh khidmat.

“Selama Indonesia Raya dinyanyikan secara utuh, bangsa ini tidak akan kehilangan arah,” pungkas Rudy. (one/sst)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular