Jombang-(satujurnal.com)
Komunitas Guru Penulis Sidoarjo (KGPS) kembali menandai perjalanan kreatifnya lewat peluncuran buku antologi puisi terbaru bertajuk “Mengajar dengan Cinta, Menulis dengan Hati.” Peluncuran ini menjadi penerbitan ke-13 mereka. Sebuah konsistensi yang perlahan menjelma tradisi apresiasi terhadap dunia pendidikan dan kesusastraan.
Acara digelar sederhana namun hangat di hall agrowisata & pendidikan De Durian Park, Wonosalam, Jombang, Minggu (30/11/2025) siang,
dihadiri sekitar 20 anggota KGPS.
Hadir pula sejumlah tokoh yang membawa warna perspektif berbeda: CEO De Durian Park sekaligus Pemerhati Pendidikan dan Jurnalis Senior, Yusron Aminoellah MM; Rektor UPN “Veteran” Jawa Timur, Prof. Dr. Ir. Akhmad Fauzi, MMT; serta Ketua Perwakilan YPLP PGRI Jatim, Dr. Dwi Retnani Sri Narwati, M.Si.
Seakan merayakan keberagaman rasa, buku ini ditulis oleh 17 guru anggota KGPS dan 11 penulis tamu dari berbagai latar belakang, dari penyair, guru, hingga siswa SMP. Nama-nama mereka menyusun mozaik kreatif yang utuh, seperti daftar hadir yang disatukan oleh satu kata kerja: menulis.
Para penulis inti KGPS antara lain: Arifah Ulum Permatasari, Chusnul Chotimah, Endang Kusniati, Etik Wahyuni Musih, Indrawati, Kasma Budi Rahayu, Kris Mariyono, Laili Maslikah, Nikmatus Sholicha, Nurul Ainia, Suhartatik, Sutiyah, Titin Kusminarsih, Tri Lukiningtyas, Tutut Kusmiati, Wuri Yani, dan Yashinta Anggraini.
Sementara penulis undangan menghadirkan warna lain: Denting Kemuning (penyair wanita), Dimas Parwati (Guru SDN), Dwi Amilia Baroro (Kepala SDN), Endang Mastuti Rahayu (IWA UNIPA), Imung Mulyanto (praktisi media), Jasmine Marcia (siswa SMPN Prambon 2), serta penulis lain dari Ponorogo hingga Surabaya.
Dalam sambutannya, Ketua KGPS Endang Kusniati S.Pd menyampaikan bahwa seorang pendidik pada dasarnya dituntut memiliki rasa cinta sebagai fondasi pembelajaran.
“Puisi adalah jalan sunyi, namun ia menuntut ketulusan. Di sana cinta guru pada murid bertransformasi menjadi bahasa,” ujarnya.
Apresiasi datang dari berbagai arah. Yusron Aminoellah menilai bahwa kegigihan guru menulis – di tengah kesibukan mengajar—adalah bentuk pengabdian yang jarang disorot. “Menerbitkan buku hingga edisi ketigabelas bukan sekadar capaian literasi, tetapi ketekunan,” ungkapnya.
Rektor UPN Jatim, Prof. Dr. Akhmad Fauzi, menegaskan bahwa menulis puisi adalah proses perenungan yang membutuhkan kedisiplinan dan kedalaman jiwa. “Apa yang dilakukan KGPS patut menjadi panutan generasi muda,” tuturnya.
Dalam sesi Bincang Santai bertema “Mengembangkan Kreasi dan Energi Guru”, jurnalis senior sekaligus penulis sinetron TVRI “Aku Cinta Indonesia (ACI)”, Imung Mulyanto, mengingatkan bahwa tantangan pendidikan hari ini bukan lagi hanya kurikulum, melainkan dunia maya yang bisa mengaburkan arah moral peserta didik. Karena itu, menurutnya, pendidik mesti mengajarkan cara merasa sebelum mengajarkan cara berpikir.
Imung lalu membacakan salah satu puisinya yang turut termuat dalam antologi tersebut – sebuah potongan karya yang terasa seperti “alarm nurani” di era digital:
Jangan sekolah anakku! / kalau hanya ingin pandai /
kalau kepintaran hanya untuk membodohi sesama /
karena banyak orang pintar tapi juga minteri //
Jangan sekolah anakku! / kalau hanya ingin jadi ahli strategi /
karena semua koruptor pandai berstrategi /
ahli merancang siasat agar bisa menggarong uang rakyat //
Jangan sekolah anakku / kalau hanya ingin lancar berpidato /
karena para politisi dan birokrat sangat ulung berkata-kata /
sampai lupa mensejahterakan rakyat.
Puisi itu seolah menyimpulkan napas buku ini: bahwa pendidikan tak berhenti di ruang kelas, dan sastra bisa menjadi kompas moral.
Di Wonosalam kemarin, barangkali kita menyaksikan sesuatu yang lebih dari sekadar peluncuran buku. Kita melihat para guru yang tidak hanya mengajar, tetapi mendengar, merenung, dan menyuarakan hati. (one/sst)



