Jombang-(satujurnal.com)
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai menghantam usaha peternakan ayam petelur skala rumahan di Kabupaten Jombang. Para peternak kini menghadapi tekanan berat akibat harga pakan yang melonjak tajam, namun tidak diimbangi dengan kenaikan harga jual telur yang justru terus merosot. Kondisi ini memaksa banyak peternak memutar otak agar usaha mereka tidak gulung tikar.
Dampak nyata dirasakan Sri Wahyuni, peternak ayam petelur asal Desa Candimulyo, Kecamatan Jombang Kota. Mengelola sekitar 200 ekor ayam ras (horis), Sri mengaku tengah mengalami kerugian signifikan karena selisih harga pokok produksi dan harga jual yang semakin tipis, bahkan minus.
“Kami sangat mengalami kerugian, Pak, untuk ayam petelur ini. Karena apa? Harga di pasaran itu menurun, harga jualnya turun, sedangkan harga pakan itu naik,” ungkap Sri Wahyuni saat ditemui di kandangnya, Kamis (21/5/2026).
Harga jual telur di pasaran saat ini terus merosot hingga menyentuh angka Rp 22.500 per kilogram. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang masih berada di kisaran Rp 25.000 hingga Rp 28.000 per kilogram. Ironisnya, di tengah penurunan pendapatan tersebut, harga pakan jalur utama justru melonjak tajam. Satu sak pakan isi 50 kilogram yang sebelumnya berkisar Rp 345.000 hingga Rp 350.000, kini meroket menjadi Rp 365.000.
Dengan populasi 200 ekor ayam, Sri menghabiskan satu sak pakan hanya dalam waktu dua hari sekali. Pembengkakan biaya ini jelas memicu kerugian besar bagi usaha kecilnya. Untuk menyiasati kondisi tersebut, Sri berencana memberikan nutrisi tambahan alternatif seperti dedaunan lokal untuk menekan biaya tanpa mengurangi asupan makanan ayam secara drastis.
“Soalnya ayam itu kalau tidak dikasih pakan, ya tidak bertelur maksimal. Kalau pakannya bagus dan banyak, sore bisa ngambil (telur) lagi saya. Pagi ngambil, sore ngambil,” tambahnya menjelaskan strategi bertahan.
Saat ini, dari 200 ekor ayam tersebut, Sri mampu menghasilkan sekitar 15 kilogram telur per hari. Meski dihantam badai ekonomi, Sri mengaku beruntung karena kualitas telur ayam ras miliknya tergolong sangat baik dengan cangkang yang tebal. Hal ini membuat pelanggan setianya langsung datang membeli ke tempat, sehingga ia tidak kesulitan dalam hal pemasaran meskipun margin keuntungan menipis.
Sebagai bagian dari penopang lumbung dan ketahanan pangan di tingkat desa, Sri Wahyuni dan para peternak lokal di Candimulyo sangat berharap adanya stabilitas harga dari pemerintah, baik untuk harga pakan maupun harga jual telur. Meski situasi sedang sulit, Sri tegaskan dirinya akan tetap bertahan dan berusaha semaksimal mungkin demi menjaga perputaran ekonomi keluarga serta memastikan pasokan pangan di wilayahnya tetap berjalan.(rial)



