Wednesday, October 7, 2026
spot_img
HomeEsaiSosokKolaborasi Tapal Kuda

Kolaborasi Tapal Kuda

Sosok

“Melihat greget pameran ini, Diak (Diak Eko) dan teman-teman jurnalis di Mojokerto bisa berkolaborasi dengan teman-teman PWI di wilayah Tapal Kuda. Halamannya tetap di sini, Mojokerto.”

Kalimat itu tidak lahir dari atas podium. Ia muncul dalam percakapan ringan ketika Lutfil Hakim bersiap meninggalkan area Pameran Lukisan dan Fotografi bertajuk “Merekam Realitas, Merawat Budaya” di Sunrise Mall Mojokerto, Rabu (8/7/2026). Di sela langkah menuju pintu keluar, obrolan kami mengalir seperti biasanya. Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur itu tiba-tiba melempar sebuah gagasan yang terdengar sederhana, tetapi menyimpan arah yang jauh ke depan.

Beberapa menit sebelumnya, ia masih berjalan menyusuri area pameran. Tatapannya berpindah dari satu kanvas ke kanvas lain, lalu berhenti di deretan fotografi yang merekam denyut kebudayaan Nusantara. Ia tidak sekedar melihat karya seni. Ia sedang membaca kemungkinan.

Kemungkinan itulah yang kemudian ia sebut sebagai kolaborasi Tapal Kuda.

Sebagai alumnus Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember, kawasan Tapal Kuda bukan wilayah yang asing baginya. Jember, Bondowoso, Situbondo, Lumajang, Kabupaten dan Kota Probolinggo, hingga Kabupaten dan Kota Pasuruan merupakan ruang sosial yang akrab dalam perjalanan akademik maupun profesionalnya. Kini, sebagai Ketua PWI Jawa Timur, ia membayangkan jejaring itu bertemu dalam satu ruang apresiasi seni yang berpusat di Mojokerto.

Gagasan tersebut tumbuh dari perjalanan panjangnya sebagai jurnalis senior. Sebelum memimpin organisasi wartawan terbesar di Jawa Timur, Lutfil Hakim telah melewati berbagai ruang redaksi media cetak hingga digital. Ia menyaksikan perubahan besar dunia jurnalistik ketika media sosial mengubah ritme penyebaran informasi dan membuat batas antara informasi dengan berita semakin kabur.

Dalam pandangannya, pers tidak cukup hanya berlomba menjadi yang tercepat. Jurnalisme harus tetap menghadirkan kedalaman, nilai, dan makna yang mampu bertahan lebih lama daripada derasnya arus informasi.

Pandangan itulah yang ia sampaikan dalam sambutan pembukaan pameran.

Di hadapan Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari, Bupati Mojokerto Muhammad Al Barra, jajaran Forkopimda, dan ratusan tamu undangan, Lutfil Hakim mengaku telah berkeliling menghadiri berbagai kegiatan di Jawa Timur. Namun baru kali ini ia menyaksikan wali kota dan bupati hadir bersama dalam satu acara.

“Saya sudah keliling Jawa Timur menghadiri berbagai acara, tetapi baru kali ini melihat langsung wali kota dan bupati hadir bersama. Ini menunjukkan kondusivitas yang baik,” ujarnya.

Baginya, iklim pemerintahan yang sehat akan melahirkan ekosistem pers yang sehat pula. Di ruang seperti itulah kreativitas dapat tumbuh.

Di hadapan deretan kanvas itu, perhatian Lutfil akhirnya tertambat.

“Ini membuktikan jurnalis tidak hanya pandai merangkai kata dan fakta menjadi berita. Mereka juga mampu merangkai warna,” katanya.

Kalimat itu mungkin sederhana, tetapi menyimpan pandangan panjang tentang profesi yang telah ia jalani selama puluhan tahun. Menurutnya, tulisan, lukisan, maupun fotografi memiliki tujuan yang sama: menghadirkan nilai.

“Kalau pers atau jurnalis tidak memberikan sentuhan, tidak memberikan nilai, tidak memberikan makna, maka informasi yang dibagikan hanya menjadi catatan yang tidak mengubah hati,” ujarnya.

Karena itulah ia menyambut hangat langkah Media Centre – Ruang Jurnalis Mojokerto menggelar pameran seni. Di matanya, jurnalisme sedang menemukan bahasa lain melalui sapuan kuas dan bidikan kamera.

Bagi Lutfil Hakim, seni dan ekonomi tidak berdiri di dua tepi yang berbeda.

Selama memimpin PWI Jawa Timur, ia kerap menjadi pemantik diskusi bersama pemerintah daerah mengenai smart budgeting, penguatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), serta optimalisasi potensi lokal. Maka ketika berbicara tentang lukisan dan fotografi sebagai bagian dari industri kreatif, yang ia lihat bukan semata deretan karya di dinding, melainkan peluang ekonomi yang tumbuh dari kebudayaan.

Menurutnya, industri kreatif dapat menjadi salah satu penyangga kemandirian fiskal daerah apabila terus diberi ruang berkembang. Pameran seni, festival budaya, fotografi, hingga berbagai ekspresi kreatif lainnya bukan hanya menggerakkan ekonomi masyarakat, tetapi juga memperkuat identitas sebuah daerah.

Namun, baginya, kreativitas harus berjalan berdampingan dengan kualitas insan pers.

Profesionalisme wartawan, menurutnya, tidak hanya dibangun melalui kompetensi jurnalistik, tetapi juga melalui keluasan cara pandang terhadap kehidupan, kebudayaan, dan masyarakat.

Barangkali karena itulah gagasan kolaborasi yang ia cetuskan seusai acara terasa lebih sebagai arah perjalanan daripada sekadar usulan penyelenggaraan pameran berikutnya.

Ia membayangkan jurnalis Mojokerto berkolaborasi dengan rekan-rekan PWI di kawasan Tapal Kuda. Para pelukis, fotografer, pewarta foto, dan wartawan dari berbagai daerah berkumpul dalam satu ruang apresiasi yang sama.

Mojokerto, dalam bayangannya, bukan hanya menjadi lokasi penyelenggaraan pameran. Kota ini dapat tumbuh sebagai halaman tempat para jurnalis bertemu, saling belajar, berkarya, dan merawat kebudayaan melalui bahasa visual.

Sebelum benar-benar meninggalkan lokasi pameran, ia kembali mengulang gagasan yang sejak awal mengiringi langkahnya.

“Diak dan teman-teman jurnalis Mojokerto bisa berkolaborasi dengan teman-teman PWI di wilayah Tapal Kuda. Halamannya tetap di sini, Mojokerto.”

Kolaborasi Tapal Kuda memang masih berupa wacana. Namun hampir setiap langkah besar selalu berawal dari percakapan-percakapan kecil yang tidak pernah masuk dalam susunan acara. Siang tadi, di pelataran Sunrise Mall, Lutfil Hakim tampaknya tidak hanya pulang membawa kesan tentang sebuah pameran. Ia meninggalkan sebuah gagasan: menjadikan Mojokerto sebagai ruang temu para jurnalis, perupa, dan fotografer untuk bersama-sama merekam realitas, merawat budaya, dan membangun ekosistem kreatif yang melampaui batas wilayah.(ridwan)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular