Friday, October 9, 2026
spot_img
HomeSosial BudayaDari Kedalaman Laut ke Ruang Pamer, Priyok Dinasty Bawa Warna Mojokerto di...

Dari Kedalaman Laut ke Ruang Pamer, Priyok Dinasty Bawa Warna Mojokerto di Pameran Lukisan Nasional

DI ATAS KANVAS berukuran 75 x 55 sentimeter, warna biru, hijau, dan ungu saling bertemu. Sesekali merah, kuning, dan putih menyembul di antara sapuan warna yang berlapis. Garis-garis melengkung bergerak bebas, sementara titik-titik kecil tersebar seperti kehidupan yang terus berdenyut di kedalaman.

Karya itu diberi judul “Kehidupan Dasar Laut”. Sebuah lukisan karya Priyok Dinasty, pelukis asal Mojokerto yang menjadi salah satu peserta Pameran Lukisan Nasional bertajuk “Warna dan Keberagaman Budaya dalam Kanvas” di Plasa Marina Surabaya.

Pameran yang berlangsung pada 1 Juli hingga 30 Agustus 2026 tersebut diselenggarakan komunitas pelukis Gallery Celuritemas. Sebanyak 105 pelukis dari berbagai daerah ambil bagian, membawa karakter, pengalaman, dan bahasa visual masing-masing ke dalam satu ruang perjumpaan.

Para peserta datang dari berbagai wilayah di Jawa Timur, seperti Surabaya, Malang, Mojokerto dan Sidoarjo. Ada pula seniman dari Bandung, Indramayu, Demak, Salatiga, Bali, Lampung hingga sejumlah daerah di Kalimantan. Pameran ini bahkan diikuti peserta dari Belanda.

Keberagaman latar belakang para pelukis seperti menemukan relevansinya dengan tema yang diusung. Setiap kanvas menjadi ruang personal untuk berbicara tentang kehidupan, lingkungan, manusia, budaya, hingga pengalaman yang diterjemahkan melalui warna.

Di antara ratusan karya itulah, Priyok membawa imajinasinya menyelam ke dasar laut.

“Kehidupan Dasar Laut” tidak menghadirkan ikan, terumbu karang atau makhluk laut dalam bentuk realistis. Priyok memilih bahasa abstrak untuk membangun atmosfer kehidupan bawah air.

Dominasi warna biru dan hijau menciptakan kesan kedalaman, sementara lapisan warna dan sapuan yang dinamis menghadirkan gerak. Titik-titik putih dan hitam yang tersebar memberikan tekstur sekaligus imajinasi tentang organisme kecil yang hidup dalam ruang luas yang tak sepenuhnya dapat dijangkau mata manusia.

Garis-garis lengkung dan bercabang memperkuat kesan organik. Bentuk-bentuk tersebut seolah tumbuh, bergerak dan saling berinteraksi di tengah komposisi warna yang padat.

Secara visual, karya ini bergerak dalam pendekatan abstrak ekspresionisme dengan sentuhan abstrak organik. Laut tidak dipindahkan begitu saja ke atas kanvas. Ia hadir sebagai suasana—sebagai energi yang diterjemahkan melalui kebebasan warna, tekstur dan gerak.

Kehadiran Priyok juga tidak sendirian membawa nama Mojokerto. Empat pelukis lainnya turut berpartisipasi dalam pameran berskala nasional tersebut, yakni Nina ID, Anik Suhartatik, Dani, pelukis yang masih duduk di bangku SLB, serta Ebiet.

Lima nama dari Mojokerto tersebut menjadi bagian dari pertemuan lintas daerah yang memperlihatkan satu hal: dunia seni rupa terus bergerak melampaui batas geografis. Sebuah karya yang lahir dari ruang kecil, studio sederhana, bahkan sudut rumah seorang pelukis, dapat bertemu dengan publik dari berbagai daerah ketika memperoleh ruang yang tepat.

Semangat memperluas ruang bagi karya seni itu pula yang kemudian membuka percakapan lain di balik penyelenggaraan pameran.

Koordinator Pameran, Herry, seniman jebolan Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya, membuka peluang penjajakan kerja sama dengan MajaCraft. Ketertarikan tersebut muncul setelah pria yang karib disapa Kak Herry itu memperoleh informasi mengenai profil dan konsep MajaCraft melalui pemberitaan media online, situs MajaCraft.id, serta flyer yang diterimanya.

Peluang kolaborasi itu dapat menjadi langkah baru dalam mempertemukan ruang pamer fisik dengan ekosistem digital. Pameran tetap menjadi tempat penting bagi seniman dan publik untuk berhadapan langsung dengan karya, sementara platform digital dapat memperpanjang perjalanan sebuah lukisan setelah lampu ruang pamer dipadamkan.

Penjajakan tersebut sejalan dengan komunikasi yang sebelumnya dibangun jurnalis senior dan sastrawan Sasetya Wilutama bersama MajaCraft. Keduanya berangkat dari gagasan yang sama: perkembangan teknologi dapat membuka jalan lebih luas bagi seniman dan pelaku ekonomi kreatif untuk memperkenalkan karya tanpa kehilangan ruang fisik tempat mereka berkarya dan berinteraksi.

Bagi MajaCraft, peluang kerja sama dengan penyelenggara pameran dan komunitas pelukis dapat memperluas jejaring dengan pelaku seni rupa. Sebaliknya, bagi seniman, kehadiran ekosistem digital berpotensi menghadirkan etalase baru agar karya tetap dapat ditemukan, dikenal dan dipasarkan melampaui batas ruang pamer maupun wilayah.

Pada akhirnya, perjalanan sebuah lukisan memang tidak selalu berhenti ketika pameran berakhir.

Seperti “Kehidupan Dasar Laut” karya Priyok Dinasty, sebuah kanvas dapat memulai perjalanan dari tangan pelukis di Mojokerto, singgah di ruang pamer Surabaya, lalu menemukan kemungkinan baru untuk bertemu dengan penikmat seni di tempat yang jauh lebih luas.(ridwan)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular