Wednesday, October 7, 2026
spot_img
HomeRegionalKabupaten JombangIsu Kekerasan Muktamar ke-35 NU Memanas, Panlok: Terjadi di Luar Arena

Isu Kekerasan Muktamar ke-35 NU Memanas, Panlok: Terjadi di Luar Arena


Pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, diwarnai klarifikasi Panitia Lokal terkait isu dugaan kekerasan terhadap salah satu pengurus NU. Ketua Panitia Lokal Muktamar ke-35 NU, KH Abdurrozaq Sholeh, menegaskan peristiwa pemukulan yang ramai dikaitkan dengan muktamar tidak terjadi di arena muktamar maupun di kawasan Pondok Pesantren Tambakberas.

Klarifikasi itu disampaikan KH Abdurrozaq dalam konferensi pers pada Sabtu malam, 29 Agustus 2026, setelah muncul narasi mengenai dugaan pemukulan yang dikaitkan dengan dinamika Muktamar ke-35 NU. Berdasarkan konfirmasi yang diterimanya, peristiwa tersebut terjadi di salah satu hotel di kawasan Jalan Kepatihan, Jombang, sehingga berada di luar wilayah tanggung jawab Panitia Lokal.

“Menindaklanjuti dari konferensi pers dari salah satu calon Ketua Umum PBNU terkait narasi adanya kekerasan terkait dengan muktamar, itu saya tegaskan tidak benar. Itu terjadi di luar arena muktamar,” tegas KH Abdurrozaq Sholeh.

KH Abdurrozaq mengatakan pihaknya telah meminta dan menerima konfirmasi terkait lokasi kejadian. Ia menyebut peristiwa pemukulan berlangsung di salah satu hotel di Jalan Kepatihan, bukan di fasilitas penginapan resmi yang disiapkan panitia.

“Saya sudah dapat konfirmasi yang lengkap bahwasanya pemukulan terjadi di salah satu hotel di Jalan Kepatihan, bukan wilayah daerah yang di situ dalam jangkauan panitia lokal,” katanya.

Karena itu, ia kembali membantah informasi yang menyebut pemukulan berlangsung di arena Muktamar ke-35 NU.

“Jadi tidak benar adanya pemukulan ada di arena muktamar,” tegasnya.

Menurut KH Abdurrozaq, korban disebut merupakan salah satu pengurus NU yang kemungkinan juga berstatus sebagai delegasi resmi Muktamar ke-35 NU. Namun, status korban sebagai peserta muktamar tidak mengubah lokasi kejadian yang disebutnya berada di luar kawasan Tambakberas.

“Korbannya salah satu pengurus NU, ya otomatis mungkin dia juga sebagai delegasi resmi. Tapi saya pastikan tidak terjadi di wilayah Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang,” jelasnya.

KH Abdurrozaq menegaskan Panitia Lokal tidak mengetahui secara langsung peristiwa tersebut karena kejadian berlangsung di lokasi yang bukan merupakan penginapan resmi peserta yang berada dalam pengawasan panitia.

“Panitia tidak mengetahui sama sekali karena terjadinya bukan di tower atau penginapan yang disiapkan panitia. Kalau kita kan bertanggung jawab keamanan 24 jam di tower yang telah disiapkan oleh panitia,” jelasnya.

Ia menyebut korban dan terlapor berasal dari wilayah Kalimantan. Dalam informasi yang diterimanya, terlapor disebut bernama Alwan Saputra, yang disebut merupakan Ketua PWNU Kalimantan Utara.

Sementara mengenai motif dugaan pemukulan, KH Abdurrozaq mengaku belum mengetahui secara pasti. Ia menyebut kemungkinan persoalan tersebut berkaitan dengan masalah pribadi atau dinamika yang berkembang di luar pelaksanaan muktamar.

“Motifnya kami kurang tahu. Bisa jadi masalah pribadi atau mungkin masalah yang terkait dengan dinamika muktamar ini,” ujarnya.

KH Abdurrozaq juga mengatakan dirinya telah memperoleh konfirmasi dari pihak kepolisian, termasuk Kasat Reskrim, setelah informasi mengenai kejadian tersebut berkembang luas.

Ia menyerahkan penanganan perkara kepada aparat penegak hukum.

“Kalau memang sudah di ranah kepolisian, ya ikuti proses yang berjalan,” katanya.

Panitia Lokal, kata KH Abdurrozaq, menyayangkan munculnya narasi yang menghubungkan kejadian tersebut dengan arena Muktamar ke-35 NU. Menurutnya, narasi semacam itu berpotensi membentuk persepsi negatif terhadap pelaksanaan muktamar yang disebutnya berlangsung kondusif.

“Kami sebagai panitia lokal sangat menyesalkan konferensi pers yang sepihak. Karena ini akan bikin narasi yang negatif dan merusak citra muktamar yang sudah berjalan kondusif mulai dari awal sampai malam ini,” ujarnya.

Panitia, lanjut dia, tidak mengambil tindakan langsung terhadap korban maupun terlapor karena peristiwa tersebut berlangsung di luar wilayah tanggung jawab mereka.

“Tidak ada tindakan sama sekali. Kami hanya meluruskan narasi yang tidak benar terkait dengan kejadian atau apa pun yang bisa berpotensi menjadi stigma negatif terhadap pelaksanaan muktamar di Tambakberas ini,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, KH Abdurrozaq juga membantah informasi mengenai dugaan karantina terhadap peserta Muktamar ke-35 NU.

Ia mengaku belum mengetahui informasi mengenai adanya karantina. Namun, ia memastikan Panitia Lokal tidak melakukan tindakan tersebut.

“Kalau panitia mengkarantina peserta itu tidak benar,” tegasnya.

Ia menjelaskan Panitia Lokal telah menyiapkan fasilitas penginapan peserta di kawasan Tambakberas, mulai Tower 1 hingga Tower 9.

“Kalau panitia lokal, kami yang ditunjuk, tower yang kita siapkan ada di Tambakberas. Semuanya di Tambakberas, mulai tower 1 sampai tower 9,” jelasnya.

Menurutnya, tingkat peserta yang telah terkonfirmasi dalam proses registrasi mencapai sekitar 97,5 persen. Para peserta tersebut disebut bermalam di tower yang disediakan panitia.

“Semua peserta yang terkonfirmasi registrasi 97,5 persen dan semuanya bermalam di tower 1 sampai tower 9,” katanya.

KH Abdurrozaq menutup keterangannya dengan memastikan situasi pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Tambakberas tetap aman dan terkendali.

“Aman, sangat kondusif sekali, enggak ada apa-apa,” tegasnya.

Klarifikasi tersebut disampaikan Panitia Lokal untuk meluruskan informasi mengenai dugaan kekerasan dan karantina peserta yang berkembang di tengah pelaksanaan muktamar.

Sebelumnya, calon Ketua Umum PBNU KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam menyampaikan adanya pengurus PCNU yang mengalami dugaan kekerasan fisik dan telah melaporkan peristiwa tersebut ke Polres Jombang. Ia menyebut kejadian itu berkaitan dengan penolakan terhadap arahan penggunaan mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) dalam pemilihan Ketua Umum PBNU.

Gus Salam juga menyebut korban telah menjalani pemeriksaan medis dan visum. Selain dugaan kekerasan fisik, ia menyoroti adanya dugaan intimidasi dan karantina peserta yang menurutnya menimbulkan tekanan psikologis dalam dinamika Muktamar ke-35 NU.

Keterangan tersebut kemudian dibantah dari sisi lokasi kejadian oleh Panitia Lokal. KH Abdurrozaq menegaskan dugaan pemukulan tidak berlangsung di arena muktamar maupun wilayah Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.(rial)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular