Oleh : Choirul Anwar
Tak
seperti biasanya, pagi itu matahari bersinar
redup, semburat cahayanya
menerobos awan
tipis seiring mata angin yang bergerak pelan dari arah barat daya.
tipis hijau muda kemerah-merahan yang bersemi disetiap pucuk tangkai tampak saling meliuk oleh sentuhan angin
kering diantara rerimbunan pohon disepanjang jalan area persawahan.
jalan terdapat sungai kecil, sungai patusan, tempat pembuangan air dari bekas
air yang mengairi sawah, terlihat penuh
seolah tak mengalir.
rumput – rumput liar tumbuh di tebing jalan
menjulur ke sungai
bersama tumbuhnya tanaman kangkung yang
mengapung sesak diatas air. Juga terlihat tumbuhan kirta dengan
kuncup bunga corong merah kekuningan menyela diatas ilalang.
diatas terlihat burung-burung berkicau
berterbangan. Sesekali terbang begitu rendahnya, menyambar diatas kepala
para petani yang sedang sibuk bekerja mencangkul mengolah sawah.
terasa begitu alami, melihat burung –
burung terbang beriringan, berputar dan sesaat
hinggap di sebuah
pohon mangga yang sedang berbuah lebat bergelantungan rendah, kemudian terbang
lagi. Begitu seterusnya, hingga menghilang
dan pergi lagi.
keindahan itu sama sekali tak menyita perhatian mereka, karena sudah terbiasa
menjadi suguhan lumrah dan hampir setiap pagi terjadi menghiasi suasana diatas
hamparan sawah, kala musim tanam padi telah tiba.
mereka acuh dan tak peduli. Mereka asik bekerja, terus mengayunkan cangkul
dalam genggaman erat tangannya, sambil sesekali meneguk air putih dalam ceret
sekedar melepas dahaga.
sepenggalah, pemilik sawah datang membawa makanan, nasi jagung dengan lauk ikan
asin dan klothok goreng ditabur tepung, sayur lodeh rebung dalam rantang
aluminium serta minuman kopi dalam botol. Sajian itu menjadi
suguhan rutin sehari – hari ditengah sawah ladang saat mereka bekerja.
mereka beristirahat, duduk berjejer diatas galengan sawah yang melintang
ditengah ladang, dengan suasana suka cita penuh keakraban, mereka menikmati
makanan dengan lahapnya.
begitu nikmat. Mereka cukup menikmatinya dengan jemari tangan
yang telah dibasuh dengan air yang mengaliri sawah.
makanan khas ala sawah, dan sudah menjadi
kebiasaan, sesaat mereka menyempatkan minum kopi yang sudah mulai dingin. Sebatang rokok kretek cap jambu klampok kuning mereka bakar. Biasanya pula, mereka menghisap rokok tak habis sebatang. Setelah beberapa kepulan, gulungan tembakau itu mereka matikan
untuk disulut lagi saat senggang.
wajah-wajah segar dan ceria kembali melekati dirinya. Mereka
kembali meraih cangkul dan menggerakkannya dengan penuh tenaga, hingga tak
terasa matahari telah jauh bergerak hampir berada pada posisi lurus diatas
garis vertical. Terik
sinarnya mulai terasa memancar bebas tak terhalang, bersama hilangnya awan yang
terus berjalan kearah timur laut.
bayang-bayang tubuhku dari cahaya sinar matahari, nampak bayangan di tanah
yang mulai memendek, hampir sama dengan tinggi badanku. Aku agak sedikit lega,
itu pertanda waktu pulang akan tiba.
saat libur sekolah, aku ikut ayah ke sawah. Seperti juga sebelumnya, setiap
membantu ayah disawah, aku berpamitan meninggalkan ladang lebih dahulu. Menunggu ayah
ditempat yang teduh, dibawah pohon yang tumbuh rimbun dipinggir jalan, agak
jauh disisi timur dari lokasi sawah milik ayah.
ayah disana, duduk di samping sepeda onthel
yang disandarkan di pohon
itu sejak pagi tadi.
tempat yang menjadi langganan parkir sepeda ayah setiap pergi ke sawah dan
disitu pula tempat aku menunggu.
kejauhan terlihat ayah mulai beranjak berjalan ke arahku sambil memanggul
cangkul dibahu kanannya, sementara
tangan kirinya menenteng rantang aluminium tempat nasi dan sayur serta
botol kopi yang sudah kosong.
berjalan menapaki jejak – jejak kaki diatas galengan yang belebat lumpur.
” Sudah capek? “, tanyanya singkat ketika sampai didekatku, tak lepas
dengan senyumnya yang merekah menghiburku.
dengan isarat “menganggukkan
kepala” aku mengiyakannya. Jawaban manja
seorang anak desa yang sedang menunggu ayahnya disawah. Jawaban
yang mestinya tak kan terjadi andaikata kala itu aku sudah dewasa. Ayah,
maafkan aku
petani lainnya nampak kompak mengakhiri rutinitasnya. Mereka
beranjak bersama, meninggalkan ladang
beriringan mengayuh sepeda menuju rumah
masing – masing.
memboncengku diiringan paling belakang menempuh jarak dua setengah kilometer dari lokasi sawah di dusun Candisari
untuk sampai di rumahku di ujung timur dusun Jombatan. Jarak tempuh yang terasa jauh
kala itu, karena kondisi jalan tanah
yang kering rengkah dan berlekuk.
bayangan itu masih melekat dibenakku seolah kejadian 38 tahun silam saat aku masih duduk di bangku SMP itu baru saja terjadi
kemarin. *)
ayunkan cangkul pada hari itu
itu
Penulis adalah Kabag Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Kota Mojokerto.




