angin bersilir sepoi-sepoi basah, semakin menambah dinginnya hawa malam, hingga
menembus baju lengan panjang berbahan kain drill yang kupakai.
merasuk dalam sumsung tulangku.
mengurungkan niatku untuk terus jalan-jalan keliling kampung dengan kendaraan
roda dua berboncengan bersama seorang teman, melewati jalan yang membentang
diantara persawahan yang memisahkan antar dusun di desa Jombatan.
kopi tepatnya disudut persimpangan jalan yang menghubungkan antara dusun
Candisari dan dusun Jombatan, Desa Jombatan, kurang lebih jarak 3 km dari
rumahku.
Sprint tahun 1974 yang sudah berusia 9 tahun baru kuperoleh kala itu. Kuparkir
dekat kerumunan mereka yang sedang menyaksikan permainan karambol diteras
kedai, hingga sempat mengganggu konsentrasi mereka karena perhatiannya tersita
melihat kendaraanku.
yang membujur disamping meja kedai dan kubiarkan mereka melirik vespaku.
dihidangkan diatas piring kecil alas cangkir sambil menunggu agak sedikit
dingin, kuminum sambil menikmati kepulan asap rokok kretek Wismilak kesukaanku
yang sudah kusulut sejak tadi.
sorak sorai memecahkan suasana permainan diantara mereka. Ketika salah satu
dari pemain berhasil memasukkan anak karambol pada lubangnya, dengan cara
menyentilkan strikker dan memantulkannya pada karet dinding papan karambol.
satu dari pemain masuk dalam lubang karambol, disusul kesalahan masuknya mascot
oleh pemain lainnya menambah riuhnya suasana.
dengan dinginnya udara malam itu. Tapi tak lama kemudian beberapa diantara
mereka terlihat menyimpulkan kedua tangannya diatas dada karena kedinginan dan
sebagian yang lain kembali menarik sarung yang dikalungkan dalam pundak mereka,
dijulurkan membungkus lehernya menahan dinginnya angin malam yang berhembus
kencang.
menyisakan endapan bubuk kopi yang melekat didalamnya, setelah kuambil dan
kuoleskan pada batang rokok yang sedang kunikmati. Menjadi hal yang biasa
dilakukan bagi perokok untuk menambah nikmatnya rasa.
bergabung diantara kerumunan mereka. Menyusul ikut bersorak kompak menyaksikan
permainan karambol.
tanpa beban dalam pikirannya. Kebahagiaan itu nampak sekali pada diri mereka.
mempertemukan kedua alis matanya.
mengerutkan keningnya. Satupun diantara mereka tak ada yang menegang urat
pelipisnya. Satupun diantara mereka tak ada yang masam mukanya.
raut wajahnya.
sengaja.
senyum mereka merekah.
menemuimu seperti kala itu.
saat yang sama.
jauh hampir diujung senja. Kau tak mungkin kembali lagi walau saatmu ada pada
saat ini Karena kau akan terus berjalan tak berhenti Kecuali dalam tepian waktu
yang menjadi takdir Ilahi Terlepas dari makna hak dalam setiap waktu.
tertawa bersama mereka dengan segala kemurniannya adalah dambaan setiap insan.
Meski dengan segala keterbatasan.
senyum – senyum kecut.
dan
Legeslatif atau mungkin ditempat lain dimana kita berdiri.
ada.
yang tak pernah lepas. Adalah kesedihan nyata yang akan terus mengejarnya.
mengingatkanku kembali akan kedai kopi Mak Konah.
pernah tahu. Tetapi kedai kopi Mak Konah dengan karambolnya kala itu, tidak
saja populer hingga didesa sekitar. Akan tetapi dapat memberikan i’tibar bagi
kita.
sedikit reot dengan lampu petromak menerangi karambolnya, mampu membangun rasa
kekeluargaan diantara mereka. Tua, muda bergabung bercengkerama bak saudara.
Mak Konah beberapa hari saja, terasa ada yang kurang. Baik sekedar ngopi bareng
maupun berkerumun bermain dan menonton mereka yang sedang berkarambol.
kale,” “( Sudah Mak Kona, berapa ? kopi dua cangkir),” tanyaku sesaat
sebelum beranjak pulang.
“(Sepertia biasanya Nak, empat ratus rupiah),” jawab Mak Konah.
kala itu, adalah harga standart di kedai – kedai kopi pada umumnya, hampir
disetiap kedai yang berada disekitar.
radosan,” “(Hati – hati lho Nak di jalan),” pesannya kepadaku.
hati. Sejuk, sesejuk sajak rayuan cinta seiring sejuknya udara malam itu. Penuh
dengan kedamaian. Asik sekali rasanya. Tak kalah asiknya jika dibandingkan
dengan coffee shop, meski dilengkapi segala fasilitas dan wifinya yang ada pada
saat ini.
mereka sibuk dengan HPnya masing masing hingga berjam – jam lamanya tak menyapa
satu sama lainnya. Individualistis.
kala itu, meski dengan fasilitas seadanya dan hanya dilengkapi karambol. Tetapi
banyak hal yang kita peroleh. Belum lagi i’tibar yang dapat kita petik dari
permainan karambol itu sendiri.
strikker dan memantulkannya memasukkan buah karambol kedalam lubangnya. Tentu
dengan mengambil pelajaran dari folosofi karambol yang bersifat positif dan bukan
dalam arti yang negatif.
Protokol Pemerintah Kota Mojokerto.




