Friday, October 9, 2026
spot_img
HomeEsaiSosokAgus Wahjudi Utomo : Di Persimpangan Lapangan, Sidang, dan Kehidupan Kota

Agus Wahjudi Utomo : Di Persimpangan Lapangan, Sidang, dan Kehidupan Kota

“Kunci kemajuan adalah sinergi dan keberanian untuk terus bergerak, meski dengan segala keterbatasan.” Agus Wahjudi Utomo

LAGA FINAL basket putri Porprov IX Jawa Timur 2025 berakhir dengan skor tipis. 9–12. Kota Surabaya menang. Tapi Kota Mojokerto tak kalah—hanya tertunda satu langkah dari sejarah. Di balik skor yang tertulis dingin, tersimpan api semangat yang menyala terang: semangat para pemain muda, semangat para pelatih yang gigih, dan semangat satu kota kecil yang sedang menapak tangga prestasi.

Dari kejauhan, Agus Wahjudi Utomo menyimak jalannya pertandingan. Ia tidak hadir di tribun, tapi hatinya ada di lapangan itu. Setiap detik yang berlalu, setiap lemparan yang gagal atau masuk, baginya adalah cerita dari kerja panjang pembinaan dan tekad yang tak pernah putus.

“Selangkah lagi menuju emas. Ini bukan akhir, ini awal dari target yang lebih besar,” ujarnya, soal akhir pertandingan.

Agus, sapaan karib pria berkumis tebal, bukan sekadar pejabat yang mengeluarkan pernyataan. Ia adalah arsitek dari proses yang tak kasatmata. Sebagai Ketua Perbasi Kota Mojokerto, dua kali ia terpilih secara aklamasi. Di bawah kepemimpinannya, Perbasi bukan hanya organisasi, tetapi wadah harapan: tempat anak-anak muda diasah bukan hanya untuk menang, tetapi untuk tumbuh.

Nama Agus akrab di Mojokerto Raya. Ia pengusaha, politisi, juga penggerak komunitas. Dua periode ia duduk di DPRD Kota Mojokerto. Di Partai Golkar, ia dipercaya sebagai Sekretaris DPD Kota Mojokerto, figur yang tenang namun tajam dalam membaca peta lokal.

Tapi kekuatan Agus bukan hanya pada jabatan. Ia dikenal merakyat, tidak elitis, dan terbuka. Rumahnya di Balongsari VIII lebih sering disambangi warga daripada para elite. Di gang sempit atau warung kopi, ia menjadi pendengar yang sabar, bukan penguasa yang berjarak.

“Masyarakat tak butuh pejabat yang hanya datang saat kampanye,” ucapnya, “mereka butuh teman bicara yang tidak pergi setelah pemilu selesai.”

Pendidikan formalnya di Universitas Surabaya (Ubaya) dan Universitas Mayjen Sungkono Mojokerto memberinya fondasi akademik. Pengalaman di Resimen Mahasiswa (Menwa) Ubaya menempanya dalam kedisiplinan dan keteguhan sikap. Nilai-nilai itu terbawa ke ruang politik, ke dunia usaha, bahkan ke pengabdian di olahraga dan kebudayaan.

Sebagai pengusaha, Agus tidak sekadar bicara modal, tapi tentang keberdayaan ekonomi masyarakat. Ia percaya bahwa kemajuan kota tak hanya dibangun dari anggaran pemerintah, tetapi juga dari usaha-usaha kecil yang tumbuh di kampung-kampung.

Moto hidupnya: “Bersama Kita Bisa.” Bukan slogan kampanye, tapi prinsip hidup. Ia hidupkan semangat itu dalam kerja lintas sektor, merajut sinergi antara daerah, warga, pelaku usaha, dan komunitas. Agus tahu, dalam masyarakat yang tercerai-berai, hanya kolaborasi yang bisa menjahit kembali.

Di bidang olahraga, Agus tak sekadar menjabat. Ia berkomitmen membangun ekosistem bola basket: dari pelatihan atlet muda, pelatih, hingga wasit. Di Porprov sebelumnya, Mojokerto mencuri emas lewat tim putra 3×3. Tahun ini, tim putri nyaris menyamai sejarah.

Agus tahu, prestasi bukan sekadar soal skor, tapi soal pembinaan yang tekun dan sistem yang kuat. Ia menyebut Porprov kali ini sebagai batu loncatan, bukan tujuan akhir.

Di sisi lain, ia juga Komisioner Dewan Kebudayaan Daerah (DKD), aktif menjaga denyut sejarah dan identitas kota yang kerap terabaikan dalam geliat pembangunan. Baginya, budaya bukan sekadar artefak, tapi akar yang menjaga kota tetap berpijak.

Hari-harinya tak pernah sepi. Tapi Agus tak mengeluh. Baginya, pemimpin bukan orang yang paling lantang bicara di mimbar, melainkan yang paling konsisten menjaga nyala: nyala solidaritas, nyala pengabdian, nyala kepercayaan.

Dan jika kelak sejarah menanyakan siapa yang menjaga denyut Kota Mojokerto ketika banyak orang sibuk memperdebatkan kepentingan, nama Agus Wahjudi Utomo barangkali tak tertulis di spanduk atau plakat. Tapi jejaknya akan tetap abadi, di lapangan yang penuh semangat, di ruang sidang yang penuh harapan, dan di hati warga yang tahu siapa yang benar-benar memilih untuk tidak tinggal diam. (ridwan)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular