Surabaya-(satujurnal.com)
Puluhan guru dari Komunitas Guru Penulis Sidoarjo (KGPS) kembali menorehkan jejak literasi. Kali ini, mereka merilis buku antologi puisi dan pantun ke-12 berjudul Gemilang Patriotku dalam acara yang digelar di Quds Royal Hotel, kawasan Ampel, Surabaya, Kamis (24/7).
Sesuai temanya, karya-karya dalam buku setebal 146 halaman ini ditulis untuk menyambut HUT ke-80 Kemerdekaan RI. Ada 12 guru anggota KGPS yang menyumbangkan puisinya, mulai dari Kasma Budi Rahayu hingga Wuri Yeni Dila Puspitasari. Tak hanya dari kalangan guru, buku ini juga melibatkan 10 penulis tamu lintas profesi, seperti J. Subekti (Ketua Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945), penyair Denting Kemuning, dosen hukum Abraham Ferry Rosando, serta guru dari luar kota seperti Kanti Rahayu dari SMPN 1 Banyuwangi.
Rektor Untag Surabaya, Prof Dr Mulyanto Nugroho, turut memberikan sambutan tertulis, sementara kata pengantar ditulis oleh wartawan senior Imung Mulyanto yang menyorot tema “Patriotisme Zaman Now”.
Dalam sambutannya, Ketua KGPS Endang Kusniati, S.Pd., menyampaikan bahwa buku ini adalah bentuk rasa syukur sekaligus penghormatan kepada para pejuang kemerdekaan. Ia juga mendorong guru-guru untuk terus menanamkan semangat patriotisme kepada siswa, salah satunya lewat karya tulis.
Apresiasi juga datang dari Cluster General Manager Quds Royal Syariah Hotel, Pungky Kusuma. Ia mengaku kagum karena para guru masih menyempatkan diri berkarya di tengah padatnya aktivitas. Pungky bahkan membuka peluang kerja sama kegiatan literasi di jaringan hotel Quds Royal, baik di Surabaya maupun Jakarta.
Meski acaranya sederhana, suasananya cukup meriah. Sejumlah penulis membaca karya mereka, dan dua tokoh inspiratif ikut tampil: seniman ludruk Meimura dan wartawati senior Ita Nafsiah. Meimura membawakan ludruk garingan dengan karakter Besut dan Rusmini, lengkap dengan kidungan dan gerakan tari Remo. Sementara Ita memberikan motivasi kepada para guru agar kelak bisa menulis buku secara individu.
Dalam pernyataan terpisah, Kris Maryono selaku pembina KGPS menyebut jumlah anggota komunitas saat ini sekitar 30 orang. Namun ia memahami tidak semua bisa aktif menulis karena kesibukan mengajar dan tugas tambahan lainnya. Ia menyebut pencapaian kali ini sebagai hal luar biasa.
“Mungkin nanti, kalau sudah purna tugas, baru bisa menulis buku tunggal,” ujar Kris yang juga Ketua Komunitas Wartawan Usia Emas (Warumas). (one/sst)



