Mojokerto-(satujurnal.com)
Kasus wasting dan stunting pada anak masih menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Mojokerto. Meski prevalensinya terus menurun, Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari, menegaskan target nol wasting dan stunting pada tahun 2026.
Harapan itu kembali ia sampaikan saat menghadiri wisuda Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH) “Anak Bangsa” di Kelurahan Mentikan, Kecamatan Prajuritkulon, Senin (11/8/2025).
Acara ini diikuti 25 orang tua, sebagian memiliki anak dengan kondisi wasting dan stunting.
“Ke depan, saya ingin semua anak di Mojokerto tumbuh sehat, berkembang optimal, dan bebas dari wasting maupun stunting,” ujar Ning Ita, sapaan akrabnya.
Komitmen ini bukan tanpa hasil. Sejak akhir 2024, dua kelurahan di Kota Mojokerto yakni kelurahan Meri dan Purwotengah sudah berstatus zero stunting. Berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPBGM), angka stunting turun dari 7,71% pada 2020 menjadi hanya 1,47% per April 2025.
“Data ini valid karena kita punya aplikasi Gayatri yang memuat hasil posyandu, terintegrasi dengan data puskesmas dan rumah sakit, serta didukung 1.600 kader motivator yang mengawasi langsung kondisi warga di lingkungannya,” jelas Ning Ita dalam kegiatan Penilaian Kinerja Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting yang digelar secara daring oleh Tim Percepatan Penurunan Stunting Provinsi Jawa Timur 11 Juni 2025 lalu.
Seluruh kelurahan kini menjadi lokus Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting (PPPS), dengan keterlibatan 19 OPD yang menjalankan 179 sub kegiatan, mulai dari Gempa Genting (Segenggam Sampah Gawe Anak Stunting), Canting Gula Mojo, hingga Gentala (Gerakan Tuntaskan Stunting Melalui Layanan Terintegrasi Bersama).
“Meski sudah menurun, kami tidak berhenti. Targetnya jelas nol stunting di 2026,” tegas Ning Ita.(one/hms)



