Wednesday, October 7, 2026
spot_img
HomeCatatan dari TepiCatatan dari Tepi: Kampung Pecinan, Sekolah, dan Keindonesiaan

Catatan dari Tepi: Kampung Pecinan, Sekolah, dan Keindonesiaan

Suasana kuliner malam dengan nuansa khas budaya Tionghoa kembali bisa dirasakan di Kampung Pecinan, sentra kuliner di sepanjang jalan Karyawan Baru, Kelurahan Sentanan, Kota Mojokerto.

Tahun lalu, pemerintah kota mencoba menghidupkan lagi denyut lama, kuliner malam di kawasan pecinan. Tahun ini, acara itu kembali dibuka.

Tak beda konsep dari Kampung Pecinan Part 1, pengunjung dimanjakan dengan beragam pilihan, mulai dari jajanan khas Kota Mojokerto seperti onde-onde, Chinese food, makanan khas Jawa Timur seperti rawon dan pecel, hingga minuman kekinian dan olahan daging favorit etnis Tionghoa.

Kampung Pecinan yang unik dengan gapura kokoh di kedua ujung jalan sebagai pintu masuk, serta hiasan lampion merah yang memberikan suasana khas Pecinan buka di hari Jumat, Sabtu, dan Minggu malam.

Kampung Pecinan bukan hanya menjadi pusat kuliner tapi juga mencerminkan keberagaman etnis di Kelurahan Sentanan. Selain itu, kenyamanan tempat, keotentikan rasa, harga terjangkau menjadikan Kampung Pecinan sebagai destinasi favorit.

Kampung Pecinan di Kota Mojokerto mungkin tidak seramai Kya-Kya Surabaya atau Glodok Jakarta. Tapi seperti di kota-kota lain di Jawa, di balik warung dan ruko tua, tersimpan lapis-lapis sejarah panjang hubungan antara Tionghoa dan Indonesia. Onghokham (2008) pernah mengingatkan, anti-Cina, kapitalisme Cina, dan gerakan Cina adalah satu paket pelik yang terus muncul dalam sejarah kita. Kota Mojokerto tak terkecuali.

Di awal abad ke-20, sekolah-sekolah Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) berdiri, termasuk di Kota Mojokerto. Nafi Hasan (2014) mencatat, di sana muncul gagasan nasionalisme baru yang tak selalu beriring dengan nasionalisme bumiputra, tapi sering kali berkelindan dengannya. Nasionalisme yang lahir dari ruang kelas, dari pelajaran bahasa, dari buku-buku kiriman negeri leluhur.

Namun sejarah tak pernah linear. Komunitas Tionghoa Mojokerto juga menjadi saksi kebijakan kolonial yang menata ruang kota dengan garis demarkasi sosial. Ada kampung, ada kampung pecinan, ada pasar, ada alun-alun. Mastuhu (1959), menukil laporan lapangan mahasiswa UGM, menyebut Mojokerto sebagai kota kecil dengan tata ruang yang diwarnai oleh pembelahan sosial itu. Seperti kota-kota kolonial lain, ada ruang-ruang yang ditentukan siapa boleh tinggal di mana.

Charles Coppel (1996) mengingatkan kita bagaimana krisis sering kali menajamkan garis perbedaan. Orang Tionghoa sering menjadi korban scapegoating (kambing hitam) ketika negara goyah. Di Kota Mojokerto, ingatan itu masih samar, tersimpan di antara rumah toko yang menua dan kuburan Tionghoa yang tersisa. Sarkawi Husain (2015) dalam Colombijn, Freek dan Joost Coté, disebutkan, di Surabaya, kuburan Tionghoa bahkan bisa menjadi simbol perebutan ruang sakral antara kontrol, konflik, dan negosiasi. Kita bisa membayangkan resonansinya di Kota Mojokerto, hanya berjarak 50 kilometer dari kota besar itu.

Bagi saya, pengalaman ini menyalakan kembali memori lain, masa sekolah di SMA Taruna Nusa Harapan (TNH), sebuah sekolah swasta di Kota Mojokerto, dengan mayoritas murid etnis Tionghoa. Di sana saya belajar arti kebersamaan yang melampaui sekat. Di balik dinding kelas sederhana, nasionalisme justru digembleng dengan kuat. Upacara bendera selalu khidmat, merah putih bukan simbol asing, melainkan bagian dari keseharian.

Perbedaan etnis tidak pernah menjadi jurang. Ia justru jembatan. Kami berbagi makanan di kantin, belajar bersama tanpa bertanya “dari mana asalmu” atau “apa keyakinanmu.” Dari interaksi itu saya mengerti: nasionalisme bukan jargon besar, melainkan perjumpaan sederhana sehari-hari.

Kini, puluhan tahun setelah memori kelulusan dilipat, rasa kebersamaan itu masih terawat. Di grup WhatsApp alumni, setiap Ramadhan ucapan selamat berpuasa hadir tulus. Saat Idul Fitri dan Idul Adha, teman-teman non-Muslim tak pernah absen memberi selamat. Begitu juga sebaliknya saat Natal dan Imlek tiba.

Sikap toleran dan kebersamaan itu menemukan cerminnya malam ini di Kampung Pecinan Kota Mojokerto. Di tengah keramaian kuliner, saya melihat Indonesia dalam bentuk yang paling riil. Orang berdesakan tanpa memandang latar belakang, bercanda sambil menyantap makanan, menikmati keberagaman tanpa dibuat-buat. Lampion merah bergantungan berdampingan dengan bendera merah putih. Kampung Pecinan bukan hanya ruang kuliner, tapi juga ruang kebersamaan, ruang di mana toleransi yang saya alami di bangku sekolah kini hadir kembali di wajah kota.

Indonesia yang kini berusia 80 tahun tentu masih menghadapi tantangan kebangsaan yang berat. Ada suara-suara yang mencoba mengoyak perbedaan. Tetapi pengalaman kecil ini, baik di ruang kelas SMA TNH, di grup alumni, maupun di lorong kawasam pecinan, mengingatkan saya bahwa kita punya fondasi kuat. Keindonesiaan yang lahir dari kebersamaan sehari-hari.

Indonesia tidak hanya ada dalam teks proklamasi atau pidato kenegaraan. Ia bisa hadir di lapak UMKM Kampung Pecinan saat kita berbagi dengan teman berbeda etnis. Ia berdenyut dalam sapaan ringan di grup alumni. Ia menyala dalam aroma lumpia dan wedang ronde yang bercampur dengan semangat merah putih.

Kota Mojokerto lewat Kampung Pecinan dan ruang-ruang kecilnya, telah memberi pelajaran penting, sejarah bukan sekadar arsip, tetapi pengalaman yang terus dihidupkan. Dan persahabatan yang terjalin di sekolah dulu, yang kini menjelma solidaritas tanpa batas, adalah bukti bahwa keindonesiaan bukan wacana, melainkan kenyataan yang kita rawat bersama.

Kampung Pecinan, kuliner dan sejarah, selalu lebih dari sekadar makanan. Ia adalah aroma ingatan, juga cara sebuah kota merundingkan masa lalunya sambil tetap menyalakan harapan untuk masa depan. (ridwan)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular