Jombang-(satujurnal.com)
Musim panen tomat di Desa Glagahan, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang, tahun ini menghasilkan buah yang melimpah. Pohon tumbuh subur, buah berlimpah, bahkan hampir tanpa gangguan hama maupun cuaca ekstrem. Dalam sekali tanam, petani bisa memanen hingga tiga kali, bahkan empat kali petik panen.
Namun, hasil panen yang bagus itu tidak berbanding lurus dengan keuntungan. Sejak awal panen pada akhir Juli lalu, harga tomat justru terus merosot. Saat ini, harga di tingkat petani hanya Rp 2.000 per kilogram. Padahal sebelum musim panen tiba, harga tomat sempat mencapai Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu per kilogram.
Muhaimin, salah satu petani tomat asal Kecamatan Perak, mengatakan harga anjlok sejak awal musim panen. “Kemarin paling tinggi sempat Rp 4.000 per kilo, sekarang turun sampai Rp 2.000. Padahal sebelumnya bisa Rp15 ribu sampai Rp 20 ribu,” ujarnya.
Dengan lahan 1.400 meter persegi, sekali panen Muhaimin bisa memanen 1,2 ton hingga 1,3 ton. Namun biaya yang ia keluarkan dari awal tanam hingga panen mencapai Rp 12 juta. Dengan harga yang rendah, keuntungan yang diharapkan nyaris tak ada, bahkan hanya bisa menutup ongkos garap.
“Kalau hasilnya sebenarnya meningkat, tapi harga yang turun. Jadi sama saja, kami merugi,” katanya.
Muhaimin menyebut, tomat hasil panennya bakal ia pasarkan hingga ke pasar Nganjuk.
Fenomena harga jatuh saat panen raya ini bukan pertama kalinya dirasakan petani di Perak. Mereka berharap ada solusi dari pemerintah atau pasar agar jerih payah yang sudah dikeluarkan bisa sebanding dengan hasil yang diperoleh. (rial)



