Tuesday, October 6, 2026
spot_img
HomeHidup di Gubuk Rapuh Sempadan Jalan: Nenek Paimah dan Harapan di Ujung...

Hidup di Gubuk Rapuh Sempadan Jalan: Nenek Paimah dan Harapan di Ujung Senja

Di balik hiruk-pikuk kota, tepat di tepi Jalan Seruni, Desa Pulo Lor, Kecamatan Jombang Kota, Kabupaten Jombang, berdiri sebuah gubuk yang nyaris roboh. Dindingnya separuh dari anyaman bambu yang mulai keropos, separuh lagi dari seng bekas yang karatan. Atapnya tambal-sulam dengan lubang di sana-sini.

Di gubuk reyot itulah Nenek Paimah (70) bertahan hidup. Sejak suaminya meninggal lima tahun silam, ia tinggal bersama anak perempuannya yang menjanda dan seorang cucu laki-laki kecil yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Bangunan sederhana itu berdiri sejak tujuh tahun lalu, atas persetujuan warga sekitar. “Dulu saya sama bapaknya bikin gubuk ini. Seng-seng bekas, bambu seadanya. Warga di sini mengizinkan,” ujar nenek Paimah.

Kini, ia menjalani hidup dengan serba keterbatasan. Anak perempuannya memang berjualan botok dari daun singkong dan tempe, tetapi hasilnya jauh dari cukup. Untuk memenuhi kebutuhan cucunya, nenek Paimah pun terpaksa mengemis. “Saya cari makan sendiri. Kalau cucu minta jajan, saya kadang minta’minta di pasar Denanyar, juga di jalan-jalan. Namanya anak sekolah, kan pengin jajan juga,” ucapnya lirih.

Bagian dalam gubuk itu tak lebih dari ruangan sempit. Sebuah lemari tua, kasur tipis, dan tumpukan karung berisi pakaian memenuhi ruangan. Di sudut dapur, panci dan piring tersusun di rak kawat sederhana. Bila hujan turun, lantai tanah becek dan udara lembap merembes dari celah-celah dinding.

Dari pemerintah, ia memang menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) sebesar Rp 600 ribu setiap tiga bulan sekali. Tapi uang itu segera habis untuk belanja kebutuhan pokok dan sangu sekolah cucunya. Sisanya tetap harus ditambal dengan cara apa pun.

Meski hidup di tempat tinggal yang nyaris roboh, nenek Paimah memilih tetap bertahan. “Takut kalau roboh kena angin? Ya takut. Tapi mau bagaimana lagi. Kalau ambruk, ya artinya apes,” ujarnya dengan senyum tipis, seolah tengah menghibur dirinya sendiri.

Tetangga sekitar memahami betul kondisi nenek Paimah. Joko Fatah, salah satu warga yang kerap membantu, menyebut gubuk itu tak layak huni. “Kalau hujan deras, air masuk ke dalam rumah. Kondisinya memprihatinkan sekali,” katanya.

Istri Joko bahkan sering kali membayar makanan ketika melihat nenek Paimah sudah sarapan di warung. “Kalau tidak ada warga yang memperhatikan, saya tidak tahu bagaimana nenek Paimah bertahan,” tambahnya.

Menurut Joko, pemerintah semestinya memberi perhatian lebih. “Kasihan, sudah tua masih harus mikir cucu. Rumahnya pun jelas tidak layak. Pemerintah harus peka. Jangan sampai ada warga yang hidup sebatang kara di rumah rapuh tanpa perhatian,” ujarnya tegas.

Harapan yang Tak Pernah Padam

Meski usia renta, sorot mata nenek Paimah selalu berbinar setiap kali cucunya pulang sekolah dengan seragam lusuh. “Selama saya masih bisa jalan, masih bisa bernafas, saya urus cucu. Itu saja,” katanya mantap.

Kalimat sederhana itu terdengar seperti sumpah setia. Ia mungkin rapuh secara fisik, sama rapuhnya dengan gubuk tempat ia bernaung, namun hatinya sekuat seng berkarat yang masih sanggup menahan hujan dan panas.

Di tengah segala keterbatasan, nenek Paimah tetap teguh menjaga harapan, seakan ingin membuktikan bahwa kasih sayang seorang nenek mampu bertahan melawan kerasnya hidup. (safrial)

RELATED ARTICLES

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular