Friday, October 9, 2026
spot_img
HomeSerba-serbiBMS Segarkan Dongeng Nusantara Lewat Teater Anak di ARTSUBS 2025

BMS Segarkan Dongeng Nusantara Lewat Teater Anak di ARTSUBS 2025

Surabaya-(satujurnal.com)
Bengkel Muda Surabaya (BMS) ikut ambil bagian dalam gelaran ARTSUBS 2025, pameran seni rupa kontemporer terbesar di Indonesia yang berlangsung di Balai Pemuda Surabaya mulai 2 Agustus hingga 7 September 2025.

Ajang ini menghadirkan lebih dari 130 seniman dan kolektif seni dari berbagai daerah dengan beragam karya, mulai dari lukisan, patung, fotografi, video art, hingga eksperimen digital berbasis augmented reality (AR) dan kecerdasan buatan (AI).

Selain pameran, ARTSUBS 2025 juga menghadirkan diskusi, workshop, pertunjukan seni, hingga program edukasi bagi pelajar dan mahasiswa.

Salah satu yang ikut meramaikan adalah BMS dengan teater anak berjudul “Hikayat Anak yang Sombong”, yang akan dipentaskan pada Sabtu, 30 Agustus 2025 pukul 19.00 di Gedung Balai Budaya, Komplek Balai Pemuda.

Pertunjukan berdurasi 45 menit ini merupakan adaptasi dari kisah rakyat Sunda, Sangkuriang. Namun, BMS menghadirkannya dengan sudut pandang baru sebagai dongeng tentang bahaya kesombongan dan pentingnya menghormati orang tua.

“Kesombongan dan amarah hanya membawa kehancuran, sementara kebijaksanaan melahirkan kedamaian,” kata Heroe Budiarto, sutradara pementasan.

Dibungkus dengan nuansa folklor, nyanyian nina bobo, serta elemen musikal yang dekat dengan dunia anak-anak, pertunjukan ini semakin imajinatif berkat kostum bebas penuh warna. Menurut manajer produksi Dindy Indiyati, teater anak adalah salah satu cara BMS menjaga eksistensi di tengah tantangan regenerasi. “Kami ingin legenda Nusantara tetap hidup dan disukai anak-anak masa kini,” ujarnya.

Sejak berdiri pada 1972, BMS konsisten menjadi wadah seni lintas generasi. Ketika banyak sanggar seni lain bubar, BMS tetap bertahan lebih dari setengah abad. Kini, melalui teater anak, mereka kembali menghadirkan pesan budaya dan moral dengan cara kreatif.

“Hikayat Anak yang Sombong” menjadi bukti bahwa dongeng lama bisa tetap segar bila disajikan dengan kemasan baru. Di tengah derasnya arus budaya asing yang masuk tanpa filter, keberadaan BMS hadir sebagai oase penting bagi ekosistem seni-budaya lokal. Perhatian dan dukungan dari Pemerintah Kota Surabaya pun dibutuhkan agar kiprah BMS terus berlanjut sebagai penjaga tradisi sekaligus ruang kreatif generasi muda.(one/bms)

RELATED ARTICLES

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular