SABTU PAGI (20/9/2025), Alun-Alun Jombang ramai oleh riuh warga yang beraktivitas. Di antara keriuhan itu, ada seuntai kisah yang tak terduga: seorang anak kecil bernama Zuyu, yang sekejap terpisah dari pelukan ibunya, lalu menangis di tepi pos polisi.
Imah, sang ibu, kala itu sedang mengikuti kegiatan di Pendopo Kabupaten Jombang. Tanpa ia sadari, langkah kecil putrinya menjauh, melintasi keramaian, hingga akhirnya berhenti di depan pos jaga. Tangis lirih Zuyu menjadi pertanda kehilangan, suara yang segera mengetuk hati petugas yang tengah berjaga.
Polisi itu mendekat, menenangkan dengan tutur lembut, lalu bergegas mencari siapa gerangan orang tua sang anak. Tak butuh waktu lama, rantai komunikasi menghubungkan kepingan yang terpisah. Hingga akhirnya, di satu titik penuh haru, Zuyu kembali berada di dalam dekap Imah.
Pelukan itu erat, seperti janji tak terucap antara seorang ibu dan anaknya. Lutfi, ayah Zuyu, ikut larut dalam rasa lega. Air mata bahagia pecah, bercampur ucapan syukur. Kepada polisi yang sigap menjaga, keluarga kecil itu hanya mampu berbisik doa, semoga kebaikan selalu kembali pada mereka yang telah menolong.
“Selamat pagi komandan, terima kasih banyak. Anak saya sudah kembali dengan selamat. Jangan pernah lelah berbuat kebaikan. Semoga Allah selalu melindungi Bapak dan Ibu Polisi,” ucap keluarga Zuyu penuh haru.
Kapolsek Jombang Kota, AKP Mulyani, kemudian menegaskan, polisi hadir bukan sekadar penegak hukum, melainkan pengayom dan penjaga rasa aman. “Alhamdulillah anak bisa segera ditemukan dalam kondisi baik. Kami imbau orang tua lebih memperhatikan anak-anaknya di tempat ramai. Komitmen kami adalah pelayanan yang humanis dan responsif,” ujarnya.
Di balik peristiwa singkat itu, tersimpan makna yang dalam, bahwa keamanan bukan hanya soal hukum, tetapi juga soal kehangatan, perhatian, dan empati. Seorang anak kembali ke pangkuan ibu, dan masyarakat kembali percaya bahwa kebaikan masih berdenyut di tengah hiruk pikuk kota.(safrial)



