Friday, October 9, 2026
spot_img
HomeCatatan dari TepiCatatan dari Tepi : Dialog Separuh Kata

Catatan dari Tepi : Dialog Separuh Kata

Jejak yang Tersisa

SAYA MENGENALNYA bukan dari panggung yang ramai, bukan pula dari baliho atau sorot kamera yang biasa menelan nama seorang pekerja seni. Saya menemukannya dalam jejak-jejak kecil yang berserak di kota ini, patung di taman, serbuk semen yang tertinggal di ubin, dan aroma tanah lembap yang seakan masih menyimpan sisa sentuhan tangannya.

Dari sana saya tahu, ada tangan yang pernah sabar membentuk wajah sejarah, menanam simbol-simbol yang lebih jujur daripada slogan.

Ia tidak hanya membangun bentuk, tetapi juga menautkan lapisan ingatan kolektif ke udara. Seperti debu halus dari fiber yang beterbangan di cahaya sore, tak terlihat, namun selalu ada.

Namun waktu punya cara yang aneh untuk menguji manusia. Kini ia tak lagi hadir di ruang-ruang yang dulu riuh oleh gesekan amplas, bau cat pelapis, dan gumaman kecilnya saat memahat bentuk. Diam ini terasa dipaksakan, seperti jeda panjang yang lebih mirip koma daripada titik.

Musim Jeda

Waktu memang pandai menciptakan ironi.
Kadang ia menghadirkan panggung tanpa penonton, kadang menyingkirkan pemainnya sebelum babak terakhir usai.

Ia kini terkurung dalam musim yang aneh, bukan musim karya, bukan pula musim panen. Ada tembok yang tak perlu dijelaskan di antara dirinya dan dunia. Suara hari-hari terdengar dari jauh, seperti dengung mesin yang tak lagi punya makna.

Di dalam ruang sepi itu, waktu berjalan pelan. Mungkin terlalu pelan. Bau semen dan tanah kering masih menempel di kulit ingatan, tapi tak ada lagi cetakan baru, tak ada patung yang lahir dari tangan yang dulu sabar menakar bentuk.

Ia tidak sedang berhenti karena lelah, tetapi karena sesuatu di luar dirinya telah menahan langkah. Dan di situlah absurditas itu tumbuh, antara keyakinan dan kesunyian, antara keinginan untuk menjelaskan dan kesadaran bahwa tak ada penjelasan yang benar-benar utuh.

Kami yang pernah mengenalnya tahu betul, ia bukan orang yang pandai berbicara dalam bahasa sistem. Ia lebih akrab dengan sunyi, dengan bentuk yang tumbuh dari tanah, dengan kesetiaan pada proses yang tak selalu dimengerti.

Kini, tangan itu diam, tetapi diamnya menyimpan gema yang tak bisa disangkal.
Mungkin dari keterasingan inilah ia sedang menciptakan karya lain, karya yang tak terbuat dari semen atau fiber, melainkan dari permenungan itu sendiri.

Dialog Separuh Kata

Saya masih mengingat, satu sore yang anehnya terasa lebih hidup dari sore-sore lain. Kami duduk melingkar di salah satu ruang rapat sebuah kantor dinas, ruang yang dinginnya kering, tapi penuh kepulan asap rokok yang tak kuasa dicegah. AC di sudut ruangan mendengung pelan, kalah oleh suara orang-orang yang berbicara dengan nada setengah letih, setengah bercanda.

Di atas meja dia, ada sketsa pensil bergambar sebuah galeri, ia mengapit batang rokok diantara jarinya. Meski tatapannya mengarah ke layar proyektor, tapi dari sorot matanya, bisa jadi pikirannya mengembara ke tempat lain, ke tanah liat, ke serbuk semen, ke bentuk-bentuk yang hanya bisa ia pahami sendiri.

Pembicaraan sore itu berjalan seperti biasa, rencana, konsep, evaluasi, dan serangkaian istilah birokratis yang sering kehilangan jiwa.

Lalu, selepas rapat, tiba-tiba ia bersuara pelan, hampir tak terdengar di antara dengung pendingin udara.

“Asap ini kadang lebih jujur daripada kita,” katanya sambil menghembuskan perlahan.

Saya menoleh dan menatapnya. Ia tersenyum kecil, lalu menambahkan,
“Kadang aku merasa, karyaku bukan untuk hari ini. Hari ini menolak, tapi suatu saat nanti orang akan mengerti.”

Asap menebal di bawah cahaya lampu yang lelah, seolah ikut menahan napas. Tak ada yang menimpali. Hanya bunyi pena yang diletakkan seseorang di meja, pelan sekali.

Saya tertawa kecil, bukan karena lucu, tapi karena tak tahu harus menjawab apa.
Kata-kata itu menancap, sederhana, tapi menggema. Seperti doa yang dilepaskan tanpa alamat, berharap menemukan takdirnya di udara.

Tapi di kepala saya, kalimatnya berulang seperti gema dari tempat jauh. Mungkin memang begitu cara kerja orang seperti dia. Menyampaikan sesuatu bukan untuk menjelaskan, tapi untuk meninggalkan tanda yang tak lekang oleh waktu.

Koma yang Panjang

Keheningan yang ia jalani bukan berarti karyanya hilang. Sebagian masih berdiri di taman-taman kota, di pelataran gedung, atau di halaman sekolah. Sebagian lain hanya tersisa di foto, atau di etalase kecil yang menampilkan patung-patung fiber ukuran mini sebagai cinderamata. Sisanya hidup di benak orang-orang yang pernah menyaksikan atau menyentuhnya.

Ingatan itu memang retak, kadang samar, tapi tidak pernah benar-benar sirna. Seperti bayangan pohon tua yang menahan musim. daunnya gugur, tetapi akarnya masih bekerja di bawah tanah. Ia tidak mati. Ia hanya menahan diri, menunggu datangnya musim berikutnya.

Bagi saya, ini adalah koma panjang. Tanda baca yang memberi ruang bernapas, bukan titik penutup.
Saya percaya, imajinasi di kepalanya masih berdesakan, hanya saja workshop-nya belum siap menerima debu dan warna baru.

Ruang Kosong

Saya kembali teringat pada perbincangan singkat itu, sebuah dialog separuh kata. Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, dan saya pun tidak memberi jawaban panjang. Namun justru dalam jeda itulah makna terasa lebih utuh.

Betapa sering kita mengira percakapan hanya sahih jika kata-kata lengkap diucapkan, padahal dunia juga bergerak dengan bahasa yang lebih sunyi, desah napas, sentuhan pada permukaan tanah liat, atau tatapan yang menunggu pengertian.

Pertanyaan yang Menggantung

Hidup, pada akhirnya tak pernah berjalan lurus. Ada masa ketika tubuh tak lagi mampu mengikuti semangat yang berkobar. Ada masa ketika kata-kata yang dulu deras kini tersendat, jatuh separuh jalan.

Bagi sebagian orang, itu kekalahan. Namun bagi saya, itu justru bentuk jeda, ruang untuk menyembuhkan, ruang untuk mendengar hal-hal yang selama ini tenggelam dalam riuh kesibukan.

Dari tepi, saya hanya bisa mencatat semuanya dengan tawa kecil. Bukan karena lucu, tetapi karena saya tahu betapa hidup sering berputar di luar kendali.

Senyum retak itu, percakapan separuh kata itu, diam yang panjang itu, semuanya adalah bagian dari karya yang lebih besar. Sebuah karya yang tak terlihat, namun terasa.

Saya menutup catatan ini bukan dengan titik, melainkan dengan koma. Karena saya percaya, ia belum selesai, dan waktu pun belum selesai menilai karyanya.

Mungkin dari diam ini akan lahir kata-kata baru yang lebih jernih, lebih tulus, lebih abadi.

Pertanyaannya hanya satu. Apakah kita masih sanggup mendengar diam sebagai bagian dari dialog? (ridwan)

Catatan dari Tepi
Sebuah renungan bagi mereka yang bekerja dalam kesunyian, yang percaya bahwa keindahan tak selalu lahir dari sorotan, melainkan dari ruang-ruang samar di antara kesetiaan dan keterbatasan
.

RELATED ARTICLES

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular