SAYA menerima beberapa artikel menjelang Hari Sumpah Pemuda. Sebagian ditulis dengan semangat membara, dengan gaya puitis yang berusaha menghidupkan kembali momen 1928.
Namun, saya menahan diri untuk tidak menayangkannya. Bukan karena tak menghargai semangat itu, melainkan karena satu hal sederhana tapi mendasar. Ada yang ganjil di balik semangat itu, sebuah kekosongan yang sulit diabaikan: ketiadaan sumber.
Beberapa tulisan tampak begitu piawai merangkai masa silam. Adegan-adegan hidup kembali; percakapan diciptakan dengan keyakinan penuh; tokoh-tokohnya berjalan, menatap, berjuang, seolah penulisnya menjadi saksi mata di tengah pusaran sejarah.
Kisah-kisah itu indah, bahkan nyaris membuat kita percaya. Namun begitu halaman terakhir ditutup, yang tertinggal hanyalah satu pertanyaan sederhana:
dari mana semua keyakinan itu bersumber?
Tak ada arsip yang disebut. Tak ada kutipan, tak ada catatan kaki. Hanya imajinasi yang menjelma menjadi pembenaran. Kita lupa bahwa mencintai sejarah tanpa disiplin akan membuat cinta itu berubah menjadi ilusi.
Terlalu sering sejarah diperlakukan seperti panggung rasa, bukan ruang pengetahuan. Ia dijadikan wadah untuk membuktikan kebanggaan, bukan untuk menyingkap kebenaran.
Padahal, menulis sejarah sejatinya bukan tentang siapa yang paling fasih bercerita, melainkan siapa yang paling jujur menelusuri jejak. Ia menuntut kerendahan hati untuk mengakui: “aku tidak tahu segalanya.”
Ia menuntut kesabaran untuk menimbang, memilah, dan memeriksa setiap sumber dengan kritis. Sebab sejarawan sejati tak menulis apa yang ia yakini, tetapi apa yang dapat ia buktikan.
Menulis tentang masa lalu tanpa dasar sumber ibarat menggambar peta dari ingatan yang kabur. Kita merasa sedang menunjukkan arah, padahal bisa saja sedang menyesatkan banyak orang.
Zaman ini, yang memuja kecepatan dan sensasi, memberi panggung luas bagi “kisah heroik” yang indah, namun rapuh dasarnya.
Media sosial kerap lebih menyukai gaya naratif ketimbang akurasi data. Fakta dan fiksi pun makin sulit dibedakan. Kita lebih mudah tersentuh oleh kisah yang memesona, daripada oleh kebenaran yang dingin dan telanjang.
Padahal sejarah tidak diciptakan untuk meninabobokan. Ia hadir untuk membangunkan kesadaran, bahwa masa lalu bukan sekadar cerita, melainkan cermin dari tanggung jawab kita pada masa kini.
Menulis sejarah, sejatinya, adalah menulis ulang ingatan kolektif. Setiap kalimat yang kita tulis ikut menentukan bagaimana bangsa ini mengingat dirinya.
Jika ingatan itu disusun dari dugaan dan emosi semata, maka yang lahir bukan kesadaran, melainkan kebingungan. Kita mungkin merasa bangga, tapi kehilangan pijakan yang nyata.
Sumpah Pemuda bukan hanya ikrar persatuan, melainkan perwujudan keberanian intelektual. Para pemuda kala itu berpikir dengan jernih, membaca zaman dengan hati, dan menulis sejarah dengan tanggung jawab moral terhadap bangsanya.
Dari merekalah kita belajar, bahwa cinta tanah air tak selalu berteriak lantang, kadang ia hadir dalam bentuk sederhana, seperti menulis sejarah dengan jujur.
The past is never dead. It’s not even past.
— William Faulkner
Masa lalu tak pernah benar-benar berlalu.
Ia berdiam di antara kita, menatap dari balik kata, menunggu untuk ditulis dengan kejujuran.
Dan di zaman ketika segalanya begitu mudah disalin dan disebar, mungkin kejujuran, lebih dari apa pun, adalah bentuk baru dari perjuangan.
Selamat Hari Sumpah Pemuda !!
Pemuda Pemudi Bergerak Indonesia Bersatu.
(Ridwan)



