Friday, October 9, 2026
spot_img
HomeSerba-serbi“Untold Story”: Nugroho Agung Prasetyo dan Cerita-cerita Senyap di Balik Krisis

“Untold Story”: Nugroho Agung Prasetyo dan Cerita-cerita Senyap di Balik Krisis

Di tengah gegap-gempita industri kreatif dan derasnya arus informasi digital, ada sisi yang jarang tersorot: kerja senyap para praktisi Public Relations (PR).

Mereka adalah penjaga reputasi yang bekerja di balik layar, menata persepsi, menenangkan krisis, dan menjaga kepercayaan publik di saat paling genting.

Itulah dunia yang coba dibuka oleh Nugroho Agung Prasetyo, praktisi sekaligus akademisi komunikasi, dalam bukunya “Untold Story – Strategi Public Relations di Industri Kreatif”. Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama – M&C, buku setebal 367 halaman ini bukan hanya kumpulan teori komunikasi, melainkan jembatan antara teori dan praktik di lapangan.

Dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di dunia media dan industri kreatif, Nugroho mengangkat kisah-kisah PR yang jarang terungkap, jujur, reflektif, dan penuh pelajaran strategis. Buku ini, kata banyak kalangan, adalah bacaan wajib bagi mahasiswa komunikasi, praktisi PR, content creator, hingga jurnalis yang ingin memahami “dapur” komunikasi korporat sesungguhnya.

“Buku ini bukan sekadar panduan teknis.Ini catatan dari dapur kerja PR di industri, tentang dilema, keputusan penting, dan strategi komunikasi yang tak pernah muncul ke permukaan. Dalam krisis, PR tidak hanya bicara; ia mendengar, merasakan, dan bertindak.” ujar Nugroho, Senin (3/11/2025).

Salah satu kisah di awal buku menceritakan peristiwa demonstrasi anti-pornoaksi terhadap dua stasiun televisi nasional pada awal 2000-an. Saat publik menuding media sebagai biang degradasi moral, tim PR justru memilih pendekatan empatik. Mereka mendatangi para pengunjuk rasa sambil membawa tenaga medis untuk membantu demonstran yang kelelahan di bawah terik matahari. Tindakan sederhana itu menjadi simbol komunikasi yang kuat, bahwa empati bisa jauh lebih berpengaruh daripada pernyataan pers.

Ada pula cerita ringan namun sarat makna, tentang seorang anggota militer yang menelepon untuk meminta salinan telenovela. Sang PR muda kala itu menjelaskan batasan hak cipta bukan dengan nada birokratis, tetapi dengan bahasa empatik. Alih-alih kecewa, sang penelepon justru memahami dan menghargai keputusannya. Sebuah pelajaran kecil bahwa kepercayaan publik sering kali lahir dari cara kita berbicara, bukan dari apa yang kita ucapkan.

Dalam bab-bab lainnya, Nugroho menyingkap dinamika saat produk kreatif menghadapi resistensi sosial dari kelompok berpengaruh.

“Kami tidak sedang membuka konfrontasi untuk menambah lawan,” kenangnya.

“Justru kami merasa harus mendekat, mendengar, dan belajar bersama. Bukan berbicara untuk merasa paling benar, tetapi mencari solusi agar kami tetap tumbuh tanpa mencederai kepercayaan siapa pun,” cetusnya.

Setiap bab dalam Untold Story dibangun di atas dua fondasi: pengalaman nyata dan teori komunikasi klasik seperti Two-Way Symmetrical Model (Grunig & Hunt), Agenda Setting Theory, hingga Narrative Paradigm (Walter Fisher). Semua teori itu dihidupkan dalam konteks praktis—di ruang redaksi, meja rapat krisis, hingga panggung industri hiburan yang penuh tekanan.

Tak heran bila para akademisi komunikasi menaruh perhatian besar.
Boy Kelana Soebroto, Ketua Umum Perhumas, menilai buku ini

“menghadirkan perspektif kaya dengan studi kasus dan solusi praktis,” tuturnya.

Sementara Prof. Dr. Dadang Rahmat Hidayat, Ketua ISKI dan Dekan Fikom UNPAD, menyebut karya ini

“sangat penting bagi praktisi maupun akademisi, karena lahir dari pengalaman mendalam di dunia penyiaran yang penuh dinamika,” katanya.

Lebih dari sekadar catatan profesi, Untold Story menampilkan wajah PR yang manusiawi, profesi yang menuntut empati, sensitivitas sosial, dan kemampuan membaca situasi di antara fakta dan persepsi.

“Setiap krisis menyimpan pelajaran. Setiap cerita adalah strategi,” tulis Nugroho.

“PR bukan tentang menyelamatkan citra saja, tapi tentang membangun kepercayaan, menjaga keseimbangan antara apa yang benar, apa yang dipercaya publik, dan bagaimana kita menyampaikannya dengan hormat,” ujarnya.

Sebagai Associate Director di perusahaan konsultan PR, sekaligus pengurus ISKI Pusat, Nugroho Agung Prasetyo telah lama berkecimpung di berbagai forum komunikasi profesional—mulai dari Perhumas, APPRI, hingga komunitas Humas Muda. Melalui buku ini, ia mengajak pembaca menengok realitas dunia PR yang jarang terlihat: ruang senyap di mana strategi, etika, dan empati diuji setiap hari. (one/sst)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular