Saturday, October 10, 2026
spot_img
HomeSosial BudayaSecangkir Kopi, Dua Antologi, dan Kembalinya Dua Jurnalis ke Dunia Cerpen

Secangkir Kopi, Dua Antologi, dan Kembalinya Dua Jurnalis ke Dunia Cerpen

AROMA KOPI menguar dari sudut Quds Coffee Corner, menyatu dengan denting keroncong yang mengalun pelan. Di ruangan yang didominasi nuansa Jawa tempo dulu itu, dua jurnalis senior, Imung Mulyanto dan Sasetya Wilutama, berdiri berdampingan. Keduanya tersenyum, saling menepuk bahu, menandai peluncuran dua antologi cerpen yang menjadi literasi terbaru mereka: “Runtah” dan “Wali Katon.”

Bagi Imung, peluncuran ini bukan sebatas menambah judul buku yang pernah ia terbitkan. Di usia yang tak lagi muda, ia menapaki babak baru sebagai penulis fiksi. “Setelah tak lagi dikejar deadline, saya punya lebih banyak waktu untuk kontemplasi,” ujarnya. Hasil perenungan itu tertuang dalam sembilan cerpen yang ia sebut sebagai cerpen jurnalistik, perpaduan antara fakta dokumentatif dan imajinasi.

Cerpen-cerpen dalam “Runtah” tidak hanya berbicara tentang tokoh dan peristiwa. Ia memotret fragmentasi sosial, mulai dari tukang becak hingga direksi perusahaan, dan menyelipkan isu kontemporer seperti restoratif justice atau layanan BPJS. Di baliknya, ada pertanyaan yang berulang: bagaimana fiksi bisa tetap berpijak pada kenyataan?

Sementara itu, “Wali Katon” hadir sebagai momentum kebangkitan bagi Sasetya Wilutama. Ia menyebut buku ini sebagai tanda “bangun tidur”—metafora untuk kembalinya ia ke dunia kepenulisan setelah bertahun-tahun larut dalam rutinitas kerja televisi. Cerita-cerita pendek dan cekak berbahasa Jawa dalam bukunya adalah cara ia menyapa ulang pembaca yang pernah mengenal tulisannya di majalah Penyebar Semangat.

Acara peluncuran berlangsung di Quds Royal Hotel, Surabaya, pada Rabu (17/12), dalam balutan festival “Secangkir Kopi, Sejuta Ide.” General Manager hotel, RM Pungky Kusuma, menjadikan panggung literasi ini bagian dari upaya memperluas rumah bagi para seniman. Ia memadukan peluncuran buku dengan pameran lukisan “Bingkai Masa” serta musik keroncong, menjadikan suasana malam itu terasa hangat sekaligus akrab.

Yang hadir tidak hanya penikmat literasi. Ada seniman teater, pelukis, jurnalis, dan masyarakat yang sekadar ingin menghirup aroma kopi sambil menyerap ide. Busana Jawa tempo dulu membuat para tamu seakan melangkah mundur ke masa silam—sebuah simbol kecil tentang bagaimana karya sastra sering kali bekerja: membawa kita pulang ke memori lama, sekaligus mendorong kita menatap masa depan.

Peluncuran dua antologi ini bukan hanya penanda produktivitas seni dua jurnalis veteran. Lebih dari itu, ia menunjukkan bahwa fiksi dan fakta tidak harus berada di dua ujung kutub; keduanya dapat saling menguatkan. Ditulis oleh tangan yang puluhan tahun terbiasa merekam kenyataan, cerpen-cerpen ini mencoba membuktikan bahwa jurnalisme tidak mati ketika berganti wujud menjadi sastra.

Pada akhirnya, di tengah festival kopi dan pameran lukisan, ada yang lebih hangat dari secangkir minuman, yakni semangat dua penulis untuk tidak berhenti berkarya.

Sebuah pesan sederhana bagi yang hadir malam itu: selalu ada waktu untuk kembali. Bahkan setelah tertidur lama. Bahkan setelah ratusan deadline berlalu. (one/sst)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular